widgeo.net

Minggu, 15 Februari 2015

CONFESSION OF A FRIEND | Part 2


Cast           : Kim Jong Woon aka Yesung Super Junior
                     Lee Soyoung (OC)
                     Jung Rae Ah (OC)
Supports: Kim Ryeowook
                     Lee Donghae
                     Kim Jongjin
Genre       : Romance, Sad, Friendship
Length     : Series
Rated        : 17 +
Author     : RinPanda
Disclaimer : Sebelumnya aku berterima kasih buat semua yang udah bersedia membaca tulisan berantakanku dari cerita ini di part 1 J ceritanya gaje ya?? Hahaha aku juga merasa seperti itu, tapi aku harap di part ini ceritanya gak mengecewakan kalian. Ini baru awal alur sebenarnya masih aku simpan untuk part selanjutnya. Tapi semoga gak terkesan membosankan buat kalian. Okee,,, peringatan utama dari aku adalah berhati-hatilah ranjau masih bertebaran di part ini heheheh XDDD
Background Song            :
1.       Confession of A Friend – 2AM
2.      For One Day - Yesung
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Dan haruman dan haruman
(For one day, just for one day)
geudael jiuryeo haebwado
(Thought I fight to erase you from my mind)
Seupgwancheoreom babocheoreom
(But like a habit, and I’m like a fool)
dasi tto nunmuri najyo
(Again, again my tears fall)


Seoul International Hospital
Soyoung menyandarkan punggungnya lelah di kursi ruang periksanya. Dia baru saja selesai melakukan pemeriksaan ulang pada pasiennya, seorang anak kecil penderita kanker. Dia harus melakukan Pet CT Scan serta pemeriksaan laboratorium ulang untuk mengetahui letak kanker itu berada dan sudah sejauh mana penyebaran anak kanker pada tubuh pasiennya itu. Hal ini memang memakan waktu yang tidak sebentar, terlebih lagi kondisi anak itu masih histeris karena takut melihat peralatan kedokteran di depannya. Namun bukan itu yang menjadi ganjalan dalam pikirannya saat ini, pesan masuk yang dikirimkan oleh ibunya lah yang membuat Soyoung benar-benar kehilangan semangatnya.
           
            Sayang, eomma tahu kau sangat sibuk di rumah sakit, tapi eomma harap malam ini kau dapat meluangkan waktu untuk makan malam bersama dengan keluarga Kim. Kami akan membahas mengenai persiapan pertunangan Rae Ah. Donghae akan menjemputmu nanti sore.

Ini sudah dua minggu sejak pengumuman pertunangan antara Kim Jongwoon dan Jung Rae Ah. Dan selama dua minggu itu, Soyoung selalu menghindar dari pembicaraan mengenai persiapan pertunangan. Hotel yang digunakan, jumlah tamu undangan dalam pesta pengikatan tali asmara dua sejoli itu bahkan kapan tepatnya pertunangan itu diadakan dia tak tahu sama sekali. Kalau boleh memilih Soyoung lebih ingin tetap berada di rumah sakit, tidak menghadiri acara makan malam itu. Tentu saja dia menyadari berada dalam acara itu hanya menaburkan garam di hatinya. Harus diakui Soyoung, dia merindukan Jongwoon. Dia ingin sekali menatap wajah tampan namja itu lagi, sejak kembali ke Korea baru sekali tempo hari lalu saja dia bertemu Jongwoon, setelahnya dia menghindar dan beralasan sibuk dengan pasien-pasiennya.

Seandainya acara ini bukan mengenai pertunangan itu, eomma, keluhnya sedih. Soyoung menghela napas panjang mencoba meredakan nyeri di hatinya. Dia menyadari hatinya masih terikat pada sosok tampan mempesona itu. Namja yang sejak awal merebut hatinya dan menjadi cinta pertamanya. Sadarlah, Lee Soyoung, takdir sedari awal telah menentukan Jongwoon bukan untukmu. Tak malukah dirimu mengharapkan cinta dari namja yang sebentar lagi akan terikat dengan gadis yang telah berjasa dalam hidupmu? Batinnya terus memperingatkannya. Soyoung kembali menghela napas, menatap kosong dinding aquatic di depannya. Angannya melayang jauh di masa dia bertemu Jongwoon ketika dia seorang remaja lugu yang masih terlalu polos untuk jatuh cinta.

~Flashback On~
Seorang gadis bertubuh bulat masuk ke dalam ruang latihan ballet yang sedang diadakan seleksi pemilihan ballerina untuk perayaan kesenian yang selalu diadakan setiap tahun oleh sekolahnya. Gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari seseorang. Kemudian matanya menangkap sosok seorang gadis seusianya yang dicarinya di seberang tempatnya berdiri saat ini.

“Rae-ya…” serunya keras tak menyadari dimana dia sedang berada sekarang.

Tiba-tiba semua orang yang berada dalam ruangan itu berhenti dari aktivitas mereka dan menatapnya aneh. Jung Rae Ah, gadis cantik nan penuh pesona ini hanya mendengus kesal mendengar teriakan gadis bulat itu. Kemudian dengan rasa malu yang luar biasa, Rae Ah menyeret gadis gemuk itu keluar dari ruang ballet.

“Youngie, sudah berapa kali kukatakan kau jangan pernah datang ke ruang ballet, hah? Aku sudah berkali-kali bilang bukan. Tiap kali kau muncul di kelas ballet hanya membuatku malu. Atau kau memang ingin mempermalukan aku di hadapan semua teman-temanku?” omel Rae Ah kasar pada Soyoung, gadis bertubuh bulat itu. Wajah cantiknya memerah karena rasa marah dan malu.

“Mianhae, Rae-ya! Aku datang untuk ikut kelas ballet juga. Aku ingin belajar ballet bersamamu.” Soyoung menundukkan kepalanya merasa menyesal membuat Rae Ah terganggua. Dia tahu kedatangannya pasti akan memancing kemarahan Rae Ah. Dia sangat menyadari bahwa Rae Ah malu bila berdekatan dengannya.

“MWORAGO‼‼” Rae Ah berteriak gusar dengan suara tinggi yang membuat semua orang yang mendengarnya menutup telinga mereka. “Gadis bodoh Kau benar-benar ingin mempermalukanku, hah? Kau datang ke kelas ballet saja teman-temanku sudah mencelaku habis-habisan. Lalu apa yang akan aku terima kalau kau juga bergabung di kelas ballet, hah? Bukan hanya mereka yang mencelaku, tapi seluruh sekolah akan menghinaku, Lee Soyoung!!” teriaknya lagi dengan suara yang melengking tinggi.

“Anni, bukan seperti itu, Rae-ya! Hanya saja aku ingin menjadi ballerina sepertimu. Aku ingin membuat eommaku bangga. Selama ini eomma sangat ingin aku belajar ballet, sekali saja untuk eommaku, kumohon.”

“Kau benar-benar tak tahu diri, Youngie! Kau harusnya menyadari siapa dirimu. Kau pikir ada seseorang yang menjadi ballerina memiliki tubuh bulat sepertimu, hah?” bentak Rae Ah berkacak pinggang. Matanya mendelik marah memandang Soyoung. Kepalanya benar-benar hampir meledak mendengar permintaan tak tahu diri dari gadis bodoh di hapadannya itu.

“Arraseo! Tapi…”

“Sudahlah kalau memang kau ingin bergabung di kelas ballet bergabung saja. Tapi aku akan keluar dari kelas ballet selamanya.”

“Rae-ya jangan seperti itu. Kau adalah ballerina terbaik. Jangan sia-siakan bakatmu.” Bujuk Soyoung pelan. “Arraseo! Aku mengerti. Aku tidak akan meminta bergabung lagi dengan kelas ballet. Tapi aku mohon jangan keluar dari kelas ballet.” Soyoung melangkah menjauh dari Rae Ah dengan gontai. Kepalanya menunduk menyembunyikan airmata yang mulai membasahi pipi gemuknya. Dia tahu sampai kapanpun dia takkan bisa bergabung di kelas ballet. Bukan salah mereka. Tentu saja Rae Ah benar, dimana ada ballerina bertubuh bulat bak badut seperti dirinya.

Soyoung terus berjalan hingga kakinya berhenti di taman belakang sekolahnya yang sunyi. Hari ini jam pelajaran sudah selesai sehingga sudah tidak ada orang lain lagi di taman itu. Sunyi. Suasana seperti inilah yang selalu mampu membuatnya tenang dikala hatinya bersedih. Untuk gadis remaja seusianya, Lee Soyoung memang seorang yang pendiam dan tertutup. Dia tidak memiliki banyak teman, sehingga hanya menyendiri di taman inilah caranya mengurangi kesedihannya. Namun kesedihannya kali ini sungguh yang paling menyakitkan. Jung Rae Ah, sahabat yang sudah dia anggap saudaranya sendiri menolaknya untuk bergabung di kelas ballet karena malu dengan kondisi badannya yang bengkak. Menyakitkan memang, namun itulah kenyataan yang ada.

“Ige…” seseorang menyodorkan dua lembar tissue pada Soyoung yang masih menangis. “Kau sangat jelek kalau menangis terus.” Ujarnya lagi sambil memposisikan dirinya duduk di samping Soyoung. Dia menoleh menatap Soyoung dengan alis berkerut dan kemudian menggelengkan kepala. Gadis keras kepala! Pikirnya.

“Ryeowook-ah!” gumamnya lirih ketika dilihatnya siapa yang memberikannya tissue. “Gomawo, Wookie.” Soyoung menerima tissue itu dan menghapus airmata dipipinya. “Kau kenapa masih di sini? Bukankah pelajaran sudah berakhir satu jam lalu?”

“Aku tadinya sudah akan pulang. Tapi saat keluar dari kelas aku melihatmu bicara dengan Rae Ah.” jawab Ryeowook santai. Dia menoleh pada Soyoung yang masih menatapnya dan tersenyum simpul. “Rae Ah terlihat marah tadi. Pasti masalah ballet lagi, kan? Soyoungie, aku heran mengapa kau sangat ingin bergabung dengan kelas ballet?”

Soyoung tidak menjawab pertanyaan Ryeowook, dia hanya menunduk dan berusaha menyembunyikan air matanya. Kalau saja dia bisa seperti Rae Ah mungkin dia tidak akan terlihat begitu menyedihkan seperti ini.

“Hey! Uljima jangan menangis.” Ryeowook mengusap lembut pipi Soyoung, menghapus airmata yang kembali membasahi pipi bulat itu. “Kau tahu, Youngie? Semua orang memiliki bakatnya sendiri-sendiri. Rae Ah memang sangat berbakat ballet dan kau memang tidak bisa ballet. Tapi, kau memiliki yang Rae Ah bahkan murid lain tidak miliki. Kau murid yang cerdas. Selalu mendapatkan nilai terbaik dan prestasi bagus. Menurutku itu sangat luar biasa daripada ballet.”

“Hanya menurutmu, Wookie. Tapi orang lain melihatku sebagai orang yang tidak ada artinya.”

“Bukan hanya itu. Kau juga pandai bermain piano dan bernyanyi. Tidak semua orang bisa bernyanyi merdu bukan?”

“Suaraku tidak sebaik suaramu, Wookie-aa”

“Sudahlah! Kajja ikut aku sekarang!” dengan cepat Ryeowook menarik tangan Soyoung untuk mengikutinya. “Kita bermain musik saja daripada kau terus menangis. Aku punya seorang guru musik yang sangat luar biasa. Dia akan banyak membagi ilmunya dengan kita.” Ujarnya lagi dengan tersenyum menghiasi wajah polosnya. Yah seperti itulah Ryeowook, hanya dia yang selalu menghibur Soyoung. Hanya dia satu-satunya teman yang paling memahami Soyoung.


Kkwae o rae dwaesseo nae mami jogeum ssig byeon hagi shijak hanji
(ini sudah cukup lama, semenjak hatiku secara perlahan mulai berubah)
honja seo goerowo hanji
(dan saat aku mulai merasa sendirian)
eonje buteon gani gabol ttaemada

(Dari titik tertentu setiap kali aku melihatmu)
neoreul ulli neun namjaga neomu nami wosseo
(Aku benci  pria yang telah membuatmu menangis)

Charari naega neoljiki neunge

(Terkadang aku ingin tahu apakah lebih baik)
na eul jido moreun daneun saenggagi

(jika sebagai gantinya aku yang melindungimu)
ije neun naega neol ana jugo

(Mulai sekarang, daripada membiarkanmu pergi)
sarang hae jugosipdan saenggagi deureosseo
(aku ingin mulai mencintaimu)

“Itu lagu yang sangat indah, Ryeowookie, kenapa kau baru menyanyikannya sekarang eoh?” Seseorang mengagetkan Ryeowook dan Soyoung yang sedang bernyanyi dengan memainkan piano di sebuah penthouse kecil di pinggiran kota Seoul. Entah kapan orang itu datang, tiba-tiba saja dia sudah bersandar dengan santai di pintu utama penthaouse dengan melipat tangannya di dada.

“Ah, Hyung kapan kau datang? Aku tidak menyadarinya?” Ryeowook bertanya heran begitu melihat Jongwoon di penthouse itu. Dia tahu Jongwoon itu makhluk aneh sering muncul dengan tiba-tiba, tapi tetap saja tingkah laku Jongwoon selalu membuatnya terkejut. Kapan Jongwoon hyung datang? Pikirnya bingung.

“Kau membuatku membuang waktuku selama 2 jam, anak muda! Dan dengan tanpa bersalah sedikitpun kau masih bertanya kapan aku datang?” Jongwoon memicingkan matanya. Dia merasa kesal pada namja bertampang polos di depannya ini. Berani-beraninya namja muda ini membuatnya menunggu hingga hampir mati bosan. Sungguh keterlaluan! “Jadi kau terlambat untuk pacaran dulu? Hebat! Benar-benar hebat!” sindir Jongwoon, matanya melirik sebentar Soyoung yang berdiri di samping Ryeowook. “Kalau kau ada jadwal untuk menemui pacarmu hari ini, tidak perlu meneleponku untuk datang ke tempat ini.” Cecarnya lagi.

“Ahh,, Hyung jeongmal mianhae. Bukan begitu! Hanya saja tadi….” Ryeowook terdiam. Dia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana, dan Ryeowook cukup peka untuk mengetahui bahwa namja yang dipanggilnya Hyung itu dalam mood yang buruk. Dia melirik Soyoung dan berdeham pelan. “Hmm.. Hyung, kenalkan dia temanku. Kami satu kelas dan mulai hari ini dia belajar musik bersamaku.” Ryeowook menarik Soyoung mendekati Jongwoon. “Tidak apa-apa kan Hyung dia belajar bersamaku?”

“Siapa namamu?” Jongwoon bertanya tanpa merubah ekspresi wajahnya sedikitpun. Dingin. Gersang dan acuh tak acuh. Bahkan nada suaranya sama sekali datar tak bersahabat. Jongwoon kembali menatap gadis di depannya ini. Dia belum pernah bertemu gadis ini, tapi sepintas wajah gadis ini sudah sangat familiar untuknya hanya saja pipinya lebih bulat. Jongwoon mengerutkan alisnya.

“Lee Soyoung… Lee Soyoung imnida.. ”Soyoung menjawab dengan tergagap. Dia sedikit malu ketika matanya beradu pandang dengan mata tajam Jongwoon sehingga dia hanya menundukkan kepalanya. Tampan! Dia sangat tampan, pikir Soyoung jujur tapi sikapnya dingin sekali. Soyoung merasa bersalah pada Ryeowook karena harus menghiburnya, namja ini terlambat datang ke pelajaran musiknya. “Jeongmal mianhae… aku yang meminta Wookie untuk….”

“Berlatih sungguh-sungguh!”
“Ne??”

“Berlatih sungguh-sungguh! Kalau kalian belajar musik bersama hanya untuk pacaran lebih baik kalian tinggalkan tempat ini. Tapi bila kalian ingin tetap di sini belajar dan berlatih sungguh-sungguh, jangan terlambat lagi!” tanpa mendengarkan Soyoung menyelesaikan perkataannya Jongwoon memberi perintah tegas tak terbantahkan. Setelah itu dia meninggalkan penthouse itu tanpa menoleh pada dua remaja yang mematung di belakangnya.

“Dia galak sekali!” gumam Soyoung mengernyitkan hidungnya. Matanya masih saja betah memandangi kepergian Jongwoon yang semakin menjauh dari penthouse. Wajahnya tampan tapi kata-katanya ketus sekali! “Apa dia selalu mengajar musik dengan ekspresi datar dan dingin seperti itu, Wookie-ah?” Soyoung berpaling kembali pada piano yang mereka tinggalkan tadi. “Aku tidak mau belajar musik kalau gurunya galak seperti itu. Apakah namja tampan selalu galak seperti dia?”

“Jangan menyerah begitu, Youngie! Sebenarnya Jongwoon hyung itu sangat baik, dia penuh perhatian dan ramah. Dia sepertinya benar-benar kesal karena menunggu di tempat ini sendirian. Jongwoon hyung benci kesendirian, dia akan merasa bosan bila hanya seorang diri di suatu tempat.” Ryeowook membujuk Soyoung. Ah ini hari pertama Soyoung belajar musik dan dia sudah memberi label pada Jongwoon sebagai ‘Guru Galak’. Ckckckc… “Eh tunggu! Tadi kau mengatakan apa? Namja tampan selalu galak? Yaaak,, Lee Soyoung apa itu sebuah pujian untuk Jongwoon hyung? Ah kau mau aku mengadu padanya kalau kau mengatakan dia tampan tapi galak?” goda Ryeowook geli menyadari pujian tampan yang diberikan Soyoung pada Jongwoon.

“Yaak, Kim Ryeowook! Aish!” Soyoung berseru kesal, kemudian menundukkan kepalanya, wajahnya merona merah menyadari kebodohannya memuji Jongwoon tampan. “Siapa tadi namanya?” Soyoung menoleh pada Ryeowook lagi yang masih terkekeh geli dengan tingkah temannya ini.
“Namanya Kim Jongwoon, dia mahasiswa Kyonggi University, dia mengambil dua fakultas sekaligus. Commerce Faculty dan Digital Music Faculty di universitas tersebut. Kau tahu dia meski terlihat dingin tapi sebenarnya dia sangat baik dan lembut, dia juga sangat cerdas, suaranya juga sangat bagus. Semua orang langsung terkesima bila mendengar dia bernyanyi.” Ryeowook menjelaskan segala hal tentang Kim Jongwoon dengan penuh kebanggaan. Seolah yang dia jelaskan itu naskah kerjasama bernilai jutaan won.

Namja yang sempurna! Kembali Soyoung menekuni hobi barunya melamun mengenai Jongwoon. Tanpa dia sadari senyuman manis kembali terukir dibibirnya. Dia tampan! Cerdas! Dan berbakat dalam musik! Entah mengapa berpikir mengenai Kim Jongwoon menjadi hal wajib mulai hari ini untuknya. Ryeowook yang sedari tadi memperhatikan Soyoung hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
*****

Soyoung tiba di penthouse itu, tempat yang sudah lebih dari seminggu ini dia kunjungi setiap pulang sekolah. Sejak hari itu dia memutuskan untuk tetap belajar musik bersama Ryeowook dengan bimbingan dari Jongwoon. Bahkan hari ini meskipun tidak ada jadwal latihan Soyoung tetap datang ke penthouse itu. Dari cerita Ryeowook, dia tahu bahwa mengajar musik merupakan pekerjaan sampingan Jongwoon disela-sela kesibukan kuliah dan mengurus perusahaan keluarganya. Tentu saja Jongwoon mengajar bukan untuk mendapat tambahan uang saku, dia mengajar untuk menyalurkan kecintaannya terhadap musik.

Soyoung menyibakkan tirai putih yang menutupi sebuah pintu kaca yang mengarah ke balkon. Kembali dia menarik bibirnya membentuk sebuah senyum manis menatap pemandangan laut yang tenang di sore hari. Soyoung membuka pintu dan melangkah mendekati tepi balkon. Tiupan angin berhembus membelai rambutnya dan suasana yang indah dan menyejukkan hatinya. Kim Jongwoon sunbae! Dia tampan, manis, berbakat dalam musik dan cerdas. Sangat sempurna, pikir Soyoung dengan senyum yang masih terukir. Di tengah lamunannya, tanpa dia sadari seseorang telah mengamatinya beberapa lama. Kim Jongwoon. Namja itu mengamati Soyoung yang tengah hanyut dalam lamunannya.

“Apa yang kau lakukan di sini, Soyoungie? Hari ini bukankah tidak ada jadwal latihan?” Jongwoon mulai membuka pembicaraannya dengan Soyoung. Gadis itu tersentak dari lamunannya dan menoleh terkejut pada namja yang kini sedang duduk manis di kursi malas yang ada di sisi lain balkon. “Apa Ryeowook tidak memberitahumu hari ini tidak ada pelajaran musik?” tanyanya santai.

Wajah Soyoung merona, semburat merah terlihat dipipi chubby-nya. Entah mengapa jantungnya beberapa hari ini berdetak dengan abnormal setiap dia mendengar suara Jongwoon di dekatnya. Ahh, bahkan hanya suaranya saja mampu membuat jantungku berdegub cepat, keluh Soyoung salah tingkah. Satu minggu belajar musik dalam bimbingan Jongwoon membuat Soyoung mulai menyadari bahwa Jongwoon memiliki mood yang cepat berubah. Dia akan ramah dan bersahabat saat dalam mood yang baik, tapi bila moodnya memburuk jangan tanyakan lagi. Bahkan menyapamu saja dia takkan melakukannya. Sepertinya dia dalam mood yang baik, pikirnya lagi.

”Hey… Lee Soyoung, kau mendengarku?” Jongwoon menatap heran gadis di hadapannya yang tiba-tiba mematung tanpa sebab. Jongwoon berdiri dari kursi malasnya dan menghampiri Soyoung yang masih terlena dengan kehadirannya. “Lee Soyoung.. Hey Soyoungie! Gwenchanayo?” Jongwoon menggoyangkan bahu Soyoung untuk menyadarkan gadis itu. “Gwenchanayo, eoh?”

Soyoung tersentak merasakan jari-jari Jongwoon meremas bahunya. “Ne? Ah mi.. mianhae Jongwoon sunbae… aku baik-baik saja. Sun.. sunbae, aku baik.” Ujarnya dengan tergagap. Dia gugup. Soyoung menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang semakin merona. Ada apa ini? Jantungku semakin berdetak tidak normal hanya karena dia memegang bahuku? Aishh neo baboya, Soyoungie! Rutuknya.

“Kau sakit, eoh? Wajahmu merah.” Ujar Jongwoon kembali. Dengan lembut Jongwoon meletakkan punggung tangannya ke kening Soyoung. Otomatis tindakannya semakin membuat semburat merah di wajah gadis itu. “Tidak panas? Kurasa kau baik-baik saja. Tapi kau jangan suka melamun, kau tahu gadis yang senang melamun akan sulit jodoh.” Kelakarnya geli. Senyuman manis terukir indah dibibir Jongwoon, dan untuk kesekian kalinya bahkan hanya dengan sebuah senyuman saja namja ini mampu mengalihkan dunia seorang gadis polos seperti Soyoung.

“Astaga kau melamun lagi? Ckckck…”

“Ah ani… hanya saja… ahh apa yang Sunbae lakukan di sini? Bukankah hari ini kita tidak ada jadwal latihan?”

“Itu tadi bukan kah pertanyaanku padamu. Mengapa jadi kau tanyakan padaku juga?” Jongwoon mengerucutkan bibirnya. Astaga bahkan dengan ekspresi kekanakan seperti itu dia terlihat tampan. Dan Soyoung harus mengutuk dirinya lagi yang harus terpesona dengan makhluk di depannya ini.

“Tenang!” Jongwoon menolehkan wajahnya ke hamparan laut biru yang menjadi pemandangan utama dari penthouse itu. “Tempat ini adalah tempat favoritku. Tenang, damai dan nyaman. Apalagi aroma angin laut yang berhembus selalu mampu membuat hatiku damai. Aku merasa mendengarkan angin mengalunkan musik indah dari seberang lautan.” Jongwoon bergumam menjawab pertanyaan Soyoung tadi. Senyumnya masih terukir dan matanya berbinar memandang hamparan air laut.

“Jadi itu mengapa Sunbae memilih tempat ini untuk memberi les musik pada murid-muridmu? Ryeowook pernah berkata padaku kau lulusan dari sekolah kami tiga tahun lalu dan kau mengajar ekstrakulikuler musik.” Soyoung menanggapi gumaman Jongwoon tanpa mengalihkan matanya dari namja yang tengah asyik menatapi lautan. “Agak aneh karena Sunbae mengajar musik di luar sekolah apalagi di tempat sunyi seperti ini. Ryeowook pernah berkata padaku kalau kau benci sendirian dan tempat sunyi karena itu bisa membuatmu bosan, tapi tempat ini memang sangat indah aku jadi mengerti mengapa kau memilih tempat ini untuk mengajar musik, Ryeowook selalu bersemangat setiap jadwal belajar musiknya tiba. Tapi kata Ryeowook, Sunbae memang orang yang aneh.”

“Pacarmu itu terlalu banyak bergosip tentang diriku rupanya? Apalagi yang dia laporkan padamu?” dengus Jongwoon kesal. Aneh? Apa dia kelihatan aneh? Seenaknya saja Ryeowook mengatakan dia aneh! “Katakan pada pacarmu itu berhenti bergosip tentangku atau akan kupastikan hukuman menyanyi seribu kali padanya.” Jongwoon melangkah masuk meninggalkan Soyoung yang masih di balkon. Dia mendekati piano dan menekan beberapa tuts hingga menghasilkan alunan irama yang indah.

“Ryeowook bukan pacarku, Sunbae! Kami hanya berteman saja.” Protes Soyoung mengekori Jongwoon. Dia mengembungkan pipinya dan mengedarkan pandangannya ke dinding-dinding penthouse lalu menoleh lagi pada Jongwoon yang menatapnya. “Eung.. Sepertinya hari semakin senja, ahh lebih baik aku pulang saja, Sunbae. Mianhae aku mengganggumu.” Ujarnya sambil mengusap tengkuknya canggung. Kembali beradu pandang membuat Soyoung menjadi canggung.

“Ya, tanpa kita sadari senja sudah datang. Kau pulang sendirian? Ada yang akan menjemputmu nanti?”

“Eoh? Ani.. aku pulang sendiri, aku lupa mengatakan pada oppaku kalau aku mampir ke sini setelah pulang sekolah.”

“Jamkaman! Lebih baik kau pulang denganku. Tempat ini terletak jauh di pinggiran Seoul, kau akan tiba malam hari kalau menunggu bus di sini.” Jongwoon segera meraih ransel kecilnya yang dia letakkan di atas piano ketika dia datang tadi dan langsung menggandeng tangan Soyoung tanpa menunggu penolakan gadis itu. “Di mana rumahmu? Aku antar sampai rumahmu.”

“Apa itu tidak merepotkanmu, Sunbae?” Soyoung ragu menerima tawaran Jongwoon. Lagi pula dia bisa menelepon oppanya, jantungnya pun berdetak semakin tidak normal merasakan genggaman jari Jongwoon meremas tangannya.

“Gwenchana, kajja! Anggap saja aku menolongmu, jadi kau esok harus membalas jasaku ini.” Ujar Jongwoon tersenyum geli. Dia menaiki dan menyalakan mesin motor sportnya. “Pakai ini!” Jongwoon menyodorkan helm cadangan pada Soyoung dan memakai sebuah helm dikepalanya sendiri.

“Aissh,, ternyata ada imbalan untuk bantuanmu, eoh?” Soyoung memberengut sebal tapi tetap menerima dan memakai helm pemberian Jongwoon. Dia segera melangkahkan kakinya dan duduk manis di belakang Jongwoon. “Sunbae, rumahku cukup jauh.” Ujarnya kemudian.

“Arraso…”

Tanpa berkata apapun lagi Jongwoon segera melajukan motor sport kesayangannya. Motor itu melaju cepat menyusuri jalan di pinggiran kota. Laut biru dengan semburat jingga dari bias-bias matahari di tepi barat menjadi pemandangan indah membuat siapapun yang melewati jalan ini sulit menolak keindahan alam ini. Soyoung tersenyum cerah rasa canggungnya berboncengan motor dengan guru musiknya sedikit mereda dengan suasana ini. Dimulai hari ini hubungan mereka semakin akrab tidak hanya sebagai guru dan murid, tapi juga sebagai teman.
*****

“Hahahaha…. Kau benar-benar lucu, Youngie…” Jongwoon terkekeh geli melihat pipi Soyoung yang baru saja dia tambahi gambar kura-kura abstrak menggunakan lipstick merah. Mereka tengah bermain kartu dan siapa yang kalah harus rela wajahnya dicoreti menggunakan lipstick itu. Ini sudah ketiga kalinya Soyoung kalah bermain dan dia harus rela wajahnya digambari kura-kura oleh namja yang tengah berguling-guling di lantai saking senangnya mentertawai dirinya. “Hahaha.. kau tahu kau seperti boneka Jepang, ahh apa ya namanya?? Tapi itu sangat lucu hahahah…” lagi-lagi Jongwoon tertawa terbahak-bahak.

Soyoung mendengus kesal, “Puas kau mewarnai wajahku dengan lipstick awas saja kau, kepala helm!” Gerutunya melotot ngeri pada Jongwoon. Sedangkan Jongwoon tidak peduli sedikitpun pada tatapan Soyoung yang menurutnya tidak menakutkan itu, padahal Soyoung sudah ekstra melebarkan matanya. “Oppa.., aishh berhenti mentertawaiku!” serunya jengkel. Soyoung menghampiri Jongwoon dan mencubit perutnya dengan kesal.

“Aaakkhhh….” Jongwoon memekik kesakitan ditengah tawanya merasakan cubitan Soyoung diperutnya. RASAKAN! Dasar kepala helm! Ejek Soyoung puas melihat Jongwoon mengusap perutnya sendiri namun tetap tidak berhenti untuk mencubit Jongwoon. “Hey nona, berhenti menyiksaku!” Jongwoon mengerucutkan bibirnya. “Kau gadis yang mengerikan suka sekali menyiksa namja tampan seperti diriku. Ahh aku lupa. Kau bukan gadis kau bantal! Hahaha….” Sekali lagi dengan tidak sopan Jongwoon menjulurkan lidahnya dan beranjak menjauh dari Soyoung yang siap mencubitnya lagi.
 
“Jongwoon oppa…” teriak Soyoung kesal setengah mati dengan namja yang terus mentertawai dirinya dengan senangnya.

“Hahahaha…..”

Akhirnya Jongwoon dan Soyoung saling berkejar-kejaran di ruang keluarga yang cukup luas di rumah Soyoung. Mereka benar-benar terlihat seperti anak taman kanak-kanak dengan tingkah mereka. Saat mereka tengah asyik saling melempar satu sama lain dengan boneka-boneka milik Soyoung, boneka yang dilempar Jongwoon membuat seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu terpeleset.

“Aaakkhh..” Rae Ah berteriak kesakitan ketika dirinya terjatuh di tangga yang menghubungkan kamarnya dengan ruang tengah. “Appoyo… Yakk Lee Soyoung!!!” jeritnya kesal ketika matanya melihat boneka berserakan di ruangan itu.

“Rae-ya.. Ah mianhae..” Soyoung menghampiri Rae Ah dan mencoba membantu sepupunya itu berdiri. Namun dengan keras Rae Ah menepis tangan Soyoung.

“Paboya… kau menyakiti aku…” lagi-lagi Rae Ah berteriak marah mendorong Soyoung yang berjongkok hendak menolongnya. “Jangan sentuh aku! Kau benar-benar tak tahu diri Lee Soyoung! Harus berapa kali aku katakan supaya kau berperilaku seperti gadis berusia 18 tahun? Kau bukan anak kecil yang hanya bisa melempar boneka.” Dengus Rae Ah geram. Dia berusaha berdiri dengan kaki yang cedera karena jatuh dari tangga.

“Jeongmal mianhae..” Yesung mendekat pada Rae Ah dan membantu gadis itu berdiri. Dia merangkulkan tangan Rae Ah ke bahunya dan memapah Rae Ah yang sepertinya benar-benar cedera ke sofa di ruangan itu. “Mianhae,, ini semua kesalahanku, bukan kesalahan Soyoung. Aku yang melempar boneka itu ke arah tangga dan tidak menyadari bila ada seseorang yang akan menuruni tangga.” Jongwoon merasa menyesal karena kesalahannya sudah menyebabkan satu korban dan juga membuat Soyoung dimarahi oleh sepupunya ini. “Biar aku yang mengobati, aku bisa sedikit memijatnya agak rasa sakitnya berkurang.” Jongwoon menaikkan kaki kanan Rae Ah yang cedera ke pahanya dan mulai memijit pelan pergelangan kaki itu.

“Appo??”

“Aniyo..” Rae Ah tersenyum sendiri sedikit terpesona dengan namja tampan yang temgah fokus memijat kakinya.

“Ahh kurasa ini 3 atau 4 hari kakimu akan sembuh.” Ujar Jongwoon masih fokus memijit pergelangan kaki Rae Ah. Sedangkan Rae Ah tersenyum penuh arti menatap lekat wajah tampan yang ada di hadapannya ini. Dia tampan! Boleh juga dijadikan kekasih, batinnya senang. Bagaimana bisa sepupunya yang bulat dan gendut itu memiliki teman namja setampan ini? Bahkan dia yang merupakan gadis populer di sekolahnya karena kecantikannya saja tidak pernah berpacaran dengan namja tampan seperti yang saat ini ada di hadapannya.

“Rae-ya, gwenchana? Aku menyesal maaf kau harus terluka karena tersandung bonekaku.”

Lagi-lagi Soyoung hadir disaat yang kurang tepat menurut Rae Ah. Gadis itu bersungut kesal karena merasa kehadiran Soyoung yang mengganggu saat dirinya menikmati pemandangan wajah tampan namja yang memijat kakinya. Rae Ah menggeram “Kau tidak lihat kakiku cedera karena boneka bodohmu itu? Kau pikir maafmu itu bisa menyembuhkan kakiku dengan cepat? Sudahlah simpan maafmu baik-baik, aku tidak butuh!” gadis itu melirik sebentar ke arah Soyoung yang berdiri di sampingnya kemudian berkata lagi “Wajahmu itu sudah jelek tidak perlu kau gambari, kau semakin terlihat buruk rupa dengan gambar-gambar itu.” ejeknya sinis melihat wajah Soyoung yang masih penuh gambar kura-kura Jongwoon.

Jongwoon menurunkan kaki Rae Ah yang telah dia pijit dan menghampiri Soyoung yang segera menghapus gambar kura-kura di wajahnya setelah mendengar ejekan Rae Ah. “Mianhae, Youngie aku sudah menggambari wajahmu.” Jongwoon tersenyum tulus pada Soyoung dan mengusap pipi gadis itu lembut. “Aku harus pulang, besok aku datang lagi.  Kau jangan terlambat, arra?” Jongwoon mengedipkan matanya dan berpamitan pada Soyoung dan Rae Ah kemudian meninggalkan mereka berdua.

“Kau sudah lama mengenalnya?” selidik Rae Ah penasaran. Dia benar-benar kesal mengapa Soyoung bisa mengenal namja tampan seperti Jongwoon dan terlihat akrab. Rae Ah iri ketika Jongwoon tersenyum, mengusap pipi Soyoung dan lebih parahnya mengedipkan mata. Apa bagusnya gadis bulat seperti Soyoung? Dia tidak punya kelebihan apapun selain berat badannya yang selalu naik setiap bulannya.

“Nee?” Soyoung tersentak. “Uhm,, sudah beberapa bulan ini, Ryeowook yang mengenalkan aku pada Jongwoon oppa.” Soyoung tersenyum ketika mengingat sekilas awal pertama dia mengenal Jongwoon. “Guru galak” itu kesan pertama Soyoung pada Jongwoon, tapi setelah beberapa bulan belajar musik dari namja itu, Soyoung mulai tahu banyak tentang Jongwoon. Dia namja yang menyenangkan, tingkahnya aneh, konyol dan suka seenak hatinya sendiri. Tapi tetap saja bila urusannya dengan musik Jongwoon tetap galak!

“Berhenti tersenyum!” Rae Ah mendengus. “Kau ingat janjimu padaku saat itu, kan??” Rae Ah kembali menginterupsi. Dia mendekati Soyoung dan berbisik, “Sudah saatnya kau membayar hutangmu padaku, Youngie! Aku menagih pembayaran itu!” Rae Ah tersenyum penuh kemenangan dan melenggang pergi begitu saja. Sedangkan Soyoung? Gadis ini masih terkejut dengan kata-kata terakhir Rae Ah. Akhirnya hari yang itu akan datang, lambat namun pasti hari itu pasti datang.
~Flashback off~





Drrrrttttt!!
Drrrrttttt!!
Soyoung tersentak dari lamunannya ketika ponselnya bergetar. Dia meraih ponsel yang diletakkannya di meja kerjanya. Dia mengerutkan keningnya melihat nomor baru masuk mengiriminya pesan. “satu jam lagi aku akan menjemputmu. Berkemaslah. Kau tak mau terlambat pada acara penting malam ini bukan? Cepatlah berkemas!”

Soyoung semakin mengerutkan alis bingung, siapa yang mengiriminya pesan? Nomor siapa ini? Ini bukan nomor Donghae, juga bukan nomor ibunya. Lagi pula untuk apa dia mengirimi Soyoung pesan, Donghae biasanya akan langsung masuk ke ruang kerjanya tanpa harus menghubunginya. Apa Rae Ah yang mengirim pesan? Pikir Soyoung heran. Untuk apa? Apa dia masih ingin menunjukkan bahwa dia akan memiliki Jongwoon sebentar lagi? Hah! Mungkin bukan Rae Ah, mungkin saja Donghae yang mengiriminya pesan untuk menjahilinya. Tak berapa lama ponsel itu bergetar lagi dan nomor yang sama kembali tertera dari pesan yang masuk ke ponselnya.
“sudah selesai berkemas?? Cepatlah! Aku bosan menunggumu!”

Soyoung merasa kesal. Ponselnya kembali bergetar dan memuat sebuah pesan yang sukses membuat Soyoung mengalah mengikuti keinginan orang yang mengirimi pesan paksaan padanya ini.

“keluar sekarang juga! Atau aku akan menyeretmu dari ruang kerjamu!”

Tuhan, aku pasti akan membunuh orang ini saat aku tahu siapa dia. Soyoung bersumpah kesal. Dia segera membereskan semua rekam medis pasiennya, melepaskan jas putih kedokteran dan meraih tasnya.

“Kau sudah akan pulang, Dokter Lee? Tidak biasanya?” seseorang menginterupsi ketika dia baru tiga langkah meninggalkan ruangannya. “Kau biasanya akan di rumah sakit hingga larut malam, dan ini baru jam 5 sore? Kau mau kemana?” seorang wanita cantik yang juga menggunakan jas kedokteran seperti Soyoung beranjak mendekati gadis itu. “Jadi apakah, Dokter Lee terhormat ini ada jadwal berkencan hingga meninggalkan kebiasaan lemburnya?” goda wanita cantik itu.

“Yaakk,,, Im Jina-ya…” Soyoung berbalik dan menggeram kesal. Astaga sahabatnya ini benar-benar senang menggodanya. “Aku harus pulang sekarang, ibuku memintaku untuk menghadiri acara makan malam. Aku pulang bukan untuk berkencan!” bantahnya. “Kenapa kau selalu membahas kencan denganku?” keluh Soyoung kemudian beranjak pergi dengan Jina yang mengekorinya.

“Hahaha,, Young-aa menggodamu adalah hal yang sangat menyenangkan untukku setelah semua kegiatan memeriksa pasien selesai. Lagi pula ini hal yang menarik untukku, kau selama 2 minggu ini selalu lembur dan hari ini memilih pulang lebih awal? Bukankah itu hal yang langka?” seloroh Jina asal yang masih tersenyum geli melihat raut wajah Soyoung. Tentu saja, Im Jina, sahabatnya sekaligus sejawatnya di Bagian Anak ini sangat tahu kebiasaan Soyoung yang selalu lembur, bahkan Soyoung seperti menunda waktu pulang kerjanya dengan berbagai alasan memeriksa pasiennya. Jina tentu saja merasa heran, seorang Lee Soyoung yang biasanya bekerja hingga larut malam, meninggalkan ruang kerja di sore hari. “Apa ibumu sudah lelah menghadapi dirimu yang gila kerja dan mengadakan acara makan malam untuk menjodohkanmu dengan seorang presdir tam….”

“Jina-ya.…” potong Soyoung memberikan picingan berbahaya dari sudut matanya. “Astaga kalau bukan karena ibuku yang meminta tidak mungkin aku datang, hanya saja malam ini semua keluargaku mengharapkan kedatanganku.” Soyoung menghela napas berat dan pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun mengenai acara makan malam keluarga pada rekannya itu. Yah, untuk apa dia harus menjelaskan, toh acara makan malam itu hanya untuk membicarakan rencana pertunangan Rae Ah bukan tentang dirinya.

“Kenapa jalanmu lambat sekali, eoh? Cepatlah aku hampir mati kebosanan menunggumu!”

Sekali lagi Soyoung mendengus kesal membaca pesan masuk dari layar ponselnya. Gadis ini sedang menuruni tangga dan ponselnya terus saja bergetar membawa pesan memerintahkan dia segera turun. Apa orang itu tidak tahu menuruni tangga dari lantai 10 itu melelahkan? “Baiklah.. awas saja kau Donghae oppa, aku akan benar-benar membunuhmu saat ini juga!” Soyoung mengomel sendiri sembari terus menatapi layar ponselnya yang tak kunjung berhenti bergetar karena pesan masuk dari nomor baru itu.

“Mobil silver! Tempat parkir nomor 8 dekat gerbang.” Soyoung mengedarkan matanya mencari mobil yang dimaksud dalam pesan yang masuk ke ponselnya. Astaga apakah ini tidak bisa dipermudah? Untuk apa Donghae harus memberi petunjuk-petunjuk tak berguna itu? Bukankah dia cukup menunggu di lobi rumah sakit dan Soyoung dapat dengan mudah menghajar Oppanya itu.

“Aishh.. apa ini tidak bisa lebih mudah. Kau benar-benar ingin bermain-main denganku Donghae oppa..” Soyoung beranjak mendekati sebuah mobil Audi R3 warna  yang tepat terparkir di dekat gerbang. Dari luar sudah dapat diperkirakan bahwa pemilik mobil itu memiliki selera yang tinggi terhadap barang-barang berkelas. Soyoung mengetuk kaca hitam mobil begitu dia sampai di sisi kiri mobil. Sungguh dia ingin tahu siapa manusia pemaksa yang dengan tidak sabaran mengirimi belasan pesan ke ponselnya.

“Oppa…..” seru gadis itu kesal. Tidak ada respon apapun dari dalam mobil. Bahkan keca hitam itu tidak diturunkan sama sekali. Soyoung merasa jengah, “Buka atau aku pulang naik bus saja!” kembali dia mengetuk kaca mobil itu. “Baiklah aku pergi!” Soyoung memutar tubuhnya dan terkejut melihat seorang namja sudah berdiri tegak di depannya. “KAU???”


~~~TBC~~~

Tidak ada komentar: