Cast :
Kim Jong Woon aka Yesung Super Junior
Lee
Soyoung (OC)
Jung Rae Ah (OC)
Others :
Kim Ryeowook
Lee Donghae
Kim Jongjin
Genre : Romance, Sad, Friendship
Length :
Series
Rated : 17 +
Author
: RinPanda
Disclaimer : Hallo semuaaaa…. Perkenalkan aku RinPanda :) sebelumnya aku gak akan bilang
aku seorang author, di sini aku Cuma mau sekedar membagi cerita dari ff lamaku
yg udh setengah tahun aku museumkan di lappy. Cast ff ini adalah namja kesayanganku
Yesung ^_^
Judul ff kali ini sengaja aku ambil dari judul salah satu lagu 2AM yang
menurut aku bermakna paling mendalam kekekke…. Semua cast dicerita ini milik
Tuhan YME dan milikku *plakk xD aku berharap masukan dari kalian mengenai alur
dan penyampaiannya itu bisa jadi introspeksi buat tulisanku. Satu lagi tolong
berhati-hati dengan cerita ini karena ranjau bertebaran dimana-mana XDD
Okkee daripada banyak ngoceh dan bikin ngantuk mending langsung aja
ceritanya :)
Background Song :
1. Confession
of A Friend – 2AM
2. For One
Day – Yesung
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Baby ijeneun naegewa
(Sayang, datang padaku
sekarang)
And be my baby neomu na oraet dongan
(dan jadilah kekasihku, untuk
waktu yang lama)
jikyeo bwasseo mal eopsiseoseo
jikyeo bwasseo mal eopsiseoseo
(Aku sudah
memperhatikanmu dan berdiri diam-diam)
anta kkaun gaseumeul sumgimyeo
anta kkaun gaseumeul sumgimyeo
(dan menyembunyikan perasaan
hatiku dari kesedihan)
chinguro chinguro jinaeya handani yuro
chinguro chinguro jinaeya handani yuro
(Karena suatu alasan, alasan
bahwa kita harus tetap sebagai teman)
mok kkaji cha ollat deon
mok kkaji cha ollat deon
(Aku ingin memberitahumu
berkali-kali)
geu gobaegeul chamaya haesseo
geu gobaegeul chamaya haesseo
(tapi aku memegangi
pengakuanku)
hajiman ijeneun gobaek halkke
hajiman ijeneun gobaek halkke
(Tapi sekarang aku akan
mengaku)
neoreul sarang hae
neoreul sarang hae
(Aku mencintaimu)
Author POV
Incheon Airport
Siang yang panas di awal musim panas ini sama sekali
tidak menyurutkan kesibukan di bandara yang pernah menjadi bandara terbaik di
dunia ini. Yah, lalu lalang penumpang, pilot serta pramugari yang datang dan
akan pergi meninggalkan korea bagaikan tiada habisnya. Dari arah pintu
kedatangan, terlihat segerombolan penumpang yang baru saja turun dari pesawat
yang membawa mereka dari Amsterdam ke Seoul, Korea Selatan.
“Sudah 6 tahun! Rasanya sungguh aku sangat merindukan
Seoul.” Gumam ceria seorang gadis cantik berambut coklat tua panjang yang di
bagian bawahnya dia buat berombak. Dia menarik koper besarnya dengan senyum
sumringah, mengingat tak lama lagi dia akan segera berkumpul dengan orang-orang
yang dicintainya. Enam tahun sendirian di negara orang demi merintis karier dan
meninggalkan semua orang yang dia cintai memang bukanlah hal yang mudah. Namun,
kini dia membuktikan, dia mampu meraih impiannya dan pulang dengan penuh
kebanggaan.
“Hei, Nona Lee!!” sebuah suara berat tak jauh darinya
memanggilnya dengan keras mengalihkan perhatian beberapa orang di sekitarnya.
Lee Soyoung, gadis bermata bulat indah itu menggelengkan kepalanya dan
tersenyum senang menghampiri seorang namja tampan yang memanggilnya barusan.
“Omoo, sudah lama tak bertemu denganmu, kau sudah semakin dewasa, Soyoungie.”
Imbuh namja itu lagi ketika Soyoung telah berdiri di hadapannya.
“Oppa…” Soyoung tersenyum bahagia lalu menghambur ke
pelukan namja itu. “Donghae oppa bogoshipeoyo!” Jari-jemari lentiknya memeluk
erat punggung Lee Donghae, namja yang memanggilnya tadi. Seolah meluapkan
segala kerinduan yang telah lama dia pendam dihatinya. Lega. Itu yang kini ia
rasakan.
“Hahahha… ternyata kau merindukan Oppa juga humm? Oppa
pikir kau takkan pernah lagi menginjakkan kakimu di negerimu sendiri. Nado
bogoshipoyo, Lee Soyoung” Donghae tersenyum dan mengelus pelan rambut Soyoung
dipelukannya. “Oppa sungguh terkejut, nae dongsaeng neomu yeppo.”
Soyoung melepas pelukannya dan menatap Donghae dengan
bibir mengerucut dan pipi menggelembung. Dia pura-pura kesal dengan pertanyaan
bodoh kakaknya ini. ‘Bagaimana mungkin aku tidak merindukanmu Donghae oppa?
Bahkan seandainya aku mampu, aku akan memilih pulang ke Korea dan melupakan
alasan kepergianku. Dasar ikan Mokpo, kau benar-benar menyebalkan!’ batinnya
kesal. “Aishh jinjja. Kau benar-benar menyebalkan, Oppa” Soyoung memukul-mukul
pelan lengan Donghae yang tertawa melihat ekspresi menggemaskan adiknya.
“Arra, arra!! Oppa tahu kau tidak akan bisa hidup tanpa
Oppamu yang tampan ini bukan? Hahaha…” Donghae mengacak pelan rambut Soyoung
kemudian menarik koper besar dongsaengnya itu. “Kajja,, semua sudah menunggu
kepulanganmu di rumah. Appa, eomma bahkan Kim ahjusshi dan ahjumma juga sudah
berkumpul di sana.”
“Kim Ahjusshi dan ahjumma?” Soyoung berhenti melangkah
dan melebarkan matanya. “Apa yang mereka tahu tentang kepulanganku, Oppa?”
tanyanya penasaran.
“Tentu saja! Sejak kau pergi mereka selalu menanyakanmu.
Sudahlah, mereka sudah menunggumu di rumah. Kajja…”
*****
Soyoung POV
Aku segera keluar dari mobil Donghae oppa begitu
kami sampai di depan rumahku. Hah.. Rasanya sangat menyenangkan menatap rumah
yang sudah kutinggalkan selama beberapa tahun ini. Appa, eomma jeongmal
bogoshipeoyo‼ Aku tersenyum begitu menatap pintu utama rumahku
bergerak.
Ceklek~~
“Soyoungie…” seru wanita paruh baya yang tetap
terlihat cantik dan mempesona di usianya saat ini berhambur memelukku. Dialah
eommaku. “Eomma sangat merindukanmu, sayang.” aku membalas pelukan eomma dan
melepaskan semua kerinduanku.
“Bogoshipeo, Eomma..” bisikku haru. Sungguh aku
ingin sekali menangis saat ini. Bukan karena sedih, namun karena begitu
gembiranya hatiku bertemu dengan keluargaku lagi. “Appa.. bogoshipeo appa”
segera kulepas pelukan eomma dan berjalan mendekati appaku. Appa tersenyum
menatapku dan mengelus lembut puncak kepalaku.
“Tak appa sangka, putri kecil appa sudah tumbuh
dewasa. Kini putri kecil appa sudah menjadi gadis cantik dengan gelar dokter
mudanya.” Aku tersenyum senang sebagai balasan kata-kata appa. Memang berat
tapi aku bersyukur kepulanganku dapat membawa kebanggaan bagi kedua orang
tuaku.
“Apa kalian akan terus saling berpelukan di sini?
Dan membiarkan makanan yang telah terhidang dingin begitu saja.” Suara lembut
seseorang menyentakkan keharuan aku dan appa. Kudongakkan kepalaku melihat
siapa yang sempat bergurau barusan. Aku tersenyum melihatnya. Dia tetap sama.
Selalu tampil cantik, modis dan elegan. Tak pernah berubah. Jung Rae Ah, gadis
cantik yang sudah aku anggap seperti saudara kandungku ini. Aku benar-benar
merindukannya.
“Rae-ya…” seruku senang. Dia menghampiri dan
memelukku. “Samchon, kajja kita masuk. Soyoung pasti sudah sangat lapar dan
pasti akan sangat lahap menghabiskan makanan buatan Imo.” Celetuknya menggodaku
setelah melepas pelukanku padanya. Aishh kau ini Rae-ya! Aku sudah tidak
serakus itu, arra! Aku sudah menurunkan berat badanku dan belajar menjadi gadis
yang elegan sepertimu, dengusku kesal sembari kupukul bahunya pelan.
“Appo! Yaak! Kau tetap saja brutal ya Youngie.
Kupikir setelah menjelajah Eropa kau belajar bagaimana menjadi seorang
perempuan, tapi nyatanya tetap saja masih seperti tukang pukul.” Rajuknya
menggodaku. Aku tersenyum, Rae Ah tidak pernah berubah, tetap seorang gadis
ceria dan menyenangkan.
“Sudah, sudah kita masuk aku sudah lapar.”
Donghae oppa yang sejak tadi diam menyadarkan candaanku dan Rae Ah. Yah,
bodohnya kami masih ada di depan rumah dan membiarkan dua tamu terhormat kami,
Kim ahjusshi dan ahjumma berdiri tersenyum di belakang kami.
“Annyeong, Ahjusshi. Annyeong Ahjumma.” Sapaku
membungkukkan badan pada kedua orang yang telah kuanggap orang tua keduaku ini.
“Jeongsohamnida, Aku membuat kalian merasa diabaikan.”
“Ahh,, Soyoung-aa gwenchana, kami mengerti orang
tuamu pasti sangat merindukanmu. Kami pun pernah merasakan rindu jauh dari
anak-anak kami ketika mereka melaksanakan wajib militer dulu.” Kim ahjusshi
tersenyum bijak. “Ayo masuk kita rayakan di dalam. Kajja,,, aku dan ibumu
membuat banyak masakan lezat untukmu, Youngie.” ajak Kim ahjumma penuh semangat
dengan merangkulku menuju meja makan.
“Hmmm mashitaa~~” seruku senang menyantap sendok
pertama dari sup kimchi abalone kesukaanku. “Eomma daebaknika!” dengan semangat
menyendok kembali sup itu menuju mulutku, tak peduli semua mata melihatku geli.
Pasti mereka berpikir aku seperti gadis yang sudah tidak makan seminggu.
Hahhaha…
“Ckckck,, adikku yang manis, kau ini makan
seperti orang kelaparan saja. Hahahhaha….” Goda Donghae oppa yang duduk di
sampingku sembari memasukkan sepotong besar udang goreng ke mulutku kemudian
tertawa terbahak-bahak.
Aku mendelik kesal ke arahnya. “Oppa mm kkau
menyiuballkann mm” ujarku kesal dengan mulut penuh udang goreng darinya.
Kulihat dia sangat puas tertawa melihatku seperti orang rakus. Hah!
Menyebalkan! Awas kau ikan Mokpo! Batinku. Semua orang tersenyum geli melihat
pipiku menggembung penuh makanan. Ahh, oppa kau membuat imageku buruk. Aku kan
berusaha terlihat elegan dan anggun setelah enam tahun belajar di Amsterdam. Huh…
“Jeongsohamnida kami terlambat!” tiba-tiba
terdengar suara yang mengalihkan kesenangan kami di meja makan. Semua menoleh
ke arah belakangku, aku kenal suara itu. Mungkinkah…. Kubulatkan mataku melihat
sesosok namja tampan dengan rambut berombak hitam dan anting di kedua daun
telinganya. Dia masih sama. Tampan dan mempesona seperti terakhir aku
melihatnya enam tahun lalu. Aku pun melihat seorang namja yang seumuran
denganku berdiri di belakang namja rambut blonde terang itu. Menatapku dengan dengan
terkejut.
“Jongwoon oppa kau sudah datang.”
Kudengar suara gembira Rae Ah dengan lincah dia
berdiri dari kursinya dan menghampiri namja itu. Aku hanya dapat diam melihat
mereka saling berpelukan. Haruskah mereka menunjukkan adegan mesra itu di
depanku, di depan keluargaku? Hash apa hakku melarang mereka. “Kajja Oppa semua
sudah menunggumu.” Rae Ah menarik tangan Jongwoon mendekat ke meja makan dan
menarik kursi di depan Donghae oppa sedangkan Jongjin duduk di sisi kananku.
“Cha~~ dengan begini semua lengkap. Jongwoon oppa makanlah yang banyak kau
sangat sibuk akhir-akhir ini kan” Serunya senang. Entahlah aku merasa mereka
memiliki hubungan yang spesial. Mungkin mereka sudah menjadi sepasang kekasih
selama aku tiada di Korea.
Hmm.. aku belum memberi tahu kalian bukan. Namja
ini adalah Kim Jongwoon, dia adalah putra pertama dari Kim Ahjusshi dan
ahjumma. Dia namja tampan yang mempesona dengan mata sipit, hidung mancung,
tubuh yang ramping dan semampai serta senyum yang begitu manis. Sungguh dia
tidak berubah. Aku benar-benar senang bertemu dengannya. Dia yah dia salah satu
orang yang sungguh sangat kurindukan selama di Amsterdam. Bahkan aku selalu
menangis bila rasa rinduku ini sudah tak tertahan. Ingin sekali aku
meneleponnya atau pulang ke Korea hanya sekedar melihatnya. Tapi aku tak
sanggup melakukannya. Ini menyakitkan. Sangat menyakitkan.
*****
Jongwoon POV
Aku berdiri di teras dan menatap Soyoung yang
sedang duduk berdua dengan Jongjin di halaman samping rumahnya. Sejujurnya aku
sangat terkejut tadi ketika melihat dia ada di hadapanku setelah enam tahun ini
menghilang. Dia sudah kembali? Kapan? Saat dia pergi enam tahun lalu dia tak
memberitahuku dan sekarang? Bahkan dia kembali ke Korea pun juga tak
memberitahuku. Apa aku sama sekali tak dianggap olehmu, Soyoungie? dengusku
kesal.
Lee Soyoung, gadis remaja yang aku kenal ketika
aku masih mengajar musik di sekolahnya. Namun saat ini Soyoung yang kulihat
sangatlah berbeda dengan Soyoung yang dulu. Dia sekarang sudah tumbuh menjadi
sosok wanita yang cantik dan dewasa. Cara berpakaiannya pun berubah. Dulu aku
ingat gadis itu selalu memakai celana jeans panjang dan kaos besar dengan sepatu
cats. Dan sekarang? Dia muncul di depanku dengan gaun berwarna hijau muda
selutut dengan syal kecil melilit lehernya dan high heels. Aku sungguh tak
menyangka selama dia menghilang dia benar-benar telah menjelma menjadi
bidadari.
“Youngie, kau jahat sekali kenapa selama enam
tahun ini kau sama sekali tak menghubungiku?” kudengar suara Jongjin merajuk
karena kesal pada gadis itu. Heyy,, bagaimana bisa dia bersikap kekanakan
seperti itu padahal selama ini dia tidak pernah seperti itu. “Kau tahu kan
sejak kepergianmu ke Amsterdam aku sangat kesepian. Tak ada lagi temanku yang
polos dan ceroboh ini untuk kujahili lagi.” Hash aku benar-benar kesal dengan
rajukan-rajukan Jongjin pada Soyoung. Yaak,, Jongjin-ah kau harus ingat kau
sudah punya kekasih.
“Mianhae, Jongjin-ah! Bukan aku tak ingin
menghubungimu. Hanya saja aku takut merindukanmu dan malah menangis di
Amsterdam seorang diri. Aku tidak pernah melupakanmu meski tidak
menghubungimu.”
“Arraseo! Tapi tetap saja kau harus kuberi
hukuman karena tak meneleponku.”
“Mwoya?? Aishh kau tega menghukum orang yang baru
saja pulang dari perjalanan jauh, Jongjin-ah?”
“Tentu saja! Kenapa tidak?”
Kulihat Jongjin mulai mengelitiki pinggang Soyoung
dan membuat gadis itu tertawa geli. Jongjin pun ikut tertawa melihat ekspresi
kegelian Soyoung. Aishh apa-apaan mereka? Aku benar-benar tidak suka melihat
mereka seperti itu.
“EHEEMMM…” aku sengaja berdehem dengan agak keras
dan membuat mereka menghentikan tawa mereka dan menoleh padaku. “Bukankah
seharusnya kita bercanda dan saling melepas rindu bersama? Bukan justru
mengabaikan seseorang di sini.” Tanyaku sengaja. Aku ingin mereka menyadari
kesalahan mereka mengabaikan aku. Mengabaikan pria tampan seperti diriku.
“Oh, Jongwoon hyung sejak kapan kau di sana?” Jongjin
terkejut melihatku. Aishh anak ini ingin sekali aku menjitak kepalanya.
“Hmmm,, tadi aku ingin bergabung tapi kulihat
kalian sedang asyik berdua. Apa mungkin kehadiranku mengganggu acara kalian?”
Aku merajuk. Apa ini terlihat aneh? Aku tak peduli.
“Aniyo, Hyung! Kajja kemarilah. Soyoung pasti
juga ingin mengobrol denganmu.” Jongjin menghampiriku dan menarik tanganku
mendekat ke kursi tempat dia dan Soyoung mengobrol. Kulihat Soyoung hanya diam
melihatku. Ada apa ini? Apa gadis ini tidak senang dengan kehadiranku?
“Annyeong, Soyoung-ssi!” ucapku formal. Apa ini?
Untuk apa aku seformal ini pada seseorang yang sudah lama kukenal. Tapi aku
merasa canggung untuk mulai bicara dengannya. Kenapa? Apa karena kami sudah
lama tak bertemu?
“Annyeong Oppa! Lama tak bertemu.” Balasnya
singkat.
Heyy ada apa dengannya? Suara dan cara bicaranya
terlalu formal padaku. Hah! Aku tidak suka dengan situasi seperti ini. Sangat
tidak nyaman! Aku pun duduk di kursi yang sama dengan Soyoung dan Jongjin.
Diam. Itu yang kami bertiga lakukan setelah aku bergabung. Benar-benar! Rupanya
aku hanya mengganggu mereka, buktinya mereka sama sekali tak bicara setelah aku
bergabung.
“Ahh Hyung aku masuk dulu ne. Aku harus ke
toilet. Kalian mengobrol lah dulu.” Jongjin berdiri dan berpamitan padaku dan
Soyoung tersenyum aneh dan meninggalkan kami. Yaak kenapa kau justru
meninggalkan aku hanya berdua dengan Soyoung, Jongjin-ah? Dasar menyebalkan!
*****
Author POV
Hening! Hanya itu yang kini terasa. Tak ada
satupun dari kedua insan berlainan jenis ini yang mencoba membuka mulut. Mereka
diam dan menatap kosong ke depan tanpa tahu harus berbuat apa.
“Lama tak bertemu, Soyoungie.” Jongwoon membuka
mulutnya memulai pembicaraan mereka setelah beberapa menit membisu. “Aku
terkejut melihat kau sudah kembali ke Korea.”
“Ne?? Oh.. Sudah sangat lama aku pergi. Aku
sengaja tidak memberitahu semua tentang kepulanganku. Hanya appa, eomma dan
Donghae oppa saja yang kuberi tahu.” Soyoung tidak berpaling sama sekali.
“Kurasa tidak seperti itu kelihatannya. Appa dan
eommaku ada di sini. Itu berarti mereka tahu kau kembali hari ini.” Jongwoon
menghembuskan napas berat dan mulai menyandarkan punggungnya, menoleh ke
Soyoung yang duduk di sampingnya. Dia berusaha santai meski rasa canggung itu
masih ada. “Aku merasa sepertinya hanya aku saja yang tidak tahu kau kembali
hari ini.”
“Aku tidak terkejut.” Soyoung melirik sekilas
Jongwoon kemudian memutar kembali matanya ke depan. “Kau memang tidak pernah
tahu tentang diriku.” Ucapnya lagi.
“Itu kata-kata yang menyakitkan. Kau seperti
menghakimi ketidak tahuanku tentang kepulanganmu.” Jongwoon masih tetap menatap
tajam Soyoung meski gadis itu tak memandangnya. “Apa kau sengaja melakukannya?”
“Mwoya?”
“Yah apa kau sengaja kembali tanpa memberi
tahuku? Sama seperti yang kau lakukan ketika pergi meninggalkanku ke Amsterdam
enam tahun lalu. Bahkan kau tak menghubungiku setelahnya.”
“Apa itu berarti bagimu, Jongwoon oppa?” kini
dengan tegas Soyoung membalas tatapan tajam Jongwoon. Dia tersenyum samar.
“Kupikir tak akan berpengaruh apapun aku ada ataupun tidak ada di dekatmu.”
“Apa mak….”
“Jongwoon-ah, Youngie kajja cepat kemari!”
kata-kata Jongwoon terpotong oleh intrupsi ibu Soyoung dari arah teras.
Jongwoon dan Soyoung segera menoleh ke belakang dan melihat wanita paruh baya
itu melambaikan tangan menyuruh mereka masuk. “Palliwa,, semua sudah berkumpul
untuk mendengarkan pengumuman penting ini.”
“Pengumuman penting?” gumam Soyoung heran. Dia
mengerutkan alisnya. Sungguh dia tidak tahu akan ada acara memberi pengumuman
ketika keluarga dan sahabat dari orang tuanya berkumpul. Hanya bila akan ada
yang benar-benar penting baru mereka akan mengumumkannya pada semua anggota
keluarga.
Jongwoon berjalan terlebih dahulu tanpa menoleh
lagi pada Soyoung. Gadis itu masih terpaku dan bertanya-tanya akan pengumuman
itu. Namun beberapa detik berikutnya gadis itu tersadar dan berdiri serta
melangkahkan kakinya mengekor Jongwoon. Soyoung mendudukan dirinya di samping
Jongjin dan semakin bingung melihat ayahnya dan Kim ahjusshi saling berbisik
bahagia.
“Yeobo, semua telah berkumpul sekarang saatnya
kita mengumumkan berita bahagia ini ke semua orang. Ayolah aku sudah tidak
sabar memberitahu kabar bahagia ini.” Nyonya Lee, ibu Soyoung mengingatkan
suaminya yang masih asyik berbisik ria dengan Kim Ahjusshi.
“Ahh, baiklah semua sudah berkumpul rupanya.”
Sang kepala keluarga Tuan Lee tersenyum lebar. Entahlah wajah pria lima puluh
tahun lebih ini terlihat lebih muda bila sedang bahagia seperti ini. “Dengarkan
baik-baik kabar ini, karena kabar ini merupakan kabar paling membahagiakan di
keluarga ini.”
“Appa cepatlah apa yang ingin kau beri tahukan
pada kami, humm?” Donghae menyela ayahnya. “Soyoung belum beristirahat sejak
tadi dia pasti lelah.”
“Ahh baiklah baiklah. Aku dan Kim ahjusshi sudah
membuat keputusan mengenai masa depan keluarga ini.” Tn. Lee kembali tersenyum
dan melirik Kim ahjusshi yang berdiri di sampingnya menganggukkan kepala.
“Jongwoon-ah, selamat nak pertunanganmu dengan Rae Ah akan kami selenggarakan 2
bulan dari sekarang.” Dengan mantap Tn. Lee mengumumkan kabar yang tadi
ditunggu semua anggota keluarganya.
“Mwo? Pertunangan?” Serempak Donghae dan Jongjin
bertanya dengan nada tinggi kemudian melirik ke arah Soyoung yang mendadak
menahan nafasnya tegang. “Maksud appa dengan pertunangan Jongwoon hyung dengan
Rae Ah itu apa?” kembali Donghae meminta penjelasan dari sang ayah.
“Ne,, Donghae-ya, appa sudah memutuskan
mempercepat pertunangan Jongwoon dan Rae Ah menjadi 2 bulan lagi.” Tn. Lee
kembali menganggukkan kepalanya. “Hal ini tentu karena putri kesayangan appa,
Soyoung kembali lebih cepat dari rencana awal. Jadi tak perlu berlama-lama lagi
menunda pertunangan Jongwoon dan Rae Ah.”
“Eomma sangat bahagia.” Ujar Ny. Lee menyambung
perkataan suaminya. “Kemarilah Rae-ya, Jongwoon-ah!” wanita itu merentangkan
tangannya menyambut pelukan Rae Ah yang terlihat begitu bahagia karena kabar
pertunangannya. “Imo sudah tak sabar dengan pertunangan kalian. Jongwoon-ah kau
pasti juga sangat bergembira bukan?” Ny. Lee menepuk pelan bahu Jongwoon yang
berdiri di hadapannya dengan senyum gembira.
Semua yang berada di ruangan tersebut begitu
gembira mendengar bahwa pertunangan Kim Jongwoon dan Shim Rae Ah akan
dipercepat dari rencana awal. Bahkan Tn. Lee dan Tn. Kim saling berpelukan
sebagai wujud kebahagiaan mereka. Namun di tengah kegembiraan itu ada tiga
orang yang tak tersenyum sama sekali. Lee Soyoung. Gadis ini hanya dapat
membisu menatap kosong Shim Rae Ah dan Kim Jongwoon yang ada di depannya.
Sementara Donghae dan Jongjin hanya saling menatap dan menggelengkan kepala tak
percaya.
“Baiklah, apa.. apa masih ada yang akan appa
sampaikan lagi?” tanya Soyoung dengan suara yang agak bergetar. Entahlah raut
wajah gadis ini berubah murung tak seperti tadi. “Bila tidak ada aku,, aku
mohon diri untuk beristirahat di kamarku, Appa.”
“Astaga, aku lupa. Aishh jinja! Kau pasti sangat
lelah sayang. Ya sudah pergilah ke kamarmu dan beristirahatlah.” Tn. Lee
mengelus puncak kepala Soyoung dan tersenyum bijak.
Soyoung membalas senyuman ayahnya, kemudian
bangkit dan memberi salam pada semua orang di ruangan itu. Dia melangkah meninggalkan
ruangan itu tanpa menoleh ke belakang lagi. Sakit. Hatinya terasa sakit. Akan
lebih sakit bila dia menoleh. Sakit ketika menerima kenyataan yang beberapa
detik lalu dia dengar.
*****
Soyoung POV
Aku merebahkan tubuhku ke ranjang yang sudah lama
tak kutiduri lagi. Nyaman dan tenang. Yah beginilah suasana kamarku. Tidak
pernah berubah meski telah lama kutinggalkan. Namun semua rasa nyaman ini tetap
saja tak mampu mengurangi rasa sakit dihatiku. Ternyata benar, selama enam
tahun ini hubungan Jongwoon oppa dan Rae Ah telah mengalami peningkatan.
Pertunangan? Tak kusangka hubungan mereka sudah begitu serius hingga memutuskan
untuk bertunangan.
Tak terasa air mataku mengalir ke pipiku. Mataku
terasa panas. Pabboya, Sooyeon-aa! Bagaimana kau masih berharap cinta Jongwoon?
Dari dulu pun kau tahu Jongwoon tak mencintaimu. Seharusnya kau tahu kau hanya
batu penghalang antara Jongwoon dengan Yoonhee. Kumaki diriku sendiri yang
masih belum mampu melupakan Jongwoon. Ternyata enam tahun waktu yang kulalui
dalam pelarianku untuk melupakannya sia-sia. Kim Jongwoon. Bahkan nama itu
masih melekat sempurna dihatiku.
Mungkin kalian heran denganku. Yah aku hanya
gadis bodoh yang berharap mendapatkan cinta seorang pangeran sempurna seperti
Kim Jongwoon. Kupikir aku mampu melupakannya ternyata ini lebih sulit. Tapi
pertunangan itu? Sudah saatnya aku melupakan Jongwoon. Sebentar lagi dia akan
terikat dengan seorang gadis. Tak pantas aku masih mengharapkannya seperti ini.
Terutama gadis itu sudah seperti saudara kandungku sendiri.
Ceklek~~
“Youngie, gwenchanayo?” kudengar suara cemas
Donghae oppa dari setelah pintu kamarku terbuka. Aku bangkit dan menatap sendu
sosoknya. “Hey, kau menangis. Gwenchanayo?” sambungnya sembari duduk di tepi
ranjangku. Tangannya mengusap lembut pipiku. Menghapus airmata yang belum
sempat kuhapus. Aku dapat melihat kecemasan dari ekspresinya. Dia
mengkhawatirkanku.
“Gwenchana, Oppa! Aku baik-baik saja.” Aku
menghela napas panjang. Berusaha mengisi paru-paruku yang sesak setelah
mendengar kabar pertunangan Jongwoon oppa dan Rae Ah. Namun entahlah, aku tetap
merasa belum lega. “Oppa jangan menatapku seperti itu. Aku baik-baik saja.
Jangan mengkhawatirkan aku seperti itu, Oppa.”
Greppp
Dengan cepat Donghae oppa memelukku erat. “Jangan
berbohong, Youngie! Oppa tahu ini sangat menyakitkan bagimu. Matamu memancarkan
semua perasaanmu, adikku.” Kudengar nada bergetar dari kata-kata Donghae oppa.
Sungguh bila seperti ini aku tak sanggup lagi menahan airmataku.
“Mianhae, Oppa!” ucapku lirih. “Mianhae, aku
belum bisa menghilangkan perasaan ini. Aku sudah berusaha,, hanya saja aku,,
hiks,,” airmataku benar-benar mengalir deras kali ini. Aku tak mampu lagi
mengontrol perasaanku sendiri. Enam tahun berusaha melupakan Jongwoon oppa dan
meninggalkan Korea. Namun tetap saja rasa sakit itu masih ada menyadari aku
takkan dapat memiliki cintanya.
“Kau tidak salah, Youngie. Ini bukan salahmu.
Cinta itu seperti anak panah yang dilesatkan. Dia dapat datang dihati siapa
saja. Begitu pula cintamu pada Jongwoon hyung.”
“Tapi aku bisa apa, Oppa? Kenyataannya adalah
cintaku ini tidak terbalaskan. Cinta ini hanya sebuah cinta sepihak.”
Kulepaskan pelukan Donghae oppa. Menatapnya dengan mata penuh airmata.
“Bertahun-tahun kupendam cinta ini. Berusaha menerima bahwa aku takkan pernah
bisa memilikinya. Berusaha hidup tanpa nama dan keberadaan Jongwoon oppa, berusaha
berdiri tanpa bayangannya. Namun tetap saja aku lemah. Hatiku belum mampu
melupakannya. Aku harus bagaimana, Oppa?”
Donghae oppa tak menjawabku. Dia kembali
memelukku dan membiarkan aku menangis dipelukannya. Aku bersyukur memiliki oppa
yang begitu lembut seperti Donghae oppa. Hanya dia tempatku bersandar dari
semua kekecewaanku akan kenyataan kisah cintaku. Cinta yang bersembunyi dibalik
ikatan persahabatan dan berusaha tersenyum menahan semua luka.
“Youngie! Jangan bersedih lagi. Oppa tahu ini
takkan membantumu tapi oppa percaya kau sanggup menghadapinya. Kau adikku yang
kuat. Seperti yang dulu pernah kukatakan, kita bisa berusaha memperjuangkan
cinta kita, namun bila kita belum mendapatkan seseorang yang kita cintai
setidaknya kita pernah memperjuangkannya. Jadi jangan menyesal, Sayang.”
Donghae oppa kembali tersenyum lembut. Memberiku kekuatan untuk bertahan
melewati semua ini. Oppa benar. Setidaknya aku sudah memperjuangkan cintaku
pada Jongwoon oppa, bukan salahnya yang tidak membalas perasaanku.
“Ara, Oppa. Aku tidak pernah menyesal mencintai
Jongwoon oppa. Oppa jangan khawatir. Ini bukan yang pertama. Bahkan aku sudah
melewati semua ini sejak 10 tahun lalu. Aku pasti kuat, Oppa. Setelah ini
mungkin akan mudah bagiku melupakannya. Setelah aku melihat dia terikat dengan
Rae Ah.” Mungkinkah? Mungkinkah seorang Soyoung mampu melupakan Jongwoon? Kau
bercanda, Nona Lee?? Sindirku pada diriku sendiri.
“Apa Oppa sudah mengetahui dari awal mengenai
pertunangan Jongwoon dengan Rae Ah? Apa itu sebabnya Oppa memintaku menunda
kepulanganku hingga tahun depan? Jawab aku, Donghae oppa.”
“Maafkan Oppa, Youngie! Oppa hanya tidak ingin
kau semakin terluka. Appa merencanakan pertunangan itu awal musim dingin tapi
Oppa tidak menyangka kepulanganmu justru membuat Appa mempercepat rencana
pertunangan sialan itu.”
Aku memalingkan wajahku, memandang pintu balkon
kamarku yang terbuka. Apa aku begitu menyedihkan? Atau memang takdir ingin
memperlihatkan padaku bahwa Jongwoon oppa bukan untukku. Kau sangat menyedihkan
Lee Soyoung. Sangat menyedihkan.
“Gwenchana, Oppa. Aku tidak menyesal kembali ke
Korea. Seperti tujuanku, aku kembali untuk appa, eomma dan untukmu. Aku bukan
Soyoung yang dulu. Aku akan tetap menjalani kehidupanku dengan ataupun tanpa
Jongwoon oppa. Aku sudah berjanji bukan?”
Baiklah pertunangan itu sudah menyadarkanku. Aku
tidak bisa selamanya bersembunyi dan mengingkari kenyataannya. Sekarang. Mulai
dari sekarang aku harus berusaha melupakan Jongwoon Oppa. Ini akan menyakitkan
tapi bagaimanapun aku harus tetap berbahagia. Tidak apa-apa bukan. Jongwoon
akan bahagia menjalani kehidupannya dengan gadis pujaannya. Bukan kah itu arti
cinta yang sebenarnya? Tidak apa-apa meski kau terluka selama orang yang kau
cintai dapat hidup dengan bahagia.
*****
Author POV
Han River’s Park
Soyoung kembali tersenyum ketika melihat beberapa
anak kecil berlarian mengejar bola mainan mereka. Ini hari kelima dia setelah
kembali dari Amsterdam dan setelah merasa cukup tenang karena rencana
pertunangan Jongwoon dan Rae Ah, Soyoung memilih menikmati sorenya di tepi
sungai Han. Dia meletakkan novel yang dibacanya dan menghampiri seorang gadis
kecil yang tiba-tiba terjatuh saat berlari di hadapannya. “Samchon…. Hueeeee.….”
Gadis itu menangis dan masih dengan keadaan tengkurap karena jatuh.
“Gwenchana adik manis?” tanyanya lembut dengan
senyum ramah yang masih terpatri di bibirnya. Soyoung menggendong gadis kecil
yang menangis dengan hati-hati. “Lututmu terluka, biar kuobati ya, uljima.”
Dengan cepat Soyoung kembali ke kursi taman yang sempat dia tinggalkan tadi dan
mendudukan gadis kecil itu di kursi. Soyoung membuka tasnya dan mengeluarkan
sebuah kotak obat kecil dari dalamnya. Tentu saja, sebagai seorang dokter dia
selalu harus siap dengan kotak obat bila keadaan seperti saat ini terjadi.
Soyoung membersihkan luka itu dengan alkohol dan menutup lukanya dengan kain
kasa steril.
“Cha,, lukamu sudah bersih dan tertutup tidak
akan infeksi.” Ujarnya lagi. “Uljima…”
“Telima kasih, Eonni!” gadis kecil itu
menghentikan tangisnya dan melihat lututnya yang sudah diobati. “Samchon…”
gadis kecil itu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang
dipanggilnya Samchon.
“Samchon? Apa kau ke sini bersama Samchonmu? Di
mana Samchon-mu?” Soyoung ikut menoleh mencari seseorang yang kiranya datang
bersama gadis kecil ini. Tidak ada. Taman ini ramai dikunjungi orang-orang di
sore hari dan Soyoung tidak dapat menebak siapa satu dari sekian banyak orang
yang datang bersama gadis kecil ini.
“Samchon… Hikss”
Soyoung menoleh lagi pada gadis kecil itu.
“Uljima, kita cari Samchonmu bersama-sama, oke” Soyoung beranjak dari
posisinya. Menuntun tangan gadis kecil itu dengan lembut mencari Samchonnya.
Dia sedikit heran namja seperti apa yang bisa dengan kecerobohan tingkat tinggi
lupa kalau dia membawa seorang anak kecil.
“Kim Jiyoungie… “ seruan Seorang namja bertubuh
mungil tiba-tiba muncul di belakang Soyoung. Dia terkejut melihat gadis kecil
itu turun dari kursi dan berlari menghampiri namja tadi.
“Ryeowook Samchon…”
Namja mungil bernama Ryeowook itu melebarkan
matanya melihat seorang gadis kecil berlari ke arahnya dan seorang gadis
mengejarnya dari belakang. “Jiyoung..? Astaga..” Ryeowook menekuk lutut dan
merentangkan tangannya menyambut Kim Jiyoung, gadis kecil yang berlari ke
arahnya.
Grepp~~
Ryeowook langsung mengangkat Jiyoung dalam
gendongannya dengan perasaan lega. Rasa cemas yang menderanya ketika mencari
Jiyoung lenyap seketika. “Astaga Jiyoungie kau kemana saja tadi?? Samchon sudah
katakan kan jangan pergi kemana-mana sebelum Samchon datang membawa es krim.”
tanyanya tak sabar sesaat dia lupa dengan gadis yang mengejar Jiyoung.
“Ryeowook? Kau… Kim Ryeowook??” Soyoung dengan
napas tersengal-sengal bertanya heran dengan namja yang menggendong anak kecil
yang ditolongnya tadi.
“Iya aku….” Ucapan Ryeowook menggantung begitu
dia membalikkan badan dan melihat siapa yang bertanya padanya. Dia melongo
terkejut tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. “Kau?? Ini benar-benar
kau?? Lee Soyoung?? Aaaaa.. kau Lee Soyoung??” Ryeowook berseru tak percaya.
“Hahaha Wookie.. iya aku.. Aku Lee Soyoung.”
Soyoung tersenyum senang melihat keterkejutan laki-laki di hadapannya ini.
“Lama tak bertemu, Ryeowookie..” Soyoung terdiam “Kau tak mau menyambutku??”
sambungnya kemudian.
Grepp
“Soyoungie…” tanpa aba-aba Ryeowook memeluk
Soyoung dengan erat. Dia tetap tidak percaya melihat gadis itu muncul di
depannya dengan tiba-tiba. “Kapan kau pulang?? Kenapa tak mengabari aku
sebelumnya??” Tangan Ryeowook membelai lembut rambut coklat Soyoung berusaha
meyakinkan bahwa gadis itu nyata.
“Aku merindukanmu, Wookie.” Bisik Soyoung lirih.
Tanganya terulur membalas pelukan erat Ryeowook. “Aku menginjakkan kakiku 5
hari lalu, karena aku pulang tiba-tiba jadi aku tidak sempat memberikan kabar
apapun.”
“Huh.. kau benar-benar jahat, Youngie!” Ryeowook
merajuk. Masih dengan memeluk Soyoung erat. Sejenak mereka lupa di mana mereka
berada saat ini. Dan berpelukan untuk beberapa lama tentu akan menarik
perhatian banyak orang. Terlebih mereka berpelukan erat di hadapan seorang anak
kecil tak berdosa.
Tanpa mereka sadari, jauh dari tepi jalan seorang
namja tengah memperhatikan mereka dari dalam Lamboghini merahnya. Mata sipitnya
menatap tajam Soyoung dan Ryeowook yang masih berpelukan. “Ckck.. Kupikir dia
kembali ke Amsterdam, menghilang dengan tiba-tiba dan membuat semua orang panik
mencarinya. Rupanya dia tengah bermesraan melepas rindu dengan kekasih lama.”
Dengus namja itu tanpa sadar. Dia menaikkan kaca mobil, menyalakan mesin dan
menjalankan mobilnya sedetik sebelum Soyoung dan Ryeowook melepaskan pelukan
mereka.
”Ayo ceritakan padaku apa saja yang kau lakukan
selama 6 tahun di Belanda! Kau kan janji hanya akan pergi selama 4 tahun
mengapa jadi 6 tahun baru pulang ke Korea. Ish kau harus dihukum karena
meninggalkanku selama itu!” ujar Ryeowook kemudian menggendong Jiyoung dan
menggandeng Soyoung ke sebuah toko es krim di taman itu.
“Hahaha.. baiklah baiklah Wookie. Tapi kau harus
mentraktir kami berdua semangkuk besar es krim bagaimana??” Soyoung membalas
dan tertawa mendengar perkataan Ryeowook, “Bagaimana, gadis manis kau mau es
krim??” pertanyaan Soyoung disambut semangat dari Jiyoung dan dengan gesit
Jiyoung melompat ke dalam gendongan Soyoung dan berseru girang
“Samchon halus tlaktil Jiyoung dan Eonni cantik
es klim coklat satu mangkuk besaaaalllll”
Ryeowook dan Soyoung tertawa gembira menanggapi
celotehan bocah 4 tahun itu, dengan gemas Ryeowook mencubit pipi gembul Jiyoung
dan berkata “Baiklah,, baiklah sepertinya Samchon harus membuang banyak uang
untuk mentraktir dua orang penggila es krim ini, eoh??”
“Nee.. halus Samchon… es klim dengan mangkuk
besaaalllll”
Dan sore itu Soyoung merubah tujuannya untuk
sekedar mencari udara segar di luar rumah. Setelah bertemu Ryeowook, gadis ini
memutuskan untuk menikmati matahari terbenam bersama Ryeowook dan Jiyoung di
toko es krim. Keceriaan terpancar dari mereka bertiga terlebih tingkah
menggemaskan Jiyoung selalu mengundang tawa Ryeowook dan Soyoung. Dia benar-benar
melupakan sedikit luka hatinya di sore yang indah itu bersama Ryeowook dan
Jiyoung.
~~~TBC~~~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar