widgeo.net

Selasa, 10 Februari 2015

CONFESSION OF A FRIEND | Part 1


Cast                : Kim Jong Woon aka Yesung Super Junior
                           Lee Soyoung (OC)
                           Jung Rae Ah (OC)
Others            : Kim Ryeowook
                           Lee Donghae
                           Kim Jongjin
Genre             : Romance, Sad, Friendship
Length           : Series
Rated             : 17 +
Author           : RinPanda

Disclaimer       : Hallo semuaaaa…. Perkenalkan aku RinPanda :) sebelumnya aku gak akan bilang aku seorang author, di sini aku Cuma mau sekedar membagi cerita dari ff lamaku yg udh setengah tahun aku museumkan di lappy. Cast ff ini adalah namja kesayanganku Yesung ^_^
Judul ff kali ini sengaja aku ambil dari judul salah satu lagu 2AM yang menurut aku bermakna paling mendalam kekekke…. Semua cast dicerita ini milik Tuhan YME dan milikku *plakk xD aku berharap masukan dari kalian mengenai alur dan penyampaiannya itu bisa jadi introspeksi buat tulisanku. Satu lagi tolong berhati-hati dengan cerita ini karena ranjau bertebaran dimana-mana XDD
Okkee daripada banyak ngoceh dan bikin ngantuk mending langsung aja ceritanya :)

Background Song        :
1.      Confession of A Friend – 2AM
2.      For One Day – Yesung
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Baby ijeneun naegewa
(Sayang, datang padaku sekarang)
And be my baby neomu na oraet dongan
(dan jadilah kekasihku, untuk waktu yang lama)
jikyeo bwasseo mal eopsiseoseo
(Aku sudah memperhatikanmu dan berdiri diam-diam)
anta kkaun gaseumeul sumgimyeo
(dan menyembunyikan perasaan hatiku dari kesedihan)
chinguro chinguro jinaeya handani yuro
(Karena suatu alasan, alasan bahwa kita harus tetap sebagai teman)
mok kkaji cha ollat deon
(Aku ingin memberitahumu berkali-kali)
geu gobaegeul chamaya haesseo
(tapi aku memegangi pengakuanku)
hajiman ijeneun gobaek halkke
(Tapi sekarang aku akan mengaku)
neoreul sarang hae
(Aku mencintaimu)

Author POV
Incheon Airport

Siang yang panas di awal musim panas ini sama sekali tidak menyurutkan kesibukan di bandara yang pernah menjadi bandara terbaik di dunia ini. Yah, lalu lalang penumpang, pilot serta pramugari yang datang dan akan pergi meninggalkan korea bagaikan tiada habisnya. Dari arah pintu kedatangan, terlihat segerombolan penumpang yang baru saja turun dari pesawat yang membawa mereka dari Amsterdam ke Seoul, Korea Selatan.

“Sudah 6 tahun! Rasanya sungguh aku sangat merindukan Seoul.” Gumam ceria seorang gadis cantik berambut coklat tua panjang yang di bagian bawahnya dia buat berombak. Dia menarik koper besarnya dengan senyum sumringah, mengingat tak lama lagi dia akan segera berkumpul dengan orang-orang yang dicintainya. Enam tahun sendirian di negara orang demi merintis karier dan meninggalkan semua orang yang dia cintai memang bukanlah hal yang mudah. Namun, kini dia membuktikan, dia mampu meraih impiannya dan pulang dengan penuh kebanggaan.

“Hei, Nona Lee!!” sebuah suara berat tak jauh darinya memanggilnya dengan keras mengalihkan perhatian beberapa orang di sekitarnya. Lee Soyoung, gadis bermata bulat indah itu menggelengkan kepalanya dan tersenyum senang menghampiri seorang namja tampan yang memanggilnya barusan. “Omoo, sudah lama tak bertemu denganmu, kau sudah semakin dewasa, Soyoungie.” Imbuh namja itu lagi ketika Soyoung telah berdiri di hadapannya.

“Oppa…” Soyoung tersenyum bahagia lalu menghambur ke pelukan namja itu. “Donghae oppa bogoshipeoyo!” Jari-jemari lentiknya memeluk erat punggung Lee Donghae, namja yang memanggilnya tadi. Seolah meluapkan segala kerinduan yang telah lama dia pendam dihatinya. Lega. Itu yang kini ia rasakan.

“Hahahha… ternyata kau merindukan Oppa juga humm? Oppa pikir kau takkan pernah lagi menginjakkan kakimu di negerimu sendiri. Nado bogoshipoyo, Lee Soyoung” Donghae tersenyum dan mengelus pelan rambut Soyoung dipelukannya. “Oppa sungguh terkejut, nae dongsaeng neomu yeppo.”

Soyoung melepas pelukannya dan menatap Donghae dengan bibir mengerucut dan pipi menggelembung. Dia pura-pura kesal dengan pertanyaan bodoh kakaknya ini. ‘Bagaimana mungkin aku tidak merindukanmu Donghae oppa? Bahkan seandainya aku mampu, aku akan memilih pulang ke Korea dan melupakan alasan kepergianku. Dasar ikan Mokpo, kau benar-benar menyebalkan!’ batinnya kesal. “Aishh jinjja. Kau benar-benar menyebalkan, Oppa” Soyoung memukul-mukul pelan lengan Donghae yang tertawa melihat ekspresi menggemaskan adiknya.

“Arra, arra!! Oppa tahu kau tidak akan bisa hidup tanpa Oppamu yang tampan ini bukan? Hahaha…” Donghae mengacak pelan rambut Soyoung kemudian menarik koper besar dongsaengnya itu. “Kajja,, semua sudah menunggu kepulanganmu di rumah. Appa, eomma bahkan Kim ahjusshi dan ahjumma juga sudah berkumpul di sana.”

“Kim Ahjusshi dan ahjumma?” Soyoung berhenti melangkah dan melebarkan matanya. “Apa yang mereka tahu tentang kepulanganku, Oppa?” tanyanya penasaran.

“Tentu saja! Sejak kau pergi mereka selalu menanyakanmu. Sudahlah, mereka sudah menunggumu di rumah. Kajja…”

***** 

Soyoung POV
Aku segera keluar dari mobil Donghae oppa begitu kami sampai di depan rumahku. Hah.. Rasanya sangat menyenangkan menatap rumah yang sudah kutinggalkan selama beberapa tahun ini. Appa, eomma jeongmal bogoshipeoyo‼ Aku tersenyum begitu menatap pintu utama rumahku bergerak.

Ceklek~~

“Soyoungie…” seru wanita paruh baya yang tetap terlihat cantik dan mempesona di usianya saat ini berhambur memelukku. Dialah eommaku. “Eomma sangat merindukanmu, sayang.” aku membalas pelukan eomma dan melepaskan semua kerinduanku.

“Bogoshipeo, Eomma..” bisikku haru. Sungguh aku ingin sekali menangis saat ini. Bukan karena sedih, namun karena begitu gembiranya hatiku bertemu dengan keluargaku lagi. “Appa.. bogoshipeo appa” segera kulepas pelukan eomma dan berjalan mendekati appaku. Appa tersenyum menatapku dan mengelus lembut puncak kepalaku.

“Tak appa sangka, putri kecil appa sudah tumbuh dewasa. Kini putri kecil appa sudah menjadi gadis cantik dengan gelar dokter mudanya.” Aku tersenyum senang sebagai balasan kata-kata appa. Memang berat tapi aku bersyukur kepulanganku dapat membawa kebanggaan bagi kedua orang tuaku.

“Apa kalian akan terus saling berpelukan di sini? Dan membiarkan makanan yang telah terhidang dingin begitu saja.” Suara lembut seseorang menyentakkan keharuan aku dan appa. Kudongakkan kepalaku melihat siapa yang sempat bergurau barusan. Aku tersenyum melihatnya. Dia tetap sama. Selalu tampil cantik, modis dan elegan. Tak pernah berubah. Jung Rae Ah, gadis cantik yang sudah aku anggap seperti saudara kandungku ini. Aku benar-benar merindukannya.

“Rae-ya…” seruku senang. Dia menghampiri dan memelukku. “Samchon, kajja kita masuk. Soyoung pasti sudah sangat lapar dan pasti akan sangat lahap menghabiskan makanan buatan Imo.” Celetuknya menggodaku setelah melepas pelukanku padanya. Aishh kau ini Rae-ya! Aku sudah tidak serakus itu, arra! Aku sudah menurunkan berat badanku dan belajar menjadi gadis yang elegan sepertimu, dengusku kesal sembari kupukul bahunya pelan.

“Appo! Yaak! Kau tetap saja brutal ya Youngie. Kupikir setelah menjelajah Eropa kau belajar bagaimana menjadi seorang perempuan, tapi nyatanya tetap saja masih seperti tukang pukul.” Rajuknya menggodaku. Aku tersenyum, Rae Ah tidak pernah berubah, tetap seorang gadis ceria dan menyenangkan.

“Sudah, sudah kita masuk aku sudah lapar.” Donghae oppa yang sejak tadi diam menyadarkan candaanku dan Rae Ah. Yah, bodohnya kami masih ada di depan rumah dan membiarkan dua tamu terhormat kami, Kim ahjusshi dan ahjumma berdiri tersenyum di belakang kami.

“Annyeong, Ahjusshi. Annyeong Ahjumma.” Sapaku membungkukkan badan pada kedua orang yang telah kuanggap orang tua keduaku ini. “Jeongsohamnida, Aku membuat kalian merasa diabaikan.”

“Ahh,, Soyoung-aa gwenchana, kami mengerti orang tuamu pasti sangat merindukanmu. Kami pun pernah merasakan rindu jauh dari anak-anak kami ketika mereka melaksanakan wajib militer dulu.” Kim ahjusshi tersenyum bijak. “Ayo masuk kita rayakan di dalam. Kajja,,, aku dan ibumu membuat banyak masakan lezat untukmu, Youngie.” ajak Kim ahjumma penuh semangat dengan merangkulku menuju meja makan.

“Hmmm mashitaa~~” seruku senang menyantap sendok pertama dari sup kimchi abalone kesukaanku. “Eomma daebaknika!” dengan semangat menyendok kembali sup itu menuju mulutku, tak peduli semua mata melihatku geli. Pasti mereka berpikir aku seperti gadis yang sudah tidak makan seminggu. Hahhaha…

“Ckckck,, adikku yang manis, kau ini makan seperti orang kelaparan saja. Hahahhaha….” Goda Donghae oppa yang duduk di sampingku sembari memasukkan sepotong besar udang goreng ke mulutku kemudian tertawa terbahak-bahak.

Aku mendelik kesal ke arahnya. “Oppa mm kkau menyiuballkann mm” ujarku kesal dengan mulut penuh udang goreng darinya. Kulihat dia sangat puas tertawa melihatku seperti orang rakus. Hah! Menyebalkan! Awas kau ikan Mokpo! Batinku. Semua orang tersenyum geli melihat pipiku menggembung penuh makanan. Ahh, oppa kau membuat imageku buruk. Aku kan berusaha terlihat elegan dan anggun setelah enam tahun belajar di Amsterdam. Huh…

“Jeongsohamnida kami terlambat!” tiba-tiba terdengar suara yang mengalihkan kesenangan kami di meja makan. Semua menoleh ke arah belakangku, aku kenal suara itu. Mungkinkah…. Kubulatkan mataku melihat sesosok namja tampan dengan rambut berombak hitam dan anting di kedua daun telinganya. Dia masih sama. Tampan dan mempesona seperti terakhir aku melihatnya enam tahun lalu. Aku pun melihat seorang namja yang seumuran denganku berdiri di belakang namja rambut blonde terang itu. Menatapku dengan dengan terkejut.

“Jongwoon oppa kau sudah datang.”

Kudengar suara gembira Rae Ah dengan lincah dia berdiri dari kursinya dan menghampiri namja itu. Aku hanya dapat diam melihat mereka saling berpelukan. Haruskah mereka menunjukkan adegan mesra itu di depanku, di depan keluargaku? Hash apa hakku melarang mereka. “Kajja Oppa semua sudah menunggumu.” Rae Ah menarik tangan Jongwoon mendekat ke meja makan dan menarik kursi di depan Donghae oppa sedangkan Jongjin duduk di sisi kananku. “Cha~~ dengan begini semua lengkap. Jongwoon oppa makanlah yang banyak kau sangat sibuk akhir-akhir ini kan” Serunya senang. Entahlah aku merasa mereka memiliki hubungan yang spesial. Mungkin mereka sudah menjadi sepasang kekasih selama aku tiada di Korea.

Hmm.. aku belum memberi tahu kalian bukan. Namja ini adalah Kim Jongwoon, dia adalah putra pertama dari Kim Ahjusshi dan ahjumma. Dia namja tampan yang mempesona dengan mata sipit, hidung mancung, tubuh yang ramping dan semampai serta senyum yang begitu manis. Sungguh dia tidak berubah. Aku benar-benar senang bertemu dengannya. Dia yah dia salah satu orang yang sungguh sangat kurindukan selama di Amsterdam. Bahkan aku selalu menangis bila rasa rinduku ini sudah tak tertahan. Ingin sekali aku meneleponnya atau pulang ke Korea hanya sekedar melihatnya. Tapi aku tak sanggup melakukannya. Ini menyakitkan. Sangat menyakitkan.

***** 

Jongwoon POV
Aku berdiri di teras dan menatap Soyoung yang sedang duduk berdua dengan Jongjin di halaman samping rumahnya. Sejujurnya aku sangat terkejut tadi ketika melihat dia ada di hadapanku setelah enam tahun ini menghilang. Dia sudah kembali? Kapan? Saat dia pergi enam tahun lalu dia tak memberitahuku dan sekarang? Bahkan dia kembali ke Korea pun juga tak memberitahuku. Apa aku sama sekali tak dianggap olehmu, Soyoungie? dengusku kesal.

Lee Soyoung, gadis remaja yang aku kenal ketika aku masih mengajar musik di sekolahnya. Namun saat ini Soyoung yang kulihat sangatlah berbeda dengan Soyoung yang dulu. Dia sekarang sudah tumbuh menjadi sosok wanita yang cantik dan dewasa. Cara berpakaiannya pun berubah. Dulu aku ingat gadis itu selalu memakai celana jeans panjang dan kaos besar dengan sepatu cats. Dan sekarang? Dia muncul di depanku dengan gaun berwarna hijau muda selutut dengan syal kecil melilit lehernya dan high heels. Aku sungguh tak menyangka selama dia menghilang dia benar-benar telah menjelma menjadi bidadari.

“Youngie, kau jahat sekali kenapa selama enam tahun ini kau sama sekali tak menghubungiku?” kudengar suara Jongjin merajuk karena kesal pada gadis itu. Heyy,, bagaimana bisa dia bersikap kekanakan seperti itu padahal selama ini dia tidak pernah seperti itu. “Kau tahu kan sejak kepergianmu ke Amsterdam aku sangat kesepian. Tak ada lagi temanku yang polos dan ceroboh ini untuk kujahili lagi.” Hash aku benar-benar kesal dengan rajukan-rajukan Jongjin pada Soyoung. Yaak,, Jongjin-ah kau harus ingat kau sudah punya kekasih.

“Mianhae, Jongjin-ah! Bukan aku tak ingin menghubungimu. Hanya saja aku takut merindukanmu dan malah menangis di Amsterdam seorang diri. Aku tidak pernah melupakanmu meski tidak menghubungimu.”

“Arraseo! Tapi tetap saja kau harus kuberi hukuman karena tak meneleponku.”

“Mwoya?? Aishh kau tega menghukum orang yang baru saja pulang dari perjalanan jauh, Jongjin-ah?”

“Tentu saja! Kenapa tidak?”

Kulihat Jongjin mulai mengelitiki pinggang Soyoung dan membuat gadis itu tertawa geli. Jongjin pun ikut tertawa melihat ekspresi kegelian Soyoung. Aishh apa-apaan mereka? Aku benar-benar tidak suka melihat mereka seperti itu.

“EHEEMMM…” aku sengaja berdehem dengan agak keras dan membuat mereka menghentikan tawa mereka dan menoleh padaku. “Bukankah seharusnya kita bercanda dan saling melepas rindu bersama? Bukan justru mengabaikan seseorang di sini.” Tanyaku sengaja. Aku ingin mereka menyadari kesalahan mereka mengabaikan aku. Mengabaikan pria tampan seperti diriku.

“Oh, Jongwoon hyung sejak kapan kau di sana?” Jongjin terkejut melihatku. Aishh anak ini ingin sekali aku menjitak kepalanya.

“Hmmm,, tadi aku ingin bergabung tapi kulihat kalian sedang asyik berdua. Apa mungkin kehadiranku mengganggu acara kalian?” Aku merajuk. Apa ini terlihat aneh? Aku tak peduli.

“Aniyo, Hyung! Kajja kemarilah. Soyoung pasti juga ingin mengobrol denganmu.” Jongjin menghampiriku dan menarik tanganku mendekat ke kursi tempat dia dan Soyoung mengobrol. Kulihat Soyoung hanya diam melihatku. Ada apa ini? Apa gadis ini tidak senang dengan kehadiranku?

“Annyeong, Soyoung-ssi!” ucapku formal. Apa ini? Untuk apa aku seformal ini pada seseorang yang sudah lama kukenal. Tapi aku merasa canggung untuk mulai bicara dengannya. Kenapa? Apa karena kami sudah lama tak bertemu?

“Annyeong Oppa! Lama tak bertemu.” Balasnya singkat.

Heyy ada apa dengannya? Suara dan cara bicaranya terlalu formal padaku. Hah! Aku tidak suka dengan situasi seperti ini. Sangat tidak nyaman! Aku pun duduk di kursi yang sama dengan Soyoung dan Jongjin. Diam. Itu yang kami bertiga lakukan setelah aku bergabung. Benar-benar! Rupanya aku hanya mengganggu mereka, buktinya mereka sama sekali tak bicara setelah aku bergabung.

“Ahh Hyung aku masuk dulu ne. Aku harus ke toilet. Kalian mengobrol lah dulu.” Jongjin berdiri dan berpamitan padaku dan Soyoung tersenyum aneh dan meninggalkan kami. Yaak kenapa kau justru meninggalkan aku hanya berdua dengan Soyoung, Jongjin-ah? Dasar menyebalkan!

*****

Author POV
Hening! Hanya itu yang kini terasa. Tak ada satupun dari kedua insan berlainan jenis ini yang mencoba membuka mulut. Mereka diam dan menatap kosong ke depan tanpa tahu harus berbuat apa.

“Lama tak bertemu, Soyoungie.” Jongwoon membuka mulutnya memulai pembicaraan mereka setelah beberapa menit membisu. “Aku terkejut melihat kau sudah kembali ke Korea.”

“Ne?? Oh.. Sudah sangat lama aku pergi. Aku sengaja tidak memberitahu semua tentang kepulanganku. Hanya appa, eomma dan Donghae oppa saja yang kuberi tahu.” Soyoung tidak berpaling sama sekali.

“Kurasa tidak seperti itu kelihatannya. Appa dan eommaku ada di sini. Itu berarti mereka tahu kau kembali hari ini.” Jongwoon menghembuskan napas berat dan mulai menyandarkan punggungnya, menoleh ke Soyoung yang duduk di sampingnya. Dia berusaha santai meski rasa canggung itu masih ada. “Aku merasa sepertinya hanya aku saja yang tidak tahu kau kembali hari ini.”

“Aku tidak terkejut.” Soyoung melirik sekilas Jongwoon kemudian memutar kembali matanya ke depan. “Kau memang tidak pernah tahu tentang diriku.” Ucapnya lagi.

“Itu kata-kata yang menyakitkan. Kau seperti menghakimi ketidak tahuanku tentang kepulanganmu.” Jongwoon masih tetap menatap tajam Soyoung meski gadis itu tak memandangnya. “Apa kau sengaja melakukannya?”

“Mwoya?”

“Yah apa kau sengaja kembali tanpa memberi tahuku? Sama seperti yang kau lakukan ketika pergi meninggalkanku ke Amsterdam enam tahun lalu. Bahkan kau tak menghubungiku setelahnya.”

“Apa itu berarti bagimu, Jongwoon oppa?” kini dengan tegas Soyoung membalas tatapan tajam Jongwoon. Dia tersenyum samar. “Kupikir tak akan berpengaruh apapun aku ada ataupun tidak ada di dekatmu.”

“Apa mak….”

“Jongwoon-ah, Youngie kajja cepat kemari!” kata-kata Jongwoon terpotong oleh intrupsi ibu Soyoung dari arah teras. Jongwoon dan Soyoung segera menoleh ke belakang dan melihat wanita paruh baya itu melambaikan tangan menyuruh mereka masuk. “Palliwa,, semua sudah berkumpul untuk mendengarkan pengumuman penting ini.”

“Pengumuman penting?” gumam Soyoung heran. Dia mengerutkan alisnya. Sungguh dia tidak tahu akan ada acara memberi pengumuman ketika keluarga dan sahabat dari orang tuanya berkumpul. Hanya bila akan ada yang benar-benar penting baru mereka akan mengumumkannya pada semua anggota keluarga.

Jongwoon berjalan terlebih dahulu tanpa menoleh lagi pada Soyoung. Gadis itu masih terpaku dan bertanya-tanya akan pengumuman itu. Namun beberapa detik berikutnya gadis itu tersadar dan berdiri serta melangkahkan kakinya mengekor Jongwoon. Soyoung mendudukan dirinya di samping Jongjin dan semakin bingung melihat ayahnya dan Kim ahjusshi saling berbisik bahagia.

“Yeobo, semua telah berkumpul sekarang saatnya kita mengumumkan berita bahagia ini ke semua orang. Ayolah aku sudah tidak sabar memberitahu kabar bahagia ini.” Nyonya Lee, ibu Soyoung mengingatkan suaminya yang masih asyik berbisik ria dengan Kim Ahjusshi.

“Ahh, baiklah semua sudah berkumpul rupanya.” Sang kepala keluarga Tuan Lee tersenyum lebar. Entahlah wajah pria lima puluh tahun lebih ini terlihat lebih muda bila sedang bahagia seperti ini. “Dengarkan baik-baik kabar ini, karena kabar ini merupakan kabar paling membahagiakan di keluarga ini.”

“Appa cepatlah apa yang ingin kau beri tahukan pada kami, humm?” Donghae menyela ayahnya. “Soyoung belum beristirahat sejak tadi dia pasti lelah.”

“Ahh baiklah baiklah. Aku dan Kim ahjusshi sudah membuat keputusan mengenai masa depan keluarga ini.” Tn. Lee kembali tersenyum dan melirik Kim ahjusshi yang berdiri di sampingnya menganggukkan kepala. “Jongwoon-ah, selamat nak pertunanganmu dengan Rae Ah akan kami selenggarakan 2 bulan dari sekarang.” Dengan mantap Tn. Lee mengumumkan kabar yang tadi ditunggu semua anggota keluarganya.

“Mwo? Pertunangan?” Serempak Donghae dan Jongjin bertanya dengan nada tinggi kemudian melirik ke arah Soyoung yang mendadak menahan nafasnya tegang. “Maksud appa dengan pertunangan Jongwoon hyung dengan Rae Ah itu apa?” kembali Donghae meminta penjelasan dari sang ayah.

“Ne,, Donghae-ya, appa sudah memutuskan mempercepat pertunangan Jongwoon dan Rae Ah menjadi 2 bulan lagi.” Tn. Lee kembali menganggukkan kepalanya. “Hal ini tentu karena putri kesayangan appa, Soyoung kembali lebih cepat dari rencana awal. Jadi tak perlu berlama-lama lagi menunda pertunangan Jongwoon dan Rae Ah.”

“Eomma sangat bahagia.” Ujar Ny. Lee menyambung perkataan suaminya. “Kemarilah Rae-ya, Jongwoon-ah!” wanita itu merentangkan tangannya menyambut pelukan Rae Ah yang terlihat begitu bahagia karena kabar pertunangannya. “Imo sudah tak sabar dengan pertunangan kalian. Jongwoon-ah kau pasti juga sangat bergembira bukan?” Ny. Lee menepuk pelan bahu Jongwoon yang berdiri di hadapannya dengan senyum gembira.

Semua yang berada di ruangan tersebut begitu gembira mendengar bahwa pertunangan Kim Jongwoon dan Shim Rae Ah akan dipercepat dari rencana awal. Bahkan Tn. Lee dan Tn. Kim saling berpelukan sebagai wujud kebahagiaan mereka. Namun di tengah kegembiraan itu ada tiga orang yang tak tersenyum sama sekali. Lee Soyoung. Gadis ini hanya dapat membisu menatap kosong Shim Rae Ah dan Kim Jongwoon yang ada di depannya. Sementara Donghae dan Jongjin hanya saling menatap dan menggelengkan kepala tak percaya.

“Baiklah, apa.. apa masih ada yang akan appa sampaikan lagi?” tanya Soyoung dengan suara yang agak bergetar. Entahlah raut wajah gadis ini berubah murung tak seperti tadi. “Bila tidak ada aku,, aku mohon diri untuk beristirahat di kamarku, Appa.”

“Astaga, aku lupa. Aishh jinja! Kau pasti sangat lelah sayang. Ya sudah pergilah ke kamarmu dan beristirahatlah.” Tn. Lee mengelus puncak kepala Soyoung dan tersenyum bijak.

Soyoung membalas senyuman ayahnya, kemudian bangkit dan memberi salam pada semua orang di ruangan itu. Dia melangkah meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh ke belakang lagi. Sakit. Hatinya terasa sakit. Akan lebih sakit bila dia menoleh. Sakit ketika menerima kenyataan yang beberapa detik lalu dia dengar.
*****


Soyoung POV
Aku merebahkan tubuhku ke ranjang yang sudah lama tak kutiduri lagi. Nyaman dan tenang. Yah beginilah suasana kamarku. Tidak pernah berubah meski telah lama kutinggalkan. Namun semua rasa nyaman ini tetap saja tak mampu mengurangi rasa sakit dihatiku. Ternyata benar, selama enam tahun ini hubungan Jongwoon oppa dan Rae Ah telah mengalami peningkatan. Pertunangan? Tak kusangka hubungan mereka sudah begitu serius hingga memutuskan untuk bertunangan.

Tak terasa air mataku mengalir ke pipiku. Mataku terasa panas. Pabboya, Sooyeon-aa! Bagaimana kau masih berharap cinta Jongwoon? Dari dulu pun kau tahu Jongwoon tak mencintaimu. Seharusnya kau tahu kau hanya batu penghalang antara Jongwoon dengan Yoonhee. Kumaki diriku sendiri yang masih belum mampu melupakan Jongwoon. Ternyata enam tahun waktu yang kulalui dalam pelarianku untuk melupakannya sia-sia. Kim Jongwoon. Bahkan nama itu masih melekat sempurna dihatiku.

Mungkin kalian heran denganku. Yah aku hanya gadis bodoh yang berharap mendapatkan cinta seorang pangeran sempurna seperti Kim Jongwoon. Kupikir aku mampu melupakannya ternyata ini lebih sulit. Tapi pertunangan itu? Sudah saatnya aku melupakan Jongwoon. Sebentar lagi dia akan terikat dengan seorang gadis. Tak pantas aku masih mengharapkannya seperti ini. Terutama gadis itu sudah seperti saudara kandungku sendiri.

Ceklek~~

“Youngie, gwenchanayo?” kudengar suara cemas Donghae oppa dari setelah pintu kamarku terbuka. Aku bangkit dan menatap sendu sosoknya. “Hey, kau menangis. Gwenchanayo?” sambungnya sembari duduk di tepi ranjangku. Tangannya mengusap lembut pipiku. Menghapus airmata yang belum sempat kuhapus. Aku dapat melihat kecemasan dari ekspresinya. Dia mengkhawatirkanku.

“Gwenchana, Oppa! Aku baik-baik saja.” Aku menghela napas panjang. Berusaha mengisi paru-paruku yang sesak setelah mendengar kabar pertunangan Jongwoon oppa dan Rae Ah. Namun entahlah, aku tetap merasa belum lega. “Oppa jangan menatapku seperti itu. Aku baik-baik saja. Jangan mengkhawatirkan aku seperti itu, Oppa.”

Greppp

Dengan cepat Donghae oppa memelukku erat. “Jangan berbohong, Youngie! Oppa tahu ini sangat menyakitkan bagimu. Matamu memancarkan semua perasaanmu, adikku.” Kudengar nada bergetar dari kata-kata Donghae oppa. Sungguh bila seperti ini aku tak sanggup lagi menahan airmataku.

“Mianhae, Oppa!” ucapku lirih. “Mianhae, aku belum bisa menghilangkan perasaan ini. Aku sudah berusaha,, hanya saja aku,, hiks,,” airmataku benar-benar mengalir deras kali ini. Aku tak mampu lagi mengontrol perasaanku sendiri. Enam tahun berusaha melupakan Jongwoon oppa dan meninggalkan Korea. Namun tetap saja rasa sakit itu masih ada menyadari aku takkan dapat memiliki cintanya.

“Kau tidak salah, Youngie. Ini bukan salahmu. Cinta itu seperti anak panah yang dilesatkan. Dia dapat datang dihati siapa saja. Begitu pula cintamu pada Jongwoon hyung.”

“Tapi aku bisa apa, Oppa? Kenyataannya adalah cintaku ini tidak terbalaskan. Cinta ini hanya sebuah cinta sepihak.” Kulepaskan pelukan Donghae oppa. Menatapnya dengan mata penuh airmata. “Bertahun-tahun kupendam cinta ini. Berusaha menerima bahwa aku takkan pernah bisa memilikinya. Berusaha hidup tanpa nama dan keberadaan Jongwoon oppa, berusaha berdiri tanpa bayangannya. Namun tetap saja aku lemah. Hatiku belum mampu melupakannya. Aku harus bagaimana, Oppa?”

Donghae oppa tak menjawabku. Dia kembali memelukku dan membiarkan aku menangis dipelukannya. Aku bersyukur memiliki oppa yang begitu lembut seperti Donghae oppa. Hanya dia tempatku bersandar dari semua kekecewaanku akan kenyataan kisah cintaku. Cinta yang bersembunyi dibalik ikatan persahabatan dan berusaha tersenyum menahan semua luka.

“Youngie! Jangan bersedih lagi. Oppa tahu ini takkan membantumu tapi oppa percaya kau sanggup menghadapinya. Kau adikku yang kuat. Seperti yang dulu pernah kukatakan, kita bisa berusaha memperjuangkan cinta kita, namun bila kita belum mendapatkan seseorang yang kita cintai setidaknya kita pernah memperjuangkannya. Jadi jangan menyesal, Sayang.” Donghae oppa kembali tersenyum lembut. Memberiku kekuatan untuk bertahan melewati semua ini. Oppa benar. Setidaknya aku sudah memperjuangkan cintaku pada Jongwoon oppa, bukan salahnya yang tidak membalas perasaanku.

“Ara, Oppa. Aku tidak pernah menyesal mencintai Jongwoon oppa. Oppa jangan khawatir. Ini bukan yang pertama. Bahkan aku sudah melewati semua ini sejak 10 tahun lalu. Aku pasti kuat, Oppa. Setelah ini mungkin akan mudah bagiku melupakannya. Setelah aku melihat dia terikat dengan Rae Ah.” Mungkinkah? Mungkinkah seorang Soyoung mampu melupakan Jongwoon? Kau bercanda, Nona Lee?? Sindirku pada diriku sendiri.

“Apa Oppa sudah mengetahui dari awal mengenai pertunangan Jongwoon dengan Rae Ah? Apa itu sebabnya Oppa memintaku menunda kepulanganku hingga tahun depan? Jawab aku, Donghae oppa.”

“Maafkan Oppa, Youngie! Oppa hanya tidak ingin kau semakin terluka. Appa merencanakan pertunangan itu awal musim dingin tapi Oppa tidak menyangka kepulanganmu justru membuat Appa mempercepat rencana pertunangan sialan itu.”

Aku memalingkan wajahku, memandang pintu balkon kamarku yang terbuka. Apa aku begitu menyedihkan? Atau memang takdir ingin memperlihatkan padaku bahwa Jongwoon oppa bukan untukku. Kau sangat menyedihkan Lee Soyoung. Sangat menyedihkan.

“Gwenchana, Oppa. Aku tidak menyesal kembali ke Korea. Seperti tujuanku, aku kembali untuk appa, eomma dan untukmu. Aku bukan Soyoung yang dulu. Aku akan tetap menjalani kehidupanku dengan ataupun tanpa Jongwoon oppa. Aku sudah berjanji bukan?”

Baiklah pertunangan itu sudah menyadarkanku. Aku tidak bisa selamanya bersembunyi dan mengingkari kenyataannya. Sekarang. Mulai dari sekarang aku harus berusaha melupakan Jongwoon Oppa. Ini akan menyakitkan tapi bagaimanapun aku harus tetap berbahagia. Tidak apa-apa bukan. Jongwoon akan bahagia menjalani kehidupannya dengan gadis pujaannya. Bukan kah itu arti cinta yang sebenarnya? Tidak apa-apa meski kau terluka selama orang yang kau cintai dapat hidup dengan bahagia.
*****

Author POV
Han River’s Park
Soyoung kembali tersenyum ketika melihat beberapa anak kecil berlarian mengejar bola mainan mereka. Ini hari kelima dia setelah kembali dari Amsterdam dan setelah merasa cukup tenang karena rencana pertunangan Jongwoon dan Rae Ah, Soyoung memilih menikmati sorenya di tepi sungai Han. Dia meletakkan novel yang dibacanya dan menghampiri seorang gadis kecil yang tiba-tiba terjatuh saat berlari di hadapannya. “Samchon…. Hueeeee.….” Gadis itu menangis dan masih dengan keadaan tengkurap karena jatuh.

“Gwenchana adik manis?” tanyanya lembut dengan senyum ramah yang masih terpatri di bibirnya. Soyoung menggendong gadis kecil yang menangis dengan hati-hati. “Lututmu terluka, biar kuobati ya, uljima.” Dengan cepat Soyoung kembali ke kursi taman yang sempat dia tinggalkan tadi dan mendudukan gadis kecil itu di kursi. Soyoung membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak obat kecil dari dalamnya. Tentu saja, sebagai seorang dokter dia selalu harus siap dengan kotak obat bila keadaan seperti saat ini terjadi. Soyoung membersihkan luka itu dengan alkohol dan menutup lukanya dengan kain kasa steril.

“Cha,, lukamu sudah bersih dan tertutup tidak akan infeksi.” Ujarnya lagi. “Uljima…”

“Telima kasih, Eonni!” gadis kecil itu menghentikan tangisnya dan melihat lututnya yang sudah diobati. “Samchon…” gadis kecil itu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang dipanggilnya Samchon.

“Samchon? Apa kau ke sini bersama Samchonmu? Di mana Samchon-mu?” Soyoung ikut menoleh mencari seseorang yang kiranya datang bersama gadis kecil ini. Tidak ada. Taman ini ramai dikunjungi orang-orang di sore hari dan Soyoung tidak dapat menebak siapa satu dari sekian banyak orang yang datang bersama gadis kecil ini.

“Samchon… Hikss”

Soyoung menoleh lagi pada gadis kecil itu. “Uljima, kita cari Samchonmu bersama-sama, oke” Soyoung beranjak dari posisinya. Menuntun tangan gadis kecil itu dengan lembut mencari Samchonnya. Dia sedikit heran namja seperti apa yang bisa dengan kecerobohan tingkat tinggi lupa kalau dia membawa seorang anak kecil.

“Kim Jiyoungie… “ seruan Seorang namja bertubuh mungil tiba-tiba muncul di belakang Soyoung. Dia terkejut melihat gadis kecil itu turun dari kursi dan berlari menghampiri namja tadi.

“Ryeowook Samchon…”

Namja mungil bernama Ryeowook itu melebarkan matanya melihat seorang gadis kecil berlari ke arahnya dan seorang gadis mengejarnya dari belakang. “Jiyoung..? Astaga..” Ryeowook menekuk lutut dan merentangkan tangannya menyambut Kim Jiyoung, gadis kecil yang berlari ke arahnya.

Grepp~~

Ryeowook langsung mengangkat Jiyoung dalam gendongannya dengan perasaan lega. Rasa cemas yang menderanya ketika mencari Jiyoung lenyap seketika. “Astaga Jiyoungie kau kemana saja tadi?? Samchon sudah katakan kan jangan pergi kemana-mana sebelum Samchon datang membawa es krim.” tanyanya tak sabar sesaat dia lupa dengan gadis yang mengejar Jiyoung.

“Ryeowook? Kau… Kim Ryeowook??” Soyoung dengan napas tersengal-sengal bertanya heran dengan namja yang menggendong anak kecil yang ditolongnya tadi.

“Iya aku….” Ucapan Ryeowook menggantung begitu dia membalikkan badan dan melihat siapa yang bertanya padanya. Dia melongo terkejut tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. “Kau?? Ini benar-benar kau?? Lee Soyoung?? Aaaaa.. kau Lee Soyoung??” Ryeowook berseru tak percaya.

“Hahaha Wookie.. iya aku.. Aku Lee Soyoung.” Soyoung tersenyum senang melihat keterkejutan laki-laki di hadapannya ini. “Lama tak bertemu, Ryeowookie..” Soyoung terdiam “Kau tak mau menyambutku??” sambungnya kemudian.

Grepp

“Soyoungie…” tanpa aba-aba Ryeowook memeluk Soyoung dengan erat. Dia tetap tidak percaya melihat gadis itu muncul di depannya dengan tiba-tiba. “Kapan kau pulang?? Kenapa tak mengabari aku sebelumnya??” Tangan Ryeowook membelai lembut rambut coklat Soyoung berusaha meyakinkan bahwa gadis itu nyata.

“Aku merindukanmu, Wookie.” Bisik Soyoung lirih. Tanganya terulur membalas pelukan erat Ryeowook. “Aku menginjakkan kakiku 5 hari lalu, karena aku pulang tiba-tiba jadi aku tidak sempat memberikan kabar apapun.”

“Huh.. kau benar-benar jahat, Youngie!” Ryeowook merajuk. Masih dengan memeluk Soyoung erat. Sejenak mereka lupa di mana mereka berada saat ini. Dan berpelukan untuk beberapa lama tentu akan menarik perhatian banyak orang. Terlebih mereka berpelukan erat di hadapan seorang anak kecil tak berdosa.

Tanpa mereka sadari, jauh dari tepi jalan seorang namja tengah memperhatikan mereka dari dalam Lamboghini merahnya. Mata sipitnya menatap tajam Soyoung dan Ryeowook yang masih berpelukan. “Ckck.. Kupikir dia kembali ke Amsterdam, menghilang dengan tiba-tiba dan membuat semua orang panik mencarinya. Rupanya dia tengah bermesraan melepas rindu dengan kekasih lama.” Dengus namja itu tanpa sadar. Dia menaikkan kaca mobil, menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya sedetik sebelum Soyoung dan Ryeowook melepaskan pelukan mereka.

”Ayo ceritakan padaku apa saja yang kau lakukan selama 6 tahun di Belanda! Kau kan janji hanya akan pergi selama 4 tahun mengapa jadi 6 tahun baru pulang ke Korea. Ish kau harus dihukum karena meninggalkanku selama itu!” ujar Ryeowook kemudian menggendong Jiyoung dan menggandeng Soyoung ke sebuah toko es krim di taman itu.

“Hahaha.. baiklah baiklah Wookie. Tapi kau harus mentraktir kami berdua semangkuk besar es krim bagaimana??” Soyoung membalas dan tertawa mendengar perkataan Ryeowook, “Bagaimana, gadis manis kau mau es krim??” pertanyaan Soyoung disambut semangat dari Jiyoung dan dengan gesit Jiyoung melompat ke dalam gendongan Soyoung dan berseru girang

“Samchon halus tlaktil Jiyoung dan Eonni cantik es klim coklat satu mangkuk besaaaalllll”

Ryeowook dan Soyoung tertawa gembira menanggapi celotehan bocah 4 tahun itu, dengan gemas Ryeowook mencubit pipi gembul Jiyoung dan berkata “Baiklah,, baiklah sepertinya Samchon harus membuang banyak uang untuk mentraktir dua orang penggila es krim ini, eoh??”

“Nee.. halus Samchon… es klim dengan mangkuk besaaalllll”

Dan sore itu Soyoung merubah tujuannya untuk sekedar mencari udara segar di luar rumah. Setelah bertemu Ryeowook, gadis ini memutuskan untuk menikmati matahari terbenam bersama Ryeowook dan Jiyoung di toko es krim. Keceriaan terpancar dari mereka bertiga terlebih tingkah menggemaskan Jiyoung selalu mengundang tawa Ryeowook dan Soyoung. Dia benar-benar melupakan sedikit luka hatinya di sore yang indah itu bersama Ryeowook dan Jiyoung.

~~~TBC~~~

Tidak ada komentar: