widgeo.net

Selasa, 16 September 2014

Promise You [LYRIC}


Romanized:
(with individual parts)
[Yesung] Promise you… Promise you
[Kyuhyun] Kawaranai nanikao sinagara
Kawatte iku kisetsuwo aruita
Kimito itsudemo tewo tsunaginagara kitanda
[Yesung] Tesaguride susunde kita hibimo
Kimiga itukara mayowazuni koreta teda
Tsuyoku ireta donnatokimo
[Ryeowook] Korekara arayuru
Keshikiga kawatta toshitemo
Bokurawa konomamade iyou
[All] Promise you kimiwo omotte bokuwa ikuruyo
[Yesung] Tsunagatte iru kokoroto kokorokara
[All] Promise you tsunataetainowa
[Ryeowook] Tada aishiteru
[Kyuhyun] Chikauyo eien no kakera o
[Yesung] Chiisana kenkamo nandomo sitane
Surechigai hanareta hibimo arushi
[Ryeowook] Sono tabini itsumo kimiga hitsuyou tthe wakattanda
[Kyuhyun] Kimiga moshimo tsumazuku tokiniwa
Dareyori ichibannitewo sashinoberu bokude itaiyo sobani isasete
[Ryeowook] Wakareto deaiwo kurikaeshi iku naka demo
Bokurawa tonarini iyou
[All] Promise you kimiwo omotte bokuwa ikitai
[Yesung] Munega atsuku koikogareteiru
[All] Promise you todoke tainowa
[Kyuhyun] Tada aishiteru
[Ryeowook] Itsudemo yuukanna hino omoide
[Kyuhyun] Mosimo ashitaga yamini nomarete
michi shirubesae naito sitemo
[Yesung] Kowagaru kotowa naiyo udewo hanasanaide kitto bokurawa
[Ryeowook] Dokoedomo ikeru
[All] Promise you kimiwo omotte bokuwa ikuruyo
tsunagatte iru kokoroto kokorokara
Promise you tsunataetainowa tada aishiteru
Chikauyo eien no kakera o
[All] Chikauyo eien no kakera o

English Translation:
While seeking unchanged things, we’ve walked in the changing seasons.
Always we came along together holding our hands.
I could passed the days I wasn’t sure without losing a way thanks for you,
and I could stay strong anytime.
Even though much scenery might be changed in our future, we won’t be changed.
Promise you. I will live thinking of you. We are the one from heart to heart.
Promise You. What I want to tell is just “I love you”.
I will promise the piece of eternity.
We’ve had many little quarrels. We also had some days apart each other.
But each time, it reminded me that I need you.
When you have difficulties, I want to be the first man who gives you a hand.
Let me stay beside you.
Even if we repeat parting or encounter,
let’s stay next to one another.
Promise You. I want to protect you in my whole life, my heart is hot
(and being full of love??)
Promise You, what I want to send you is just “I love you” with never changed love.
If tomorrow is covered with darkness and there is no way,
you need not to be afraid. Unless you leave my hand,
we can go anywhere.
Promise you. I will live thinking of you. We are the one from heart to heart.
Promise You. What I want to tell is just “I love you”.
I will promise the piece of eternity.
I will promise the piece of eternity.

Translation Credits: minejpelf
Romanizations by: kpoplyrics.net

Kamis, 04 September 2014

Destiny of life | part 2




Cast            :         Kim Hyun Joong
                             Heo Young Saeng
                             Kim Kyu Jong
                             Park Jung Min
                             Kim Hyung Jun
                             Hwang Ra Young (OC)
                             Kim Eun Ah
Others        :         Choi Jong Hyuk (OC)
Mr. Black (OC)
Jung Seung Jun
Genre         : Action, Romance, Drama
Author       : RinPanda


[Kim Kyu Jong POV]

Aku menatap hampa gedung megah di hadapanku. Yah,,, Dream Kim Corporation Building yang merupakan perusahaan pusat keluargaku. Haahhhhh,,, sudah sangat lama aku tak lagi menginjakkan kakiku di istana kebanggaan ayahku. Dulu ayah selalu berkata suatu hari aku akan memimpin seluruh lalu lintas perusahaanku di usia muda dan sepertinya apa yang dia katakan itu terjadi.

“Presdir Muda Kim Kyu Jong!!” ucap ayahku dengan senyum penuh kebanggaan setelah aku berhasil meraih gelar Master-ku. “Ingatlah, putraku! Perusahaan ini seperti mata air di pegunungan. Bukan hanya bagi keluarga kita, namun juga bagi ratusan ribu karyawan yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan ini. Jadi kau harus mempertahankan kejayaan Dream Kim Corporation hingga titik darah terakhir. Kau mengerti itu anakku??”

Aku hanya tersenyum hambar mengingat perkataan ayahku. Betapa perusahaan ini adalah kebanggaan, harga diri serta kehormatannya. Kehormatan yang hingga akhir hidup dia pertahankan meski harus menukarnya dengan nyawanya.

“Tuan Muda!!” suara Jung ahjusshi membuyarkan lamunanku yang beberapa saat lalu melayang ke masa 5 tahun lalu. Aku mengalihkan pandanganku dan mengangguk memberi tanda bahwa aku mengerti apa yang seharusnya kulakukan. Dengan mantap bagaikan seorang raja kulangkahkan kakiku memasuki lantai pertama istana megah ini.

“Annyeong haseyo, Presdir Kim!!” sapa beberapa orang dengan tuksedo hitam rapi sembari membungkukkan badan yang kutahu merupakan orang-orang kepercayaan ayahku.

“Annyeong haseyo, Ahjusshi!!” kuanggukkan kembali kepalaku singkat membalas sapaan mereka padaku.

“Tuan Muda, mari saya tunjukkan ruangan Anda.” Tawarnya ramah. Aku tersenyum kembali menjawab ajakannya.

Sungguh kini kupahami meski terlihat bahwa seorang Presdir hanya memberi perintah saja, namun tanggung jawab yang besar terhadap perputaran roda bisnis perusahaan sangatlah diperlukan. Aku menatap dan menghela napas panjang di depan sebuah pintu sebelum akhirnya tanganku terulur memutar knop pintu itu. Kuedarkan bola mataku memandangi setiap lekuk ruangan megah di balik pintu. Sebuah ruangan dengan desain Eropa modern dengan wallpaper bunga berwarna cokelat yang menambah kesan mewah. Inilah ruangan utama dari Dream Kim Corporation Building. Ruangan PRESIDEN DIREKTUR, dan kini ruangan ini menjadi ruang kerjaku memimpin perusahaan ini.

‘Presdir Muda Kim Kyu Jong’ gumamku tertegun membaca nametag di meja kerjaku. Ada rasa kebanggaan tersendiri dapat meletakkan namaku di perusahaan ini. Namun kesedihan besar menjerat hatiku mengingat bahwa dua minggu lalu nama seseorang yang sangat aku hprmati seumur hidupku masih terpajang sebagai Presiden Direktur.

“Jung ahjusshi,, apa dokumen yang aku minta kemarin sudah kau persiapkan??” tanyaku pada kepala pelayanku dengan mengitari separuh badan meja dan mulai duduk dengan mantap sebagai seorang Presdir Muda. “Berikan padaku, aku ingin meneliti dokumen-dokumen itu.”

“Tentu, Tuan Muda!! Ini dokumen-dokumen yang Anda perintahkan pada saya kemarin. Dokumen itu sudah saya susun dengan rapi agar Anda dapat mempelajari dengan mudah.”

“Gashamnida, Ahjusshi!!” ucapku menerima dokumen penting itu. “Lalu bagaimana dengan Park Jung Min?? Sudah kau ketahui di mana titik kelemahan pria itu, Ahjusshi??”

“Sudah, Tuan!! Saya sudah mendapat laporan lengkap mengenai Park Jung Min dari mata-mata kita. Menurut laporan yang saya terima, Park Jung Min selalu pergi dengan banyak pengawal yang mengelilinginya, hanya pada satu waktu saja dia pergi tanpa dikawal oleh satu orang pun.”

“Satu waktu?? Kapan itu, Ahjusshi??”

“Kapan waktu itu semua sudah saya tuliskan dalam dokumen itu, Tuan. Anda dapat mempelajari dengan detail semua tentang Park Jung Min dalam dokumen itu.”

“Pengamatan yang sangat bagus, Ahjusshi! Akan aku rencanakan pelajari ini sendiri, kau dapat tinggalkan ruangan ini. Aku akan memanggilmu lagi bila aku selesai dengan dokumen ini”
*****

[Author POV]

Kim Hyung Jun baru saja menyelesaikan sarapan paginya, ketika seseorang mengejutkannya dengan suara bising timah panas yang memekakan telinga. Dia harus bersyukur karena rumahnya berada di tepi pantai di pinggiran kota Seoul yang cukup jauh dari keramaian. Tempat yang tepat baginya tinggal bersama seseorang yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri yang selalu membuat kegaduhan di pagi hari dengan pistolnya itu. Tinggal jauh di keramaian, setidaknya dia tidak harus berurusan dengan para tetangga yang akan memprotes kebisingan dari kakaknya itu.

“Apa kau berlatih untuk mempersiapkan dirimu untuk melaksanakan tugasmu itu, Hyung??” tanyanya datar menghampiri Kim Hyun Joong yang sama sekali tak menyambut kedatangannya itu.

“Hari ini aku akan pergi. Mungkin aku takkan pulang sampai besok jadi kau tetap di rumah dan jangan berkeliaran di jalan. Arraseo??” Hyun Joong menurunkan tangannya dan menatap dingin adik lelakinya itu.

“Shirreo!!” tolak Hyung Jun mentah-mentah sambil menjulurkan lidahnya tak sopan. “Kau saja tidak pernah mendengarkan permintaanku, buat apa aku harus patuh padamu.”

“HYUNG JUN-AH!!” Hyun Joong meninggikan suara baritonnya mendengar penolakan Hyung Jun. “Ini demi keselamatanmu, jadi untuk 2 hari ini kau tetap di rumah dan jangan berkeliaran terutama pada malam hari.”

“WAEYO??” cibir Hyung Jun menggantungkan kedua tangan di pinggangnya. “Siapa kau hingga aku harus mendengarkanmu? Shirreo!! Aku tidak mau!!!”
Kim Hyung Jun memutar kakinya dan meninggalkan Hyun Joong yang mendengus kesal memiliki adik tak tahu sopan santun seperti dirinya. Dia sendiri tersenyum mengejek tanpa menghiraukan lagi bagaimana ekspresi menyeramkan dari wajah Hyun Joong. Pasti seperti singa yang kelaparan hahahha….

Inilah yang selalu terjadi setiap Hyun Joong mendapat misi baru untuk membunuh seseorang, Hyung Jun akan selalu mendebatkan tentang misinya untuk membunuh. Sebenarnya Hyung Jun tidak pernah menyetujui pekerjaan kakaknya sebagai seorang pembunuh bayaran. Dia sangat tahu resiko menjadi seorang pembunuh bayaran sangatlah berbahaya. Tapi apa yang dapat dia perbuat?? Kim Hyun Joong tipe pria yang keras kepala dan tidak semudah membalikkan telapak tangan menyuruhnya berhenti membunuh.

‘Kalau saja dulu Hyun Joong hyung tidak bertemu orang bernama Mr. Black itu, pasti sampai saat ini Hyun Joong hyung tidak akan menjadi seorang pembunuh bayaran.’ Keluhnya dalam hati.

Breemmmmmm
Breemmmmmm
Breemmmmmm

Terdengar deru mobil dari halaman dan membuat Hyung Jun penasaran melongok siapa yang memanasi mobil dengan suara keras begitu. Matanya menyipit dan warna wajahnya mengeruh begitu melihat kakaknya Hyun Joong melesat pergi dengan mobil sportnya. ‘pasti sudah saatnya dia membunuh’ gumam Hyung Jun lagi.
*****



[Park Jung Min POV]
Aaaahhhhhhh pagi yang sangat indah’ ucapku lirih dan tersenyum lebar menyusuri setiap latar pemandangan indah di tepi jalan. Cuaca yang sangat menyenangkan untuk menghabiskan waktumu dengan bersantai dan berjalan-jalan setelah selama berminggu-minggu aku disibukkan dengan proposal perencanaan tender dan proyek yang menyita tenaga. Terutama hahahahah... saingan bisnis perusahaanku sudah tewas jadi akan lebih mudah untukku.

Aahhh sudah lama juga aku tak bertamu dengannya. Hhmmm karena kesibukanku bahkan waktu untuk berjalan-jalan dengan kekasihku menjadi berkurang. Ini sangat menyebalkan.

Kuparkirkan mobilku di tempat paling ujung di sebuah mall agar orang lain tak mengenali kedatanganku. Aku memang sudah ada janji dengan seseorang di mall ini. Bukan untuk urusan bisnis ataupun tender, melainkan untuk urusan hati. Hahahhaha,, yah aku sudah berjanji untuk menghabiskan satu hari ini bersama seorang gadis yang sangat aku cintai.

Aku berrjalan dengan santai sambil menatap beberapa counter pakaian wanita yang terlihat berkelas dan memajang produk-produk branded. Hhmm,, apa harus aku membeli sebuah gaun dari salah satu counter tersebut?? Tapi untuk apa?? Kekasih sendiri bahkan seorang desainer terkenal yang merupakan lulusan terbaik dari salah satu universitas di London, Inggis. Tentu dia lebih tahu seperti apa gaun cocok ditubuhnya.

Kembali perhatikan beberapa toko yang kulalui di sampingku, dan mataku tertuju pada sebuah toko yang sangat menarik. Toko perhiasan yang mewah sangat membuatku tertarik untuk melangkahkan kakiku melihat berbagai macam dan bentuk berlian mewah itu.

‘Ra Young pasti akan sangat menyukai ini.” Gumamku sambil tersenyum senang ketika aku melihat satu set berlian. Aku segera meminta pelayan toko untuk mengambil perhiasan itu dan kembali kuteliti tiap lekuknya agar tak ada cacat sedikitpun yang akan menurunkan keindahannya dan kupilih berlian inilah yang pantas untuk kekasihku, Hwang Ra Young.


Setelah selesai urusan pembayaran, aku kembali melanjutkan langkahku. Ra Young menanti ku di sebuah restoran Eropa yang berada dilantai 3. Aku tersenyum senang begitu mataku menemukan sesosok gadis berambut sebahu dengan pakaian casual yang menambah cantik wajahnya. Dialah gadisku, Hwang Ra Young. Ra Young tersenyum ceria sambil melambaikan tangannya ketika dia menyadari kedatanganku dari jauh.
“Oppaaaa!!!” serunya ceria yang membuatku terkekeh lucu melihat tingkahnya. Apakah dia tidak menyadari bahwa ini adalah tempat umum?? Dan dia berseru dengan kerasnya?? Hahahaha Ra Youngku selalu seperti itu, dapat berseru senang tanpa menyadari di mana dia berada.
*****

[Author POV]

Tanpa disadari oleh Park Jung Min, ada seseorang yang sedari tadi mengikutinya dari jarak yang cukup jauh. Seseorang dengan pakaian yang tidak mencolok dan lincah membuatnya tak mudah disadari keberadaannya. Dengan teliti dia mengawasi setiap gerak-gerik Park Jung Min hingga dia melihat bila orang yang dia awasi akan bertemu dengan seorang wanita.

“Hwang Ra Young??” gumam orang itu terkejut saat seorang wanita berseru keras memanggil Park Jung Min.

“Jadi dia yang bernama Park Jung Min??” Hyun Joong mengawasi Jung Min yang berhenti di depan sebuah restoran Eropa. “Ini saatnya.” Tambah Hyun Joong lagi. Tangannya dengan cepat menarik pistol yang berada dalam saku bajunya dan memfokuskan ujung pistolnya ke arah Jung Min.

“Tuan Muda, apakah tidak lebih baik saya saja yang membunuh Park Jung Min?? Anda dapat menanti di mobil dan melihat mayat Jung Min tanpa harus mengotori tangan Anda, Tuan.” Ujar Seung Jun yang menemani Kyu Jong memata-matai Jung Min.

“Tidak perlu, Ahjusshi!! Biar aku sendiri yang menyelesaikan semua ini. Dia telah membunuh ayahku, dan dengan tanganku sendiri akan kubunuh dia.” Tolak Kyu Jong dan mengeluarkan pistolnya dari belakang bajunya. Dia menarik pematik peluru dan mulai mencari titik fokus untuk membunuh Jung Min.

“Matilah kau PARK JUNG MIN!!!!!” bisiknya kejam.

BAAANG~~~
BAAANG~~~
BAAANG~~~

Secara bersamaan Hyun Joong dan Kyu Jong menarik pematik pistol dari arah yang berbeda. Seketika itu pula suasana restoran itu menjadi ricuh dan gempar.

BUUGGH

Terdengar suara seseorang tersungkur jatuh. Orang itu adalah Park Jung Min.

“Oppaaaaaaa!!!!!!!!” teriak Ra Young terkejut melihat dada kiri kekasihnya mengeluarkan darah dan tersungkur di hadapannya.

“Oppaaaa!!! Oppaaaa!!! Oppaaaa!!!” teriak Ra Young histeris.

“Ra,, Ra Young!! Pergilah!!” dengan terbata-bata Jung Min berkata dan darah mulai bercucuran dengan deras dari luka di dadanya. “Pergi,,, pergilah Ra Young.”

“Oppaaaaa!!! Oppaaaaaaa!!!!”

“Good Job!!” ucap Hyun Joong puas. Hyun Joong langsung melangkah mundur dan menjauh dari tempatnya mengawasi Park Jung Min.

“AHH Sial!!” umpat Kyu Jong kesal mengetahui bahwa peluru yang mengenai Park Jung Min bukanlah peluru dari pistol miliknya.

Dengan langkah pelan Kyu Jong mendekati Jung Min dan tiba-tiba saja...

BEEEBBBBBPHHH

Dengan cepat dia membekap mulut Ra Young hingga pingsan dan menyuruh pelayannya membawa Ra Young.

“Kita pergi dari sini!”
*****

TBC

Rabu, 03 September 2014

Destiny of life | part 1



Cast            :         Kim Hyun Joong
                             Heo Young Saeng
                             Kim Kyu Jong
                             Park Jung Min
                             Kim Hyung Jun
                             Hwang Ra Young (OC)
                             Kim Eun Ah
Others        :         Choi Jong Hyuk (OC)
Mr. Black (OC)
Jung Seung Jun
Genre         : Action, Romance, Drama
Author       : RinPanda

Author POV

Tok tok tok~~~

“Tuan Muda bolehkah saya masuk?” terdengar suara seseorang bertanya sembari mengetuk dari balik pintu mewah.

“Masuk!!!” jawab seorang pria yang dipanggil Tuan Muda tegas dengan suara berat khas baritonnya.

Seorang pria paruh baya berpakaian rapi dengan jas hitam dan sebuah map ditangannya memasuki ruangan tersebut. Pria itu berjalan dengan langkah tak bersuara mendekat ke sebuah meja kerja besar yang berada di tengah ruangan. Di balik meja itu terdapat sebuah kursi yang ditempati seorang pria yang tadi dipanggilnya ‘Tuan Muda’ tengah membaca sesuatu dengan sangat serius. Dia membungkukkan badan memberi salam pada ‘Tuan Muda’nya itu dengan sopan dan penuh penghormatan.

“Tuan Muda, saya datang menghadap Anda untuk memberikan map yang berisikan rencana untuk memenangkan tender mega proyek perusahan A&D Group dari Jepang.” Kata pria paruh baya itu pada pria muda yang merupakan majikannya.

“Hmmm,, rupanya rencana mega proyek dengan perusahaan A&D Group sudah selesai disusun.” Sambut sang Tuan Muda itu senang sambil menerima map dari pria paruh baya yang berdiri di sampingnya.

“Lalu menurutmu perusahaan mana yang sekiranya akan menjadi pesaing terkuat bagi perusahaan kita untuk mendapatkan tender ini?” sambung sang Tuan Muda. Tangannya gesit membuka lembar demi lembar kertas yang nilainya lebih mahal dibanding berlian sekalipun.

“Menurut perkiraan saya, perusahaan Dream Kim Corporation akan tetap menjadi pesaing bisnis nomor satu bagi perusahaan kita, Tuan.” Jawab Jong Hyuk. “Karena menurut pengamatan saya selama ini, perusahaan tersebut memiliki ambisi yang sangat besar mengenai mega proyek yang direncanakan oleh perusahaan A&D Group. Selain itu Dream Kim Corporation memiliki banyak orang-orang yang sangat berkompeten dalam persaingan bisnis seperti ini.

Pria muda itu bangkit dari kursi kerja mewah yang sedari tadi didudukinya. Dia berjalan menuju jendela yang terdapat di belakang kursi kerjanya. Jendela besar yang langsung menyuguhkan pemandangan perkotaan yang sibuk dan gedung-gedung yang menjulang tinggi dari Seoul. Tuan Muda itu berdiri tegak membelakangi pegawainya, matanya menatap lurus ke arah luar jendela. Menatap hamparan gedung bertingkat yang tingginya hampir menyamai tinggi gedung perusahaannya ini.

“Dream Kim Corporation?? Perusahaan itu lagi rupanya!!!” dengusnya jengkel. “Mereka memang tak pernah bosan menjadi pesaing tunggal perusahaan kita.”

“Ta,, tapi Tuan Muda kemungkinan besar perusahaan kitalah yang akan memenangkan tender mega proyek ini, Tuan.” Ujar Jong Hyuk terbata-bata menyadari suasana hati Tuan Mudanya itu berubah mendengar nama Dream Kim Corporation. Bagaimanapun Jong Hyuk mengetahui bahwa Tuan Mudanya itu sangat membenci Dream Kim Corporation.

“Hmm,, apapun yang terjadi Royal Park Company harus memenangkan tender ini. Tuan Choi, bukankah 2 minggu lalu aku telah memerintahkanmu tugas besar untuk menjegal Dream Kim Corporation?” tanya Tuan Muda penuh selidik. “Jangan katakan padaku bila kau gagal menjalankan tugas yang aku perintahkan padamu, Tuan Choi?” Pria Muda itu menatap Jong Hyuk dengan tatapan penuh kecurigaan dan ekspresi wajah yang begitu menyeramkan.

“Bukan,, bukan seperti itu, Tuan! Sa,, saya sudah menyelesaikan tugas dari Anda dengan sukses dan saya sudah memastikan sendiri bahwa tidak akan ada kesalahan maupun kegagalan saat saya melaksanakan tugas tersebut.” Jawab Jong Hyuk dengan kata-kata meyakinkan. “Hanya saja menurut anak buah saya, Dream Kim Corporation memiliki Putra Mahkota yang sangat cerdas dalam bisnis dan akan mewarisi semua aset kekayaan perusahaan itu, Tuan sehingga kemungkinan perusahaan itu akan runtuh kecil”

“Hmmm…. Putra Mahkota pewaris Dream Kim Corporation? Ini menjadi sangat menarik.” Desis Tuan Muda tersenyum licik. “Baiklah Tuan Choi aku percaya padamu. Aku yakin kau takkan mengecewakan aku. Namun bila sampai kau mengecewakan aku, aku sendiri yang akan menghabisi nyawamu!!!” ancam Tuan Muda itu yang dengan cepat menodongkan pistol ke kepala Choi Jong Hyuk.

Choi Jong Hyuk hanya dapat mundur ketakutan melihat Tuan Muda nya mengacungkan pistol tepat ke arah kepalanya. “Su,, su,, sungguh Tuan Muda! Sa,, sa,, saya tidak berbohong. Saya tidak akan pernah mengecewakan Anda, Tuan!” ibanya ketakutan.

“It’s okkay I trust you!! Kau dapat meninggalkan ruanganku sekarang, Tuan Choi! Aku akan memanggilmu lagi bila aku membutuhkanmu.” Balas pria muda itu menurunkan pistolnya, kemudian melemparkan pistol itu ke arah Jong Hyuk. “Dan satu lagi, simpan itu! Itu hanyalah pistol mainan tidak berguna sedikitpun.” Tambahnya lagi tersenyum senang melihat pegawainya itu ketakutan menangkap pistol yang dia lemparkan.

“Saya permisi, Tuan!” Jong Hyuk membungkuk memberi salam dan segera melangkah keluar meninggalkan ruangan Tuan Mudanya itu.

Setelah kepergian pelayannya pria itu kembali duduk dan membaca dengan teliti baris demi baris berkas sebelum sebuah suara menyadarkannya…

Drrrrttt!!
Drrrrttt!!

“Yeoboseo!”

“…….”

“Ohh kau sudah di sana?? Ahhh hampir aku lupa.”

“…….”

“Nde, nde chagiya aku akan ke sana satu jam lagi. Tunggu aku nde.”
**** 

BAAANG~~~~
BAAANG~~~~
BAAANG~~~~

Suara letupan peluru mengenai sasaran tembak terdengar nyaring memenuhi sebuah halaman kecil di bagian belakang rumah yang terlihat mewah namun menyeramkan. Di hadapan sasaran tembak itu seorang pria berwajah datar tanpa ekspresi memegang senjata laras pendek di tangan kanannya. Matanya menatap tajam sasaran tembak yang baru saja dia hujani timah panas dari senjata yang dipegangnya itu. Tubuh atletisnya berdiri tegak memperlihatkan otot-otot terlatih yang mengagumkan.

Prook,, prook,, prook!!!!!

“Wooooooooouuuuuuuuwwwwww itu sangat luar biasa, Hyung!!! Kau keren sekali my brother!!!” puji seorang lelaki yang terlihat dari wajahnya seperti seorang anak kecil sambil heboh bertepuk tangan sendirian. Entah dari mana lelaki ini datang, tiba-tiba saja dia sudah berdiri dan memandang kagum pria dingin itu menembak sasaran tembaknya.

“Dari mana saja kau, Junie-ah semalaman tidak pulang??” balas lelaki itu dingin sembari tangannya meletakkan pistolnya di atas sebuah meja yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. “Kau pasti menghabiskan waktu untuk hal-hal tak berguna lagi, kan?”

“Ahh.. ayolah Hyung aku ini anak muda jadi wajar bila aku berkeliaran menggunakan masa-masa mudaku. Tidak seperti dirimu yang menggunakan waktumu seperti mayat hidup” Jawab Hyung Jun tikus kecil yang entah dari mana datangnya dengan santai.

“Benar-benar dongsaeng tidak punya sopan santun.” Kim Hyun Joong menjitak keras kepala kepala adik lelakinya Kim Hyung Jun.

“Appoooooo!!!” jerit Hyung Jun kesakitan akibat jitakan keras kakaknya itu. “Yaakk, Hyung kepalaku ini bernilai jutaan dolar seenaknya saja kau menjitaknya.” Gerutunya jengkel.

“Sudah berapa kali kukatakan padamu jangan seenaknya berkeliaran di tengah malam! Akan sangat berbahaya bila orang-orang tahu siapa dirimu.” Ujar Hyun Joong jengah melihat kelakuan adiknya.

“Tenang my Bro aku tidak akan mengungkapkan identitasku.” Kata Hyung Jun santai sambil menjentikkan jarinya dengan gaya hiphop berantakannya.

Drrrrrrttt!!
Drrrrrrttt!!

Terdengar suara ponsel berdering dari saku Kim Hyung Jun. Hyung Jun segera menerima panggilan telepon dari ponselnya itu.

“Yeobosseo!! Kim Hyung Jun imnida” sambut Hyung Jun ramah memulai pembicaraan telepon 

“Dengan siapa saya berbicara?”

“Hyung Jun-ssi, berikan telepon ini pada kakakmu Hyun Joong sekarang!!” balas seseorang bersuara serak di seberang telepon.

“Mwoya?” tanya Hyung Jun terkejut. “Nde arraseo, Mr!”

Hyung Jun segera memberikan ponselnya pada kakaknya Kim Hyun Joong. “Hyung, ini ada telepon dari Boss! Sepertinya ada tugas baru untukmu Hyung.”

“Yeobosseo!!” sapa Hyun Joong datar.

“Hyun Joong-ssi ini kau?” tanya seseorang yang dipanggil ‘Boss’ itu.

“Nde, ige mwoya??”

“Aku punya tugas khusus untukmu, Hyun Joong-ssi. Besok malam kau harus sudah melaksanakan tugas ini dan kau harus melakukannya dengan rapi tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.”
“Kau tidak perlu khawatir. Saya selalu berhasil dalam melaksanakan tugas dan tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.”

“Hahaha~~ Aku tahu kau dapat kuandalkan.” Ujar pria itu dengan tertawa. “Sekarang dengar targetmu adalah seorang pebisnis muda dari perusahaan besar. Dia adalah pebisnis yang akan menggunakan berbagai cara untuk menjegal pesaing bisnisnya. Aku dengar sebuah perusahaan besar dari Jepang tengah mengadakan tender yang keuntungannya akan sangat mempengaruhi penjualan saham bagi perusahaan yang memenangkan tender tersebut. Dan juga…”

“Langsung ke intinya saja!! Aku tidak berminat mengetahui tentang tender itu!” potong Hyun Joong ketus. “Kau sebutkan siapa namanya dan kapan aku harus membunuhnya.”

“Hahahahha,, sudah kuduga kau memang tidak sabaran Hyun Joong-ssi! Baiklah Pria itu bernama Park Jung Min. Dia merupakan pewaris tunggal perusahaan Royal Park Company. Tugasmu bunuh dia dalam dua hari ini dan pastikan kau melakukannya tanpa kesalahan, Arra??”

“Baiklah!! Dalam waktu kurang dari 2 x 24 jam kau akan melihat mayatnya di halaman pertama surat kabar.” Hyun Joong menutup telepon dan segera beranjak meninggalkan tempatnya yang sekarang.

“Kau akan membunuh lagi, Hyung??” Hyung Jun yang sedari tadi hanya diam tiba-tiba bersuara. 
“Aku tidak setuju kau membunuh lagi. Tolong hentikanlah pekerjaanmu itu.” Mata Hyung Jun yang mengiba menatap lurus lelaki yang berjalan membelakanginya itu.

Mendengar kata-kata sang adik, Hyun Joong berhenti melangkah namun tidak berpaling. Dia hanya mematung dan membisu.

“Kau tahu bukan aku tidak pernah setuju kau menjadi pembunuh bayaran. Pekerjaanmu itu sangat berbahaya bukan hanya untuk orang lain namun untuk dirimu sendiri.”

“Diamlah, Hyung Jun-ah!!” bantah Hyun Joong tegas. “Kau tak perlu ikut campur dengan kehidupanku.”

“Bagaimana aku tidak ikut campur?? Kau kakakku satu-satunya tentu saja aku akan ikut campur dengan kehidupanmu. Tolong hentikan sekarang juga, Hyung.”

“KUBILANG DIAM!!!” bentak Hyun Joong lagi.

“ANDWEE!! Kau tahu di luar sana mungkin banyak orang yang mengincar nyawamu, Hyung. Bagaimana aku bisa diam kalau hidupmu dalam pengejaran orang lain.”

“Sudah cukup rengekanmu itu?? Kalau sudah lebih baik kembali ke kamarmu dan jangan berdebat lagi denganku.” Hyun Joong membalikkan badannya menatap Hyung Jun tajam.
Kedua kakak-beradik ini meskipun ber-DNA sama namun mereka memiliki sifat yang berbeda. Kim Hyun Joong sang kakak memiliki sikap dingin dan tak bisa dibantah bahkan terkadang dia terasa sangat menyeramkan. Sedangkan Kim Hyung Jun sang adik memiliki sikap ceria, manja meski terkadang bersikap sok dewasa. Namun meski terlalu banyak perbedaan di antara mereka sebenarnya mereka saling menyayangi.
****


Sebuah limousin berwarna hitam mewah memasuki sebuah halaman luas yang tertata apik dengan bunga-bunga dan pohon pinus menghiasinya. Limousin itu melaju pelan dan berhenti dengan sempurna di depan sebuah rumah, tidak lebih tepatnya sebuah puri megah dengan desain bergaya eropa yang sangat artistik. Bagian depan puri megah itu terdapat pintu utama dengan ukiran mewah yang memberi kesan mahal. Tidak lama keluar banyak pelayan dengan seragam berbaris rapi dipimpin seorang kepala pelayan yang usia berkisar 50 tahunan.

Supir limousin segera turun dan mengitari setengah badan limousin dengan cepat dan membuka pintu bagian belakang dengan sopan. Dari pintu itu turunlah seorang pria muda berwajah tampan dan berbadan tegap. Ditilik dari pakaian yang dia kenakan berupa kemeja yang dipadukan dengan tuksedo hitam dan sepatu mengkilatnya menunjukkan sisi kebangsawanannya.

“Selamat datang, Tuan Muda!” sambut kepala pelayan dan membungkuk memberi hormat pada sang pria muda itu. “Saya sangat senang dapat menyambut kepulangan Anda ke Korea, Tuan.”

“Kau rupanya masih bertahan di sini, Ahjusshi.” Ucap lembut sang Tuan Muda yang bernama Kim Kyu Jong. “Aku senang kau masih setia pada keluarga ini.” Pria itu menepuk pelan bahu kepala pelayannya kemudian dengan mantap mulai melangkahkan kakinya. Semua pelayan yang berbaris membungkuk memberi hormat pada majikan mereka yang memasuki puri itu diikuti kepala pelayan di belakangnya.

“Di mana adikku, Ahjusshi??” Kyu Jong melemparkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang tamu yang begitu mewah. “Mengapa dia tak menyambut kedatangan kakaknya?? Apa kau tak memberi tahu bahwa hari ini aku akan pulang?”

“Maafkan saya, Tuan Muda, Agasshi sudah saya beri tahu sejak beberapa hari lalu, namun Dia tetap tidak ingin keluar dari kamarnya.” Jawab Jung Seung Jun kepala pelayan itu.

“Hmmm,, apakah dia masih seperti itu sejak dua minggu lalu??” Kyu Jong menatap penasaran  Seung Jun.

“Iya, Tuan Muda!” balas yang ditatap mantap. “Agasshi tetap bersikeras tidak mau keluar, bahkan untuk 2 minggu ini pun Agasshi tidak masuk kuliah dan tidak mau makan. Sejak kemarin malam hingga siang ini pun, Agasshi belum juga menyentuh makanan yang dibawa ke kamarnya. Hal ini menyebabkan berat badan Agasshi turun drastis dan kondisi kesehatannya memburuk karena Dia terus bersedih dan menangis, Tuan.” Tambahnya panjang lebar.

Kyu Jong menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak mendengar semua penjelasan kepala pelayannya itu. Dia sangat menyadari kesedihan yang dirasakan adik semata wayangnya sejak peristiwa itu terjadi. Sebenarnya kesedihan itu bukan hanya dirasakan adiknya, dia pun merasakan kesedihan yang sama, namun hatinya merasa lebih sakit melihat kondisi adik kesayangannya yang semakin memprihatinkan.

“Aku akan menemuinya sekarang, tolong kau siapkan makan siang untuk Agasshi, Ahjusshi! Aku sendiri yang akan membujuknya makan.” Perintah Kyu Jong setelah beberapa menit berpikir.

“Baik, Tuan.” Seung Jun segera memberi hormat dan melangkah mundur lalu beranjak memberi perintah pada pelayan untuk menyiapkan makan siang atas perintah Tuan Mudanya. Sementara Kyu Jong mengambil sebuah boneka teddy bear berwarna coklat dari dalam tas yang dibawa pelayan lain dan melangkah menuju kamar adiknya.

Tok,, tok,, tok,,

“Selamat siang, Agasshi! Apakah Anda ada di dalam?” seorang pelayan perempuan mengetuk pintu sebuah kamar. Di belakang pelayan itu berdiri Kim Kyu Jong yang dengan raut wajah murung menatap daun pintu yang tak kunjung dibuka. “Agasshi, apakah Anda ada di dalam??” ulang si pelayan namun tetap tak terdengar suara membalas dari dalam kamar.

Kyu Jong semakin cemas dan tak sabar sehingga dia sendiri yang mengetuk pintunya. “Eun Ah-ah!!! Kim Eun Ah, kau ada di dalam??” serunya dengan suara bergetar. Tangannya memegang dan segera memutar kenop pintu yang tak kunjung dibuka. Begitu pintu terbuka Kyu Jong langsung masuk tanpa meminta izin pada sang pemilik kamar.

Kyu Jong mengedarkan seluruh pandangannya menatap kamar yang bagaikan kamar seorang putri raja. Dinding berwarna peach lembut, sebuah ranjang berukuran King size dengan berbagai boneka di atasnya di sampingnya terdapat meja kecil yang di atasnya terdapat kotak pemutar piringan hitam klasik yang masih terawat, sebuah meja rias dengan cermin besar dan berbagai make-up tersusun rapi di tempatnya. Serta sebuah sofa lengkap dengan mejanya yang dapat digunakan untuk bersantai. Di sisi lain kamar itu, terdapat sebuah balkon yang langsung mengarah ke taman menyuguhkan pemandangan alam yang indah. Tirai putih lembut penutup balkon melambai-lambai mengikuti arah angin.

Dari balkon itu terlihat sesosok gadis cantik dengan rambut panjangnya yang terurai melambai tertiup angin tengah duduk di sebuah ayunan di tengah balkon. Wajah gadis itu terlihat pucat dan sendu, matanya bengkak dan menatap kosong langit berawan. Kyu Jong tersenyum pahit melihat gadis muda di hadapannya itu. Ya,, gadis muda yang dia panggil Kim  Eun Ah adalah adik kandung semata wayangnya. Dia berjalan pelan menghampiri Eun Ah yang melamun dan berkata lembut,

“Annyeong Eun Ah-ah!” sapanya dengan suara bergetar berusaha tegar melihat kondisi adiknya. 

“Apa kabarmu uri dongsaeng??” Kyu Jong berjongkok di hadapan Eun Ah, bibirnya menyunggingkan senyum manis meski matanya berkaca-kaca. Dielusnya lembut rambut gadis di hadapannya itu.

“Kau tak rindu pada Oppa, Eun Ah-ah?? Oppa sudah pulang. Oppa ada di sini menemanimu.”
Bola mata Eun Ah beralih menatap Kyu Jong yang tersenyum padanya. Tiba-tiba air mata mengalir dari mata sayu gadis itu.

“Kyu Jong oppa!!!” Eun Ah berkata pelan dengan suara isakannya.
Kyu Jong bangkit dan segera memeluk adiknya. Dia menyesal telah meninggalkan Eun Ah selama ini dan baru kembali saat adiknya berada dalam kondisi yang mengenaskan.

“Mianhae,, jeongmal mianhae, Eun Ah-ah!!” Air mata Kyu Jong mengalir, dia tak mampu lagi membendung kesedihannya. Segala rasa bersalah, luka dan penyesalan yang selama ini menumpuk meluap bagaikan ombak laut yang mengamuk menghancurkan rumah-rumah di tepi pantai.

“Jangan tinggalkan aku lagi, Oppa! Jangan tinggalkan aku sendiri. Ayah sudah pergi, aku tidak ingin Oppa meninggalkan aku lagi.”

“Anniyo,, Oppa tidak akan meninggalkanmu lagi. Oppa akan selalu menemanimu setiap hari. Mianhae Eun Ah-ah.”

Tanpa terasa dua manusia yang telah lama tak bertemu ini saling berpelukan melepaskan semua perasaan mereka, hingga seseorang menyadarkan mereka dari suasana mengharukan itu.

“Permisi, Tuan Muda! Permisi, Agasshi! Saya datang membawakan makan siang untuk Eun Ah agasshi.” Ucap Seung Jun sopan sembari membungkukkan badan.

“Ahh, Ahjusshi gamshamnida.” Kyu Jong tersenyum simpul kemudian berdiri menerima kereta dorong yang di bawa pelayan. Kyu Jong mendorong kereta dorong berisikan berbagai macam hidangan yang menggugah selera ke hadapan adiknya lalu duduk di samping Eun Ah.

“Eun Ah-ah, Oppa dengar dari Ahjusshi kau belum makan dari kemarin malam, sekarang kau harus makan! Oppa akan menyuapimu.” Ujarnya lembut mengambil piring berisi hidangan dan mengulurkan sesendok nasi ke hadapan Eun Ah. “Ayo buka mulutmu! Makanan ini sangat enak.”

“Shireo, Oppa!” Eun Ah menggelengkan kepalanya pelan dan menutup rapat-rapat bibir mungilnya.

“Kau harus makan! Kalau kau tak mau makan kau bisa sakit, Eun Ah-ah.”

“Shireo! Aku tidak lapar.”

“Eun Ah-ah,, ayolah sedikit saja.” Bujuk Kyu Jong lembut tetap bersabar menghadapi adiknya. “Oppa tidak mau kau sakit.”

“Shireo!!”

“Baiklah, kalau kau tetap tidak mau makan, Oppa juga tidak akan makan!” Kyu Jong meletakkan kembali piring ke atas kereta dorong.

“Oppa!”

“Mwoya??”

“Jangan seperti itu.”

“Lalu harus bagaimana?? Mana mungkin Oppa bisa enak-enak makan sedang kau sendiri tidak makan. Jadi Oppa juga tidak akan sampai kau mau makan.”

“Yaa,, Oppa!! Baiklah aku akan makan. Tapi Oppa juga harus makan.”

“Nah itu baru adikku.” Kyu Jong tersenyum senang dan kembali menyendokkan nasi pada Eun Ah. “Enak??”Eun Ah mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan kakaknya.

“Kau sudah pulang rupanya, Kyu.” Tiba-tiba sebuah suara lembut muncul dari balik pintu. Seorang pria berparas cantik berdiri di ambang pintu dan tersenyum manis melihat Kyu Jong.

“Ahh Young Saeng hyung!!” seru Kyu Jong senang. Dia bangkit dan segera memberi pelukan pada Young Saeng. Mereka saling merangkul dan tertawa kecil melepas rindu. Heo Young Saeng merupakan kakak sepupu dari Kim Kyu Jong. Selama ini dia tinggal di puri keluarga Kim sementara kedua orang tuanya berada di Paris, Perancis.

“Ottokhae jineseyo??”

“I’m fine, Hyung. Thank you.”

“Hmm.. apa aku mengganggu perjumpaan kalian?” tanya Young Saeng kemudian sambil melirik Eun Ah yang entah sejak kapan menghentikan makannya.

“Anniyo! Aku hanya sedang membujuk Eun Ah makan. Aku khawatir karena Ahjusshi bilang dia tidak mau makan. Ige mwoya, Hyung?”

“Ini sesuatu yang penting.” Ujar Young Saeng merendahkan suaranya. “Kita tidak bisa membicarakannya di sini. Akan sangat berdampak negatif bila Eun Ah mengetahui hal ini.” Young Saeng menatap Eun Ah yang kini berjalan gontai mendekat ke tepi balkon.

“Temui aku di perpustakaan nanti akan kujelaskan semuanya.” Tambahnya lagi kemudian membalikkan badan dan meninggalkan kamar Eun Ah.

*****

“Apa yang ingin kau bicarakan padaku, Hyung?” Kyu Jong memulai pembicaraan pribadi seusai makan malam. Dia telah memastikan tidak ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka bertiga termasuk Kim Eun Ah. Bertiga?? Ya Heo Young Saeng, Kim Kyu Jong dan kepala pelayan keluarga Kim, Jung Seung Jun ada di ruangan itu pula.

“Aku ingin membicarakan tentang kematian Kim Ahjusshi, Kyu.”

“Kematian Ayah??” Kyu Jong melebarkan matanya menatap Young Saeng terkejut. “Ada apa?? Katakan padaku, Hyung apa yang telah menyebabkan kematian ayahku??”

“Tenanglah dulu aku belum selesai bicara.” Young Saeng mengangguk pada Seung Jun dan pria paruh baya itu menyodorkan sebungkus bubuk yang entah bubuk apa itu. Kyu Jong menoleh pada Young Saeng dengan penuh tanda tanya. Seakan mengerti arti tatapan Kyu Jong, Young Saeng mulai berbicara.

“Itu bubuk Sianida! Atau lebih tepatnya racun sianida.”

“Ra,, racun??”

“Yah!! Racun sianida ditemukan di hidangan makan siang Ahjusshi 2 minggu lalu. Aku telah melakukan uji laboratorium pada makan siang Ahjusshi di rumah sakit, dan jenis racun sianida terdeteksi di dalam hidangan makan siangnya. Kau tahu kan! Sianida merupakan racun yang sangat mematikan, bila masuk ke dalam tubuh seseorang tak sampai 2 jam orang itu akan tewas.”

Kyu Jong menatap ngeri kakak sepupunya. Badannya bergetar hebat, dia tak menyangka kematian ayahnya akan sangat mengenaskan. “Bagaimana bisa ada racun dalam makanan ayah? Sedangkan semua makanan yang akan dimakan oleh anggota keluarga ini akan terlebih dulu dicicipi pengawal.”

“Memang semua makanan yang dihidangkan sudah dicicipi pengawal namun tidak pada makan siang Ahjusshi 2 minggu lalu. Ahjusshi 2 minggu lalu makan di sebuah restoran dan hanya berdua bersama Eun Ah. Sepertinya ada seseorang yang memasukan racun itu sebelum makanan disajikan pada Ahjusshi dan Eun Ah. Dan aku sudah menyurun beberapa orang menyelidiki siapa orang terakhir yang menyajikan makanan itu pada Ahjusshi.”

“Dan apa kau sudah mengetahui orang tersebut?”

Young Saeng mengangguk pelan. Seung Jun kemudian memberikan sebuah map berwarna coklat pada Kyu Jong. “Apa ini??” Kyu Jong menerima map itu dengan bingung.

“Buka saja. Di dalam map itu berisi identitas orang yang menyajikan makanan dan memasukkan racun ke dalam makanan Ahjusshi.”

Kyu Jong membuka map dengan cepat dan matanya terbelalak membaca sebuah nama “Choi Jong Hyuk?? Siapa Chai Jong Hyuk??”

“Choi Jong Hyuk. Dia adalah tangan kanan Presdir Royal Park Company.”

“Royal Park Company?? Hyung, maksudmu Royal Park Company adalah penyebab utama kematian ayahku??”

“Cerdas!!” puji Young Saeng tersenyum simpul. Dia tahu adik sepupunya itu jenius dan dapat dengan mudah menyimpulkan semua analisis yang ada.

“Apa ini masih bersangkutan dengan tender yang akan dibuka oleh A&D Group dari Jepang itu?”

“Kau benar. Yang kudengar pewaris Royal Park Company sangatlah licik. Dia akan menempuh berbagai cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.”

“Sial!!!” Kyu Jong melempar map itu dengan kasar. Wajahnya merah menahan emosi dan sakit hati atas kenyataan yang terjadi.

“Takkan kubiarkan!! Takkan kubiarkan orang yang membunuh ayahku hidup dengan nyaman. Aku akan membalaskan kematian ayahku. Aku akan membunuh orang itu dengan tanganku sendiri.” Kyu Jong mengepalkan tangannya menahan emosi yang meluap di otaknya. Semua rasa sakit, luka dan kesedihan atas kematian ayahnya membuat emosinya berkobar, dan semua rasa itu berubah menjadi dendam yang menuntut adanya pembalasan.

*****
TBC

Bagaimana kelanjutan kisah ini?? Apa yang akan terjadi kemudian?? Author rasa ini akan menjadi misteri untuk part selanjutnya ;) so tetap sabar yah menanti part selanjutnya J dan jangan lupa tinggalkan jejak, kritik dan saran untuk kemajuan FF ini J