widgeo.net

Minggu, 15 Februari 2015

CONFESSION OF A FRIEND | Part 2


Cast           : Kim Jong Woon aka Yesung Super Junior
                     Lee Soyoung (OC)
                     Jung Rae Ah (OC)
Supports: Kim Ryeowook
                     Lee Donghae
                     Kim Jongjin
Genre       : Romance, Sad, Friendship
Length     : Series
Rated        : 17 +
Author     : RinPanda
Disclaimer : Sebelumnya aku berterima kasih buat semua yang udah bersedia membaca tulisan berantakanku dari cerita ini di part 1 J ceritanya gaje ya?? Hahaha aku juga merasa seperti itu, tapi aku harap di part ini ceritanya gak mengecewakan kalian. Ini baru awal alur sebenarnya masih aku simpan untuk part selanjutnya. Tapi semoga gak terkesan membosankan buat kalian. Okee,,, peringatan utama dari aku adalah berhati-hatilah ranjau masih bertebaran di part ini heheheh XDDD
Background Song            :
1.       Confession of A Friend – 2AM
2.      For One Day - Yesung
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Dan haruman dan haruman
(For one day, just for one day)
geudael jiuryeo haebwado
(Thought I fight to erase you from my mind)
Seupgwancheoreom babocheoreom
(But like a habit, and I’m like a fool)
dasi tto nunmuri najyo
(Again, again my tears fall)


Seoul International Hospital
Soyoung menyandarkan punggungnya lelah di kursi ruang periksanya. Dia baru saja selesai melakukan pemeriksaan ulang pada pasiennya, seorang anak kecil penderita kanker. Dia harus melakukan Pet CT Scan serta pemeriksaan laboratorium ulang untuk mengetahui letak kanker itu berada dan sudah sejauh mana penyebaran anak kanker pada tubuh pasiennya itu. Hal ini memang memakan waktu yang tidak sebentar, terlebih lagi kondisi anak itu masih histeris karena takut melihat peralatan kedokteran di depannya. Namun bukan itu yang menjadi ganjalan dalam pikirannya saat ini, pesan masuk yang dikirimkan oleh ibunya lah yang membuat Soyoung benar-benar kehilangan semangatnya.
           
            Sayang, eomma tahu kau sangat sibuk di rumah sakit, tapi eomma harap malam ini kau dapat meluangkan waktu untuk makan malam bersama dengan keluarga Kim. Kami akan membahas mengenai persiapan pertunangan Rae Ah. Donghae akan menjemputmu nanti sore.

Ini sudah dua minggu sejak pengumuman pertunangan antara Kim Jongwoon dan Jung Rae Ah. Dan selama dua minggu itu, Soyoung selalu menghindar dari pembicaraan mengenai persiapan pertunangan. Hotel yang digunakan, jumlah tamu undangan dalam pesta pengikatan tali asmara dua sejoli itu bahkan kapan tepatnya pertunangan itu diadakan dia tak tahu sama sekali. Kalau boleh memilih Soyoung lebih ingin tetap berada di rumah sakit, tidak menghadiri acara makan malam itu. Tentu saja dia menyadari berada dalam acara itu hanya menaburkan garam di hatinya. Harus diakui Soyoung, dia merindukan Jongwoon. Dia ingin sekali menatap wajah tampan namja itu lagi, sejak kembali ke Korea baru sekali tempo hari lalu saja dia bertemu Jongwoon, setelahnya dia menghindar dan beralasan sibuk dengan pasien-pasiennya.

Seandainya acara ini bukan mengenai pertunangan itu, eomma, keluhnya sedih. Soyoung menghela napas panjang mencoba meredakan nyeri di hatinya. Dia menyadari hatinya masih terikat pada sosok tampan mempesona itu. Namja yang sejak awal merebut hatinya dan menjadi cinta pertamanya. Sadarlah, Lee Soyoung, takdir sedari awal telah menentukan Jongwoon bukan untukmu. Tak malukah dirimu mengharapkan cinta dari namja yang sebentar lagi akan terikat dengan gadis yang telah berjasa dalam hidupmu? Batinnya terus memperingatkannya. Soyoung kembali menghela napas, menatap kosong dinding aquatic di depannya. Angannya melayang jauh di masa dia bertemu Jongwoon ketika dia seorang remaja lugu yang masih terlalu polos untuk jatuh cinta.

~Flashback On~
Seorang gadis bertubuh bulat masuk ke dalam ruang latihan ballet yang sedang diadakan seleksi pemilihan ballerina untuk perayaan kesenian yang selalu diadakan setiap tahun oleh sekolahnya. Gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari seseorang. Kemudian matanya menangkap sosok seorang gadis seusianya yang dicarinya di seberang tempatnya berdiri saat ini.

“Rae-ya…” serunya keras tak menyadari dimana dia sedang berada sekarang.

Tiba-tiba semua orang yang berada dalam ruangan itu berhenti dari aktivitas mereka dan menatapnya aneh. Jung Rae Ah, gadis cantik nan penuh pesona ini hanya mendengus kesal mendengar teriakan gadis bulat itu. Kemudian dengan rasa malu yang luar biasa, Rae Ah menyeret gadis gemuk itu keluar dari ruang ballet.

“Youngie, sudah berapa kali kukatakan kau jangan pernah datang ke ruang ballet, hah? Aku sudah berkali-kali bilang bukan. Tiap kali kau muncul di kelas ballet hanya membuatku malu. Atau kau memang ingin mempermalukan aku di hadapan semua teman-temanku?” omel Rae Ah kasar pada Soyoung, gadis bertubuh bulat itu. Wajah cantiknya memerah karena rasa marah dan malu.

“Mianhae, Rae-ya! Aku datang untuk ikut kelas ballet juga. Aku ingin belajar ballet bersamamu.” Soyoung menundukkan kepalanya merasa menyesal membuat Rae Ah terganggua. Dia tahu kedatangannya pasti akan memancing kemarahan Rae Ah. Dia sangat menyadari bahwa Rae Ah malu bila berdekatan dengannya.

“MWORAGO‼‼” Rae Ah berteriak gusar dengan suara tinggi yang membuat semua orang yang mendengarnya menutup telinga mereka. “Gadis bodoh Kau benar-benar ingin mempermalukanku, hah? Kau datang ke kelas ballet saja teman-temanku sudah mencelaku habis-habisan. Lalu apa yang akan aku terima kalau kau juga bergabung di kelas ballet, hah? Bukan hanya mereka yang mencelaku, tapi seluruh sekolah akan menghinaku, Lee Soyoung!!” teriaknya lagi dengan suara yang melengking tinggi.

“Anni, bukan seperti itu, Rae-ya! Hanya saja aku ingin menjadi ballerina sepertimu. Aku ingin membuat eommaku bangga. Selama ini eomma sangat ingin aku belajar ballet, sekali saja untuk eommaku, kumohon.”

“Kau benar-benar tak tahu diri, Youngie! Kau harusnya menyadari siapa dirimu. Kau pikir ada seseorang yang menjadi ballerina memiliki tubuh bulat sepertimu, hah?” bentak Rae Ah berkacak pinggang. Matanya mendelik marah memandang Soyoung. Kepalanya benar-benar hampir meledak mendengar permintaan tak tahu diri dari gadis bodoh di hapadannya itu.

“Arraseo! Tapi…”

“Sudahlah kalau memang kau ingin bergabung di kelas ballet bergabung saja. Tapi aku akan keluar dari kelas ballet selamanya.”

“Rae-ya jangan seperti itu. Kau adalah ballerina terbaik. Jangan sia-siakan bakatmu.” Bujuk Soyoung pelan. “Arraseo! Aku mengerti. Aku tidak akan meminta bergabung lagi dengan kelas ballet. Tapi aku mohon jangan keluar dari kelas ballet.” Soyoung melangkah menjauh dari Rae Ah dengan gontai. Kepalanya menunduk menyembunyikan airmata yang mulai membasahi pipi gemuknya. Dia tahu sampai kapanpun dia takkan bisa bergabung di kelas ballet. Bukan salah mereka. Tentu saja Rae Ah benar, dimana ada ballerina bertubuh bulat bak badut seperti dirinya.

Soyoung terus berjalan hingga kakinya berhenti di taman belakang sekolahnya yang sunyi. Hari ini jam pelajaran sudah selesai sehingga sudah tidak ada orang lain lagi di taman itu. Sunyi. Suasana seperti inilah yang selalu mampu membuatnya tenang dikala hatinya bersedih. Untuk gadis remaja seusianya, Lee Soyoung memang seorang yang pendiam dan tertutup. Dia tidak memiliki banyak teman, sehingga hanya menyendiri di taman inilah caranya mengurangi kesedihannya. Namun kesedihannya kali ini sungguh yang paling menyakitkan. Jung Rae Ah, sahabat yang sudah dia anggap saudaranya sendiri menolaknya untuk bergabung di kelas ballet karena malu dengan kondisi badannya yang bengkak. Menyakitkan memang, namun itulah kenyataan yang ada.

“Ige…” seseorang menyodorkan dua lembar tissue pada Soyoung yang masih menangis. “Kau sangat jelek kalau menangis terus.” Ujarnya lagi sambil memposisikan dirinya duduk di samping Soyoung. Dia menoleh menatap Soyoung dengan alis berkerut dan kemudian menggelengkan kepala. Gadis keras kepala! Pikirnya.

“Ryeowook-ah!” gumamnya lirih ketika dilihatnya siapa yang memberikannya tissue. “Gomawo, Wookie.” Soyoung menerima tissue itu dan menghapus airmata dipipinya. “Kau kenapa masih di sini? Bukankah pelajaran sudah berakhir satu jam lalu?”

“Aku tadinya sudah akan pulang. Tapi saat keluar dari kelas aku melihatmu bicara dengan Rae Ah.” jawab Ryeowook santai. Dia menoleh pada Soyoung yang masih menatapnya dan tersenyum simpul. “Rae Ah terlihat marah tadi. Pasti masalah ballet lagi, kan? Soyoungie, aku heran mengapa kau sangat ingin bergabung dengan kelas ballet?”

Soyoung tidak menjawab pertanyaan Ryeowook, dia hanya menunduk dan berusaha menyembunyikan air matanya. Kalau saja dia bisa seperti Rae Ah mungkin dia tidak akan terlihat begitu menyedihkan seperti ini.

“Hey! Uljima jangan menangis.” Ryeowook mengusap lembut pipi Soyoung, menghapus airmata yang kembali membasahi pipi bulat itu. “Kau tahu, Youngie? Semua orang memiliki bakatnya sendiri-sendiri. Rae Ah memang sangat berbakat ballet dan kau memang tidak bisa ballet. Tapi, kau memiliki yang Rae Ah bahkan murid lain tidak miliki. Kau murid yang cerdas. Selalu mendapatkan nilai terbaik dan prestasi bagus. Menurutku itu sangat luar biasa daripada ballet.”

“Hanya menurutmu, Wookie. Tapi orang lain melihatku sebagai orang yang tidak ada artinya.”

“Bukan hanya itu. Kau juga pandai bermain piano dan bernyanyi. Tidak semua orang bisa bernyanyi merdu bukan?”

“Suaraku tidak sebaik suaramu, Wookie-aa”

“Sudahlah! Kajja ikut aku sekarang!” dengan cepat Ryeowook menarik tangan Soyoung untuk mengikutinya. “Kita bermain musik saja daripada kau terus menangis. Aku punya seorang guru musik yang sangat luar biasa. Dia akan banyak membagi ilmunya dengan kita.” Ujarnya lagi dengan tersenyum menghiasi wajah polosnya. Yah seperti itulah Ryeowook, hanya dia yang selalu menghibur Soyoung. Hanya dia satu-satunya teman yang paling memahami Soyoung.


Kkwae o rae dwaesseo nae mami jogeum ssig byeon hagi shijak hanji
(ini sudah cukup lama, semenjak hatiku secara perlahan mulai berubah)
honja seo goerowo hanji
(dan saat aku mulai merasa sendirian)
eonje buteon gani gabol ttaemada

(Dari titik tertentu setiap kali aku melihatmu)
neoreul ulli neun namjaga neomu nami wosseo
(Aku benci  pria yang telah membuatmu menangis)

Charari naega neoljiki neunge

(Terkadang aku ingin tahu apakah lebih baik)
na eul jido moreun daneun saenggagi

(jika sebagai gantinya aku yang melindungimu)
ije neun naega neol ana jugo

(Mulai sekarang, daripada membiarkanmu pergi)
sarang hae jugosipdan saenggagi deureosseo
(aku ingin mulai mencintaimu)

“Itu lagu yang sangat indah, Ryeowookie, kenapa kau baru menyanyikannya sekarang eoh?” Seseorang mengagetkan Ryeowook dan Soyoung yang sedang bernyanyi dengan memainkan piano di sebuah penthouse kecil di pinggiran kota Seoul. Entah kapan orang itu datang, tiba-tiba saja dia sudah bersandar dengan santai di pintu utama penthaouse dengan melipat tangannya di dada.

“Ah, Hyung kapan kau datang? Aku tidak menyadarinya?” Ryeowook bertanya heran begitu melihat Jongwoon di penthouse itu. Dia tahu Jongwoon itu makhluk aneh sering muncul dengan tiba-tiba, tapi tetap saja tingkah laku Jongwoon selalu membuatnya terkejut. Kapan Jongwoon hyung datang? Pikirnya bingung.

“Kau membuatku membuang waktuku selama 2 jam, anak muda! Dan dengan tanpa bersalah sedikitpun kau masih bertanya kapan aku datang?” Jongwoon memicingkan matanya. Dia merasa kesal pada namja bertampang polos di depannya ini. Berani-beraninya namja muda ini membuatnya menunggu hingga hampir mati bosan. Sungguh keterlaluan! “Jadi kau terlambat untuk pacaran dulu? Hebat! Benar-benar hebat!” sindir Jongwoon, matanya melirik sebentar Soyoung yang berdiri di samping Ryeowook. “Kalau kau ada jadwal untuk menemui pacarmu hari ini, tidak perlu meneleponku untuk datang ke tempat ini.” Cecarnya lagi.

“Ahh,, Hyung jeongmal mianhae. Bukan begitu! Hanya saja tadi….” Ryeowook terdiam. Dia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana, dan Ryeowook cukup peka untuk mengetahui bahwa namja yang dipanggilnya Hyung itu dalam mood yang buruk. Dia melirik Soyoung dan berdeham pelan. “Hmm.. Hyung, kenalkan dia temanku. Kami satu kelas dan mulai hari ini dia belajar musik bersamaku.” Ryeowook menarik Soyoung mendekati Jongwoon. “Tidak apa-apa kan Hyung dia belajar bersamaku?”

“Siapa namamu?” Jongwoon bertanya tanpa merubah ekspresi wajahnya sedikitpun. Dingin. Gersang dan acuh tak acuh. Bahkan nada suaranya sama sekali datar tak bersahabat. Jongwoon kembali menatap gadis di depannya ini. Dia belum pernah bertemu gadis ini, tapi sepintas wajah gadis ini sudah sangat familiar untuknya hanya saja pipinya lebih bulat. Jongwoon mengerutkan alisnya.

“Lee Soyoung… Lee Soyoung imnida.. ”Soyoung menjawab dengan tergagap. Dia sedikit malu ketika matanya beradu pandang dengan mata tajam Jongwoon sehingga dia hanya menundukkan kepalanya. Tampan! Dia sangat tampan, pikir Soyoung jujur tapi sikapnya dingin sekali. Soyoung merasa bersalah pada Ryeowook karena harus menghiburnya, namja ini terlambat datang ke pelajaran musiknya. “Jeongmal mianhae… aku yang meminta Wookie untuk….”

“Berlatih sungguh-sungguh!”
“Ne??”

“Berlatih sungguh-sungguh! Kalau kalian belajar musik bersama hanya untuk pacaran lebih baik kalian tinggalkan tempat ini. Tapi bila kalian ingin tetap di sini belajar dan berlatih sungguh-sungguh, jangan terlambat lagi!” tanpa mendengarkan Soyoung menyelesaikan perkataannya Jongwoon memberi perintah tegas tak terbantahkan. Setelah itu dia meninggalkan penthouse itu tanpa menoleh pada dua remaja yang mematung di belakangnya.

“Dia galak sekali!” gumam Soyoung mengernyitkan hidungnya. Matanya masih saja betah memandangi kepergian Jongwoon yang semakin menjauh dari penthouse. Wajahnya tampan tapi kata-katanya ketus sekali! “Apa dia selalu mengajar musik dengan ekspresi datar dan dingin seperti itu, Wookie-ah?” Soyoung berpaling kembali pada piano yang mereka tinggalkan tadi. “Aku tidak mau belajar musik kalau gurunya galak seperti itu. Apakah namja tampan selalu galak seperti dia?”

“Jangan menyerah begitu, Youngie! Sebenarnya Jongwoon hyung itu sangat baik, dia penuh perhatian dan ramah. Dia sepertinya benar-benar kesal karena menunggu di tempat ini sendirian. Jongwoon hyung benci kesendirian, dia akan merasa bosan bila hanya seorang diri di suatu tempat.” Ryeowook membujuk Soyoung. Ah ini hari pertama Soyoung belajar musik dan dia sudah memberi label pada Jongwoon sebagai ‘Guru Galak’. Ckckckc… “Eh tunggu! Tadi kau mengatakan apa? Namja tampan selalu galak? Yaaak,, Lee Soyoung apa itu sebuah pujian untuk Jongwoon hyung? Ah kau mau aku mengadu padanya kalau kau mengatakan dia tampan tapi galak?” goda Ryeowook geli menyadari pujian tampan yang diberikan Soyoung pada Jongwoon.

“Yaak, Kim Ryeowook! Aish!” Soyoung berseru kesal, kemudian menundukkan kepalanya, wajahnya merona merah menyadari kebodohannya memuji Jongwoon tampan. “Siapa tadi namanya?” Soyoung menoleh pada Ryeowook lagi yang masih terkekeh geli dengan tingkah temannya ini.
“Namanya Kim Jongwoon, dia mahasiswa Kyonggi University, dia mengambil dua fakultas sekaligus. Commerce Faculty dan Digital Music Faculty di universitas tersebut. Kau tahu dia meski terlihat dingin tapi sebenarnya dia sangat baik dan lembut, dia juga sangat cerdas, suaranya juga sangat bagus. Semua orang langsung terkesima bila mendengar dia bernyanyi.” Ryeowook menjelaskan segala hal tentang Kim Jongwoon dengan penuh kebanggaan. Seolah yang dia jelaskan itu naskah kerjasama bernilai jutaan won.

Namja yang sempurna! Kembali Soyoung menekuni hobi barunya melamun mengenai Jongwoon. Tanpa dia sadari senyuman manis kembali terukir dibibirnya. Dia tampan! Cerdas! Dan berbakat dalam musik! Entah mengapa berpikir mengenai Kim Jongwoon menjadi hal wajib mulai hari ini untuknya. Ryeowook yang sedari tadi memperhatikan Soyoung hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
*****

Soyoung tiba di penthouse itu, tempat yang sudah lebih dari seminggu ini dia kunjungi setiap pulang sekolah. Sejak hari itu dia memutuskan untuk tetap belajar musik bersama Ryeowook dengan bimbingan dari Jongwoon. Bahkan hari ini meskipun tidak ada jadwal latihan Soyoung tetap datang ke penthouse itu. Dari cerita Ryeowook, dia tahu bahwa mengajar musik merupakan pekerjaan sampingan Jongwoon disela-sela kesibukan kuliah dan mengurus perusahaan keluarganya. Tentu saja Jongwoon mengajar bukan untuk mendapat tambahan uang saku, dia mengajar untuk menyalurkan kecintaannya terhadap musik.

Soyoung menyibakkan tirai putih yang menutupi sebuah pintu kaca yang mengarah ke balkon. Kembali dia menarik bibirnya membentuk sebuah senyum manis menatap pemandangan laut yang tenang di sore hari. Soyoung membuka pintu dan melangkah mendekati tepi balkon. Tiupan angin berhembus membelai rambutnya dan suasana yang indah dan menyejukkan hatinya. Kim Jongwoon sunbae! Dia tampan, manis, berbakat dalam musik dan cerdas. Sangat sempurna, pikir Soyoung dengan senyum yang masih terukir. Di tengah lamunannya, tanpa dia sadari seseorang telah mengamatinya beberapa lama. Kim Jongwoon. Namja itu mengamati Soyoung yang tengah hanyut dalam lamunannya.

“Apa yang kau lakukan di sini, Soyoungie? Hari ini bukankah tidak ada jadwal latihan?” Jongwoon mulai membuka pembicaraannya dengan Soyoung. Gadis itu tersentak dari lamunannya dan menoleh terkejut pada namja yang kini sedang duduk manis di kursi malas yang ada di sisi lain balkon. “Apa Ryeowook tidak memberitahumu hari ini tidak ada pelajaran musik?” tanyanya santai.

Wajah Soyoung merona, semburat merah terlihat dipipi chubby-nya. Entah mengapa jantungnya beberapa hari ini berdetak dengan abnormal setiap dia mendengar suara Jongwoon di dekatnya. Ahh, bahkan hanya suaranya saja mampu membuat jantungku berdegub cepat, keluh Soyoung salah tingkah. Satu minggu belajar musik dalam bimbingan Jongwoon membuat Soyoung mulai menyadari bahwa Jongwoon memiliki mood yang cepat berubah. Dia akan ramah dan bersahabat saat dalam mood yang baik, tapi bila moodnya memburuk jangan tanyakan lagi. Bahkan menyapamu saja dia takkan melakukannya. Sepertinya dia dalam mood yang baik, pikirnya lagi.

”Hey… Lee Soyoung, kau mendengarku?” Jongwoon menatap heran gadis di hadapannya yang tiba-tiba mematung tanpa sebab. Jongwoon berdiri dari kursi malasnya dan menghampiri Soyoung yang masih terlena dengan kehadirannya. “Lee Soyoung.. Hey Soyoungie! Gwenchanayo?” Jongwoon menggoyangkan bahu Soyoung untuk menyadarkan gadis itu. “Gwenchanayo, eoh?”

Soyoung tersentak merasakan jari-jari Jongwoon meremas bahunya. “Ne? Ah mi.. mianhae Jongwoon sunbae… aku baik-baik saja. Sun.. sunbae, aku baik.” Ujarnya dengan tergagap. Dia gugup. Soyoung menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang semakin merona. Ada apa ini? Jantungku semakin berdetak tidak normal hanya karena dia memegang bahuku? Aishh neo baboya, Soyoungie! Rutuknya.

“Kau sakit, eoh? Wajahmu merah.” Ujar Jongwoon kembali. Dengan lembut Jongwoon meletakkan punggung tangannya ke kening Soyoung. Otomatis tindakannya semakin membuat semburat merah di wajah gadis itu. “Tidak panas? Kurasa kau baik-baik saja. Tapi kau jangan suka melamun, kau tahu gadis yang senang melamun akan sulit jodoh.” Kelakarnya geli. Senyuman manis terukir indah dibibir Jongwoon, dan untuk kesekian kalinya bahkan hanya dengan sebuah senyuman saja namja ini mampu mengalihkan dunia seorang gadis polos seperti Soyoung.

“Astaga kau melamun lagi? Ckckck…”

“Ah ani… hanya saja… ahh apa yang Sunbae lakukan di sini? Bukankah hari ini kita tidak ada jadwal latihan?”

“Itu tadi bukan kah pertanyaanku padamu. Mengapa jadi kau tanyakan padaku juga?” Jongwoon mengerucutkan bibirnya. Astaga bahkan dengan ekspresi kekanakan seperti itu dia terlihat tampan. Dan Soyoung harus mengutuk dirinya lagi yang harus terpesona dengan makhluk di depannya ini.

“Tenang!” Jongwoon menolehkan wajahnya ke hamparan laut biru yang menjadi pemandangan utama dari penthouse itu. “Tempat ini adalah tempat favoritku. Tenang, damai dan nyaman. Apalagi aroma angin laut yang berhembus selalu mampu membuat hatiku damai. Aku merasa mendengarkan angin mengalunkan musik indah dari seberang lautan.” Jongwoon bergumam menjawab pertanyaan Soyoung tadi. Senyumnya masih terukir dan matanya berbinar memandang hamparan air laut.

“Jadi itu mengapa Sunbae memilih tempat ini untuk memberi les musik pada murid-muridmu? Ryeowook pernah berkata padaku kau lulusan dari sekolah kami tiga tahun lalu dan kau mengajar ekstrakulikuler musik.” Soyoung menanggapi gumaman Jongwoon tanpa mengalihkan matanya dari namja yang tengah asyik menatapi lautan. “Agak aneh karena Sunbae mengajar musik di luar sekolah apalagi di tempat sunyi seperti ini. Ryeowook pernah berkata padaku kalau kau benci sendirian dan tempat sunyi karena itu bisa membuatmu bosan, tapi tempat ini memang sangat indah aku jadi mengerti mengapa kau memilih tempat ini untuk mengajar musik, Ryeowook selalu bersemangat setiap jadwal belajar musiknya tiba. Tapi kata Ryeowook, Sunbae memang orang yang aneh.”

“Pacarmu itu terlalu banyak bergosip tentang diriku rupanya? Apalagi yang dia laporkan padamu?” dengus Jongwoon kesal. Aneh? Apa dia kelihatan aneh? Seenaknya saja Ryeowook mengatakan dia aneh! “Katakan pada pacarmu itu berhenti bergosip tentangku atau akan kupastikan hukuman menyanyi seribu kali padanya.” Jongwoon melangkah masuk meninggalkan Soyoung yang masih di balkon. Dia mendekati piano dan menekan beberapa tuts hingga menghasilkan alunan irama yang indah.

“Ryeowook bukan pacarku, Sunbae! Kami hanya berteman saja.” Protes Soyoung mengekori Jongwoon. Dia mengembungkan pipinya dan mengedarkan pandangannya ke dinding-dinding penthouse lalu menoleh lagi pada Jongwoon yang menatapnya. “Eung.. Sepertinya hari semakin senja, ahh lebih baik aku pulang saja, Sunbae. Mianhae aku mengganggumu.” Ujarnya sambil mengusap tengkuknya canggung. Kembali beradu pandang membuat Soyoung menjadi canggung.

“Ya, tanpa kita sadari senja sudah datang. Kau pulang sendirian? Ada yang akan menjemputmu nanti?”

“Eoh? Ani.. aku pulang sendiri, aku lupa mengatakan pada oppaku kalau aku mampir ke sini setelah pulang sekolah.”

“Jamkaman! Lebih baik kau pulang denganku. Tempat ini terletak jauh di pinggiran Seoul, kau akan tiba malam hari kalau menunggu bus di sini.” Jongwoon segera meraih ransel kecilnya yang dia letakkan di atas piano ketika dia datang tadi dan langsung menggandeng tangan Soyoung tanpa menunggu penolakan gadis itu. “Di mana rumahmu? Aku antar sampai rumahmu.”

“Apa itu tidak merepotkanmu, Sunbae?” Soyoung ragu menerima tawaran Jongwoon. Lagi pula dia bisa menelepon oppanya, jantungnya pun berdetak semakin tidak normal merasakan genggaman jari Jongwoon meremas tangannya.

“Gwenchana, kajja! Anggap saja aku menolongmu, jadi kau esok harus membalas jasaku ini.” Ujar Jongwoon tersenyum geli. Dia menaiki dan menyalakan mesin motor sportnya. “Pakai ini!” Jongwoon menyodorkan helm cadangan pada Soyoung dan memakai sebuah helm dikepalanya sendiri.

“Aissh,, ternyata ada imbalan untuk bantuanmu, eoh?” Soyoung memberengut sebal tapi tetap menerima dan memakai helm pemberian Jongwoon. Dia segera melangkahkan kakinya dan duduk manis di belakang Jongwoon. “Sunbae, rumahku cukup jauh.” Ujarnya kemudian.

“Arraso…”

Tanpa berkata apapun lagi Jongwoon segera melajukan motor sport kesayangannya. Motor itu melaju cepat menyusuri jalan di pinggiran kota. Laut biru dengan semburat jingga dari bias-bias matahari di tepi barat menjadi pemandangan indah membuat siapapun yang melewati jalan ini sulit menolak keindahan alam ini. Soyoung tersenyum cerah rasa canggungnya berboncengan motor dengan guru musiknya sedikit mereda dengan suasana ini. Dimulai hari ini hubungan mereka semakin akrab tidak hanya sebagai guru dan murid, tapi juga sebagai teman.
*****

“Hahahaha…. Kau benar-benar lucu, Youngie…” Jongwoon terkekeh geli melihat pipi Soyoung yang baru saja dia tambahi gambar kura-kura abstrak menggunakan lipstick merah. Mereka tengah bermain kartu dan siapa yang kalah harus rela wajahnya dicoreti menggunakan lipstick itu. Ini sudah ketiga kalinya Soyoung kalah bermain dan dia harus rela wajahnya digambari kura-kura oleh namja yang tengah berguling-guling di lantai saking senangnya mentertawai dirinya. “Hahaha.. kau tahu kau seperti boneka Jepang, ahh apa ya namanya?? Tapi itu sangat lucu hahahah…” lagi-lagi Jongwoon tertawa terbahak-bahak.

Soyoung mendengus kesal, “Puas kau mewarnai wajahku dengan lipstick awas saja kau, kepala helm!” Gerutunya melotot ngeri pada Jongwoon. Sedangkan Jongwoon tidak peduli sedikitpun pada tatapan Soyoung yang menurutnya tidak menakutkan itu, padahal Soyoung sudah ekstra melebarkan matanya. “Oppa.., aishh berhenti mentertawaiku!” serunya jengkel. Soyoung menghampiri Jongwoon dan mencubit perutnya dengan kesal.

“Aaakkhhh….” Jongwoon memekik kesakitan ditengah tawanya merasakan cubitan Soyoung diperutnya. RASAKAN! Dasar kepala helm! Ejek Soyoung puas melihat Jongwoon mengusap perutnya sendiri namun tetap tidak berhenti untuk mencubit Jongwoon. “Hey nona, berhenti menyiksaku!” Jongwoon mengerucutkan bibirnya. “Kau gadis yang mengerikan suka sekali menyiksa namja tampan seperti diriku. Ahh aku lupa. Kau bukan gadis kau bantal! Hahaha….” Sekali lagi dengan tidak sopan Jongwoon menjulurkan lidahnya dan beranjak menjauh dari Soyoung yang siap mencubitnya lagi.
 
“Jongwoon oppa…” teriak Soyoung kesal setengah mati dengan namja yang terus mentertawai dirinya dengan senangnya.

“Hahahaha…..”

Akhirnya Jongwoon dan Soyoung saling berkejar-kejaran di ruang keluarga yang cukup luas di rumah Soyoung. Mereka benar-benar terlihat seperti anak taman kanak-kanak dengan tingkah mereka. Saat mereka tengah asyik saling melempar satu sama lain dengan boneka-boneka milik Soyoung, boneka yang dilempar Jongwoon membuat seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu terpeleset.

“Aaakkhh..” Rae Ah berteriak kesakitan ketika dirinya terjatuh di tangga yang menghubungkan kamarnya dengan ruang tengah. “Appoyo… Yakk Lee Soyoung!!!” jeritnya kesal ketika matanya melihat boneka berserakan di ruangan itu.

“Rae-ya.. Ah mianhae..” Soyoung menghampiri Rae Ah dan mencoba membantu sepupunya itu berdiri. Namun dengan keras Rae Ah menepis tangan Soyoung.

“Paboya… kau menyakiti aku…” lagi-lagi Rae Ah berteriak marah mendorong Soyoung yang berjongkok hendak menolongnya. “Jangan sentuh aku! Kau benar-benar tak tahu diri Lee Soyoung! Harus berapa kali aku katakan supaya kau berperilaku seperti gadis berusia 18 tahun? Kau bukan anak kecil yang hanya bisa melempar boneka.” Dengus Rae Ah geram. Dia berusaha berdiri dengan kaki yang cedera karena jatuh dari tangga.

“Jeongmal mianhae..” Yesung mendekat pada Rae Ah dan membantu gadis itu berdiri. Dia merangkulkan tangan Rae Ah ke bahunya dan memapah Rae Ah yang sepertinya benar-benar cedera ke sofa di ruangan itu. “Mianhae,, ini semua kesalahanku, bukan kesalahan Soyoung. Aku yang melempar boneka itu ke arah tangga dan tidak menyadari bila ada seseorang yang akan menuruni tangga.” Jongwoon merasa menyesal karena kesalahannya sudah menyebabkan satu korban dan juga membuat Soyoung dimarahi oleh sepupunya ini. “Biar aku yang mengobati, aku bisa sedikit memijatnya agak rasa sakitnya berkurang.” Jongwoon menaikkan kaki kanan Rae Ah yang cedera ke pahanya dan mulai memijit pelan pergelangan kaki itu.

“Appo??”

“Aniyo..” Rae Ah tersenyum sendiri sedikit terpesona dengan namja tampan yang temgah fokus memijat kakinya.

“Ahh kurasa ini 3 atau 4 hari kakimu akan sembuh.” Ujar Jongwoon masih fokus memijit pergelangan kaki Rae Ah. Sedangkan Rae Ah tersenyum penuh arti menatap lekat wajah tampan yang ada di hadapannya ini. Dia tampan! Boleh juga dijadikan kekasih, batinnya senang. Bagaimana bisa sepupunya yang bulat dan gendut itu memiliki teman namja setampan ini? Bahkan dia yang merupakan gadis populer di sekolahnya karena kecantikannya saja tidak pernah berpacaran dengan namja tampan seperti yang saat ini ada di hadapannya.

“Rae-ya, gwenchana? Aku menyesal maaf kau harus terluka karena tersandung bonekaku.”

Lagi-lagi Soyoung hadir disaat yang kurang tepat menurut Rae Ah. Gadis itu bersungut kesal karena merasa kehadiran Soyoung yang mengganggu saat dirinya menikmati pemandangan wajah tampan namja yang memijat kakinya. Rae Ah menggeram “Kau tidak lihat kakiku cedera karena boneka bodohmu itu? Kau pikir maafmu itu bisa menyembuhkan kakiku dengan cepat? Sudahlah simpan maafmu baik-baik, aku tidak butuh!” gadis itu melirik sebentar ke arah Soyoung yang berdiri di sampingnya kemudian berkata lagi “Wajahmu itu sudah jelek tidak perlu kau gambari, kau semakin terlihat buruk rupa dengan gambar-gambar itu.” ejeknya sinis melihat wajah Soyoung yang masih penuh gambar kura-kura Jongwoon.

Jongwoon menurunkan kaki Rae Ah yang telah dia pijit dan menghampiri Soyoung yang segera menghapus gambar kura-kura di wajahnya setelah mendengar ejekan Rae Ah. “Mianhae, Youngie aku sudah menggambari wajahmu.” Jongwoon tersenyum tulus pada Soyoung dan mengusap pipi gadis itu lembut. “Aku harus pulang, besok aku datang lagi.  Kau jangan terlambat, arra?” Jongwoon mengedipkan matanya dan berpamitan pada Soyoung dan Rae Ah kemudian meninggalkan mereka berdua.

“Kau sudah lama mengenalnya?” selidik Rae Ah penasaran. Dia benar-benar kesal mengapa Soyoung bisa mengenal namja tampan seperti Jongwoon dan terlihat akrab. Rae Ah iri ketika Jongwoon tersenyum, mengusap pipi Soyoung dan lebih parahnya mengedipkan mata. Apa bagusnya gadis bulat seperti Soyoung? Dia tidak punya kelebihan apapun selain berat badannya yang selalu naik setiap bulannya.

“Nee?” Soyoung tersentak. “Uhm,, sudah beberapa bulan ini, Ryeowook yang mengenalkan aku pada Jongwoon oppa.” Soyoung tersenyum ketika mengingat sekilas awal pertama dia mengenal Jongwoon. “Guru galak” itu kesan pertama Soyoung pada Jongwoon, tapi setelah beberapa bulan belajar musik dari namja itu, Soyoung mulai tahu banyak tentang Jongwoon. Dia namja yang menyenangkan, tingkahnya aneh, konyol dan suka seenak hatinya sendiri. Tapi tetap saja bila urusannya dengan musik Jongwoon tetap galak!

“Berhenti tersenyum!” Rae Ah mendengus. “Kau ingat janjimu padaku saat itu, kan??” Rae Ah kembali menginterupsi. Dia mendekati Soyoung dan berbisik, “Sudah saatnya kau membayar hutangmu padaku, Youngie! Aku menagih pembayaran itu!” Rae Ah tersenyum penuh kemenangan dan melenggang pergi begitu saja. Sedangkan Soyoung? Gadis ini masih terkejut dengan kata-kata terakhir Rae Ah. Akhirnya hari yang itu akan datang, lambat namun pasti hari itu pasti datang.
~Flashback off~





Drrrrttttt!!
Drrrrttttt!!
Soyoung tersentak dari lamunannya ketika ponselnya bergetar. Dia meraih ponsel yang diletakkannya di meja kerjanya. Dia mengerutkan keningnya melihat nomor baru masuk mengiriminya pesan. “satu jam lagi aku akan menjemputmu. Berkemaslah. Kau tak mau terlambat pada acara penting malam ini bukan? Cepatlah berkemas!”

Soyoung semakin mengerutkan alis bingung, siapa yang mengiriminya pesan? Nomor siapa ini? Ini bukan nomor Donghae, juga bukan nomor ibunya. Lagi pula untuk apa dia mengirimi Soyoung pesan, Donghae biasanya akan langsung masuk ke ruang kerjanya tanpa harus menghubunginya. Apa Rae Ah yang mengirim pesan? Pikir Soyoung heran. Untuk apa? Apa dia masih ingin menunjukkan bahwa dia akan memiliki Jongwoon sebentar lagi? Hah! Mungkin bukan Rae Ah, mungkin saja Donghae yang mengiriminya pesan untuk menjahilinya. Tak berapa lama ponsel itu bergetar lagi dan nomor yang sama kembali tertera dari pesan yang masuk ke ponselnya.
“sudah selesai berkemas?? Cepatlah! Aku bosan menunggumu!”

Soyoung merasa kesal. Ponselnya kembali bergetar dan memuat sebuah pesan yang sukses membuat Soyoung mengalah mengikuti keinginan orang yang mengirimi pesan paksaan padanya ini.

“keluar sekarang juga! Atau aku akan menyeretmu dari ruang kerjamu!”

Tuhan, aku pasti akan membunuh orang ini saat aku tahu siapa dia. Soyoung bersumpah kesal. Dia segera membereskan semua rekam medis pasiennya, melepaskan jas putih kedokteran dan meraih tasnya.

“Kau sudah akan pulang, Dokter Lee? Tidak biasanya?” seseorang menginterupsi ketika dia baru tiga langkah meninggalkan ruangannya. “Kau biasanya akan di rumah sakit hingga larut malam, dan ini baru jam 5 sore? Kau mau kemana?” seorang wanita cantik yang juga menggunakan jas kedokteran seperti Soyoung beranjak mendekati gadis itu. “Jadi apakah, Dokter Lee terhormat ini ada jadwal berkencan hingga meninggalkan kebiasaan lemburnya?” goda wanita cantik itu.

“Yaakk,,, Im Jina-ya…” Soyoung berbalik dan menggeram kesal. Astaga sahabatnya ini benar-benar senang menggodanya. “Aku harus pulang sekarang, ibuku memintaku untuk menghadiri acara makan malam. Aku pulang bukan untuk berkencan!” bantahnya. “Kenapa kau selalu membahas kencan denganku?” keluh Soyoung kemudian beranjak pergi dengan Jina yang mengekorinya.

“Hahaha,, Young-aa menggodamu adalah hal yang sangat menyenangkan untukku setelah semua kegiatan memeriksa pasien selesai. Lagi pula ini hal yang menarik untukku, kau selama 2 minggu ini selalu lembur dan hari ini memilih pulang lebih awal? Bukankah itu hal yang langka?” seloroh Jina asal yang masih tersenyum geli melihat raut wajah Soyoung. Tentu saja, Im Jina, sahabatnya sekaligus sejawatnya di Bagian Anak ini sangat tahu kebiasaan Soyoung yang selalu lembur, bahkan Soyoung seperti menunda waktu pulang kerjanya dengan berbagai alasan memeriksa pasiennya. Jina tentu saja merasa heran, seorang Lee Soyoung yang biasanya bekerja hingga larut malam, meninggalkan ruang kerja di sore hari. “Apa ibumu sudah lelah menghadapi dirimu yang gila kerja dan mengadakan acara makan malam untuk menjodohkanmu dengan seorang presdir tam….”

“Jina-ya.…” potong Soyoung memberikan picingan berbahaya dari sudut matanya. “Astaga kalau bukan karena ibuku yang meminta tidak mungkin aku datang, hanya saja malam ini semua keluargaku mengharapkan kedatanganku.” Soyoung menghela napas berat dan pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun mengenai acara makan malam keluarga pada rekannya itu. Yah, untuk apa dia harus menjelaskan, toh acara makan malam itu hanya untuk membicarakan rencana pertunangan Rae Ah bukan tentang dirinya.

“Kenapa jalanmu lambat sekali, eoh? Cepatlah aku hampir mati kebosanan menunggumu!”

Sekali lagi Soyoung mendengus kesal membaca pesan masuk dari layar ponselnya. Gadis ini sedang menuruni tangga dan ponselnya terus saja bergetar membawa pesan memerintahkan dia segera turun. Apa orang itu tidak tahu menuruni tangga dari lantai 10 itu melelahkan? “Baiklah.. awas saja kau Donghae oppa, aku akan benar-benar membunuhmu saat ini juga!” Soyoung mengomel sendiri sembari terus menatapi layar ponselnya yang tak kunjung berhenti bergetar karena pesan masuk dari nomor baru itu.

“Mobil silver! Tempat parkir nomor 8 dekat gerbang.” Soyoung mengedarkan matanya mencari mobil yang dimaksud dalam pesan yang masuk ke ponselnya. Astaga apakah ini tidak bisa dipermudah? Untuk apa Donghae harus memberi petunjuk-petunjuk tak berguna itu? Bukankah dia cukup menunggu di lobi rumah sakit dan Soyoung dapat dengan mudah menghajar Oppanya itu.

“Aishh.. apa ini tidak bisa lebih mudah. Kau benar-benar ingin bermain-main denganku Donghae oppa..” Soyoung beranjak mendekati sebuah mobil Audi R3 warna  yang tepat terparkir di dekat gerbang. Dari luar sudah dapat diperkirakan bahwa pemilik mobil itu memiliki selera yang tinggi terhadap barang-barang berkelas. Soyoung mengetuk kaca hitam mobil begitu dia sampai di sisi kiri mobil. Sungguh dia ingin tahu siapa manusia pemaksa yang dengan tidak sabaran mengirimi belasan pesan ke ponselnya.

“Oppa…..” seru gadis itu kesal. Tidak ada respon apapun dari dalam mobil. Bahkan keca hitam itu tidak diturunkan sama sekali. Soyoung merasa jengah, “Buka atau aku pulang naik bus saja!” kembali dia mengetuk kaca mobil itu. “Baiklah aku pergi!” Soyoung memutar tubuhnya dan terkejut melihat seorang namja sudah berdiri tegak di depannya. “KAU???”


~~~TBC~~~

Selasa, 10 Februari 2015

CONFESSION OF A FRIEND | Part 1


Cast                : Kim Jong Woon aka Yesung Super Junior
                           Lee Soyoung (OC)
                           Jung Rae Ah (OC)
Others            : Kim Ryeowook
                           Lee Donghae
                           Kim Jongjin
Genre             : Romance, Sad, Friendship
Length           : Series
Rated             : 17 +
Author           : RinPanda

Disclaimer       : Hallo semuaaaa…. Perkenalkan aku RinPanda :) sebelumnya aku gak akan bilang aku seorang author, di sini aku Cuma mau sekedar membagi cerita dari ff lamaku yg udh setengah tahun aku museumkan di lappy. Cast ff ini adalah namja kesayanganku Yesung ^_^
Judul ff kali ini sengaja aku ambil dari judul salah satu lagu 2AM yang menurut aku bermakna paling mendalam kekekke…. Semua cast dicerita ini milik Tuhan YME dan milikku *plakk xD aku berharap masukan dari kalian mengenai alur dan penyampaiannya itu bisa jadi introspeksi buat tulisanku. Satu lagi tolong berhati-hati dengan cerita ini karena ranjau bertebaran dimana-mana XDD
Okkee daripada banyak ngoceh dan bikin ngantuk mending langsung aja ceritanya :)

Background Song        :
1.      Confession of A Friend – 2AM
2.      For One Day – Yesung
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Baby ijeneun naegewa
(Sayang, datang padaku sekarang)
And be my baby neomu na oraet dongan
(dan jadilah kekasihku, untuk waktu yang lama)
jikyeo bwasseo mal eopsiseoseo
(Aku sudah memperhatikanmu dan berdiri diam-diam)
anta kkaun gaseumeul sumgimyeo
(dan menyembunyikan perasaan hatiku dari kesedihan)
chinguro chinguro jinaeya handani yuro
(Karena suatu alasan, alasan bahwa kita harus tetap sebagai teman)
mok kkaji cha ollat deon
(Aku ingin memberitahumu berkali-kali)
geu gobaegeul chamaya haesseo
(tapi aku memegangi pengakuanku)
hajiman ijeneun gobaek halkke
(Tapi sekarang aku akan mengaku)
neoreul sarang hae
(Aku mencintaimu)

Author POV
Incheon Airport

Siang yang panas di awal musim panas ini sama sekali tidak menyurutkan kesibukan di bandara yang pernah menjadi bandara terbaik di dunia ini. Yah, lalu lalang penumpang, pilot serta pramugari yang datang dan akan pergi meninggalkan korea bagaikan tiada habisnya. Dari arah pintu kedatangan, terlihat segerombolan penumpang yang baru saja turun dari pesawat yang membawa mereka dari Amsterdam ke Seoul, Korea Selatan.

“Sudah 6 tahun! Rasanya sungguh aku sangat merindukan Seoul.” Gumam ceria seorang gadis cantik berambut coklat tua panjang yang di bagian bawahnya dia buat berombak. Dia menarik koper besarnya dengan senyum sumringah, mengingat tak lama lagi dia akan segera berkumpul dengan orang-orang yang dicintainya. Enam tahun sendirian di negara orang demi merintis karier dan meninggalkan semua orang yang dia cintai memang bukanlah hal yang mudah. Namun, kini dia membuktikan, dia mampu meraih impiannya dan pulang dengan penuh kebanggaan.

“Hei, Nona Lee!!” sebuah suara berat tak jauh darinya memanggilnya dengan keras mengalihkan perhatian beberapa orang di sekitarnya. Lee Soyoung, gadis bermata bulat indah itu menggelengkan kepalanya dan tersenyum senang menghampiri seorang namja tampan yang memanggilnya barusan. “Omoo, sudah lama tak bertemu denganmu, kau sudah semakin dewasa, Soyoungie.” Imbuh namja itu lagi ketika Soyoung telah berdiri di hadapannya.

“Oppa…” Soyoung tersenyum bahagia lalu menghambur ke pelukan namja itu. “Donghae oppa bogoshipeoyo!” Jari-jemari lentiknya memeluk erat punggung Lee Donghae, namja yang memanggilnya tadi. Seolah meluapkan segala kerinduan yang telah lama dia pendam dihatinya. Lega. Itu yang kini ia rasakan.

“Hahahha… ternyata kau merindukan Oppa juga humm? Oppa pikir kau takkan pernah lagi menginjakkan kakimu di negerimu sendiri. Nado bogoshipoyo, Lee Soyoung” Donghae tersenyum dan mengelus pelan rambut Soyoung dipelukannya. “Oppa sungguh terkejut, nae dongsaeng neomu yeppo.”

Soyoung melepas pelukannya dan menatap Donghae dengan bibir mengerucut dan pipi menggelembung. Dia pura-pura kesal dengan pertanyaan bodoh kakaknya ini. ‘Bagaimana mungkin aku tidak merindukanmu Donghae oppa? Bahkan seandainya aku mampu, aku akan memilih pulang ke Korea dan melupakan alasan kepergianku. Dasar ikan Mokpo, kau benar-benar menyebalkan!’ batinnya kesal. “Aishh jinjja. Kau benar-benar menyebalkan, Oppa” Soyoung memukul-mukul pelan lengan Donghae yang tertawa melihat ekspresi menggemaskan adiknya.

“Arra, arra!! Oppa tahu kau tidak akan bisa hidup tanpa Oppamu yang tampan ini bukan? Hahaha…” Donghae mengacak pelan rambut Soyoung kemudian menarik koper besar dongsaengnya itu. “Kajja,, semua sudah menunggu kepulanganmu di rumah. Appa, eomma bahkan Kim ahjusshi dan ahjumma juga sudah berkumpul di sana.”

“Kim Ahjusshi dan ahjumma?” Soyoung berhenti melangkah dan melebarkan matanya. “Apa yang mereka tahu tentang kepulanganku, Oppa?” tanyanya penasaran.

“Tentu saja! Sejak kau pergi mereka selalu menanyakanmu. Sudahlah, mereka sudah menunggumu di rumah. Kajja…”

***** 

Soyoung POV
Aku segera keluar dari mobil Donghae oppa begitu kami sampai di depan rumahku. Hah.. Rasanya sangat menyenangkan menatap rumah yang sudah kutinggalkan selama beberapa tahun ini. Appa, eomma jeongmal bogoshipeoyo‼ Aku tersenyum begitu menatap pintu utama rumahku bergerak.

Ceklek~~

“Soyoungie…” seru wanita paruh baya yang tetap terlihat cantik dan mempesona di usianya saat ini berhambur memelukku. Dialah eommaku. “Eomma sangat merindukanmu, sayang.” aku membalas pelukan eomma dan melepaskan semua kerinduanku.

“Bogoshipeo, Eomma..” bisikku haru. Sungguh aku ingin sekali menangis saat ini. Bukan karena sedih, namun karena begitu gembiranya hatiku bertemu dengan keluargaku lagi. “Appa.. bogoshipeo appa” segera kulepas pelukan eomma dan berjalan mendekati appaku. Appa tersenyum menatapku dan mengelus lembut puncak kepalaku.

“Tak appa sangka, putri kecil appa sudah tumbuh dewasa. Kini putri kecil appa sudah menjadi gadis cantik dengan gelar dokter mudanya.” Aku tersenyum senang sebagai balasan kata-kata appa. Memang berat tapi aku bersyukur kepulanganku dapat membawa kebanggaan bagi kedua orang tuaku.

“Apa kalian akan terus saling berpelukan di sini? Dan membiarkan makanan yang telah terhidang dingin begitu saja.” Suara lembut seseorang menyentakkan keharuan aku dan appa. Kudongakkan kepalaku melihat siapa yang sempat bergurau barusan. Aku tersenyum melihatnya. Dia tetap sama. Selalu tampil cantik, modis dan elegan. Tak pernah berubah. Jung Rae Ah, gadis cantik yang sudah aku anggap seperti saudara kandungku ini. Aku benar-benar merindukannya.

“Rae-ya…” seruku senang. Dia menghampiri dan memelukku. “Samchon, kajja kita masuk. Soyoung pasti sudah sangat lapar dan pasti akan sangat lahap menghabiskan makanan buatan Imo.” Celetuknya menggodaku setelah melepas pelukanku padanya. Aishh kau ini Rae-ya! Aku sudah tidak serakus itu, arra! Aku sudah menurunkan berat badanku dan belajar menjadi gadis yang elegan sepertimu, dengusku kesal sembari kupukul bahunya pelan.

“Appo! Yaak! Kau tetap saja brutal ya Youngie. Kupikir setelah menjelajah Eropa kau belajar bagaimana menjadi seorang perempuan, tapi nyatanya tetap saja masih seperti tukang pukul.” Rajuknya menggodaku. Aku tersenyum, Rae Ah tidak pernah berubah, tetap seorang gadis ceria dan menyenangkan.

“Sudah, sudah kita masuk aku sudah lapar.” Donghae oppa yang sejak tadi diam menyadarkan candaanku dan Rae Ah. Yah, bodohnya kami masih ada di depan rumah dan membiarkan dua tamu terhormat kami, Kim ahjusshi dan ahjumma berdiri tersenyum di belakang kami.

“Annyeong, Ahjusshi. Annyeong Ahjumma.” Sapaku membungkukkan badan pada kedua orang yang telah kuanggap orang tua keduaku ini. “Jeongsohamnida, Aku membuat kalian merasa diabaikan.”

“Ahh,, Soyoung-aa gwenchana, kami mengerti orang tuamu pasti sangat merindukanmu. Kami pun pernah merasakan rindu jauh dari anak-anak kami ketika mereka melaksanakan wajib militer dulu.” Kim ahjusshi tersenyum bijak. “Ayo masuk kita rayakan di dalam. Kajja,,, aku dan ibumu membuat banyak masakan lezat untukmu, Youngie.” ajak Kim ahjumma penuh semangat dengan merangkulku menuju meja makan.

“Hmmm mashitaa~~” seruku senang menyantap sendok pertama dari sup kimchi abalone kesukaanku. “Eomma daebaknika!” dengan semangat menyendok kembali sup itu menuju mulutku, tak peduli semua mata melihatku geli. Pasti mereka berpikir aku seperti gadis yang sudah tidak makan seminggu. Hahhaha…

“Ckckck,, adikku yang manis, kau ini makan seperti orang kelaparan saja. Hahahhaha….” Goda Donghae oppa yang duduk di sampingku sembari memasukkan sepotong besar udang goreng ke mulutku kemudian tertawa terbahak-bahak.

Aku mendelik kesal ke arahnya. “Oppa mm kkau menyiuballkann mm” ujarku kesal dengan mulut penuh udang goreng darinya. Kulihat dia sangat puas tertawa melihatku seperti orang rakus. Hah! Menyebalkan! Awas kau ikan Mokpo! Batinku. Semua orang tersenyum geli melihat pipiku menggembung penuh makanan. Ahh, oppa kau membuat imageku buruk. Aku kan berusaha terlihat elegan dan anggun setelah enam tahun belajar di Amsterdam. Huh…

“Jeongsohamnida kami terlambat!” tiba-tiba terdengar suara yang mengalihkan kesenangan kami di meja makan. Semua menoleh ke arah belakangku, aku kenal suara itu. Mungkinkah…. Kubulatkan mataku melihat sesosok namja tampan dengan rambut berombak hitam dan anting di kedua daun telinganya. Dia masih sama. Tampan dan mempesona seperti terakhir aku melihatnya enam tahun lalu. Aku pun melihat seorang namja yang seumuran denganku berdiri di belakang namja rambut blonde terang itu. Menatapku dengan dengan terkejut.

“Jongwoon oppa kau sudah datang.”

Kudengar suara gembira Rae Ah dengan lincah dia berdiri dari kursinya dan menghampiri namja itu. Aku hanya dapat diam melihat mereka saling berpelukan. Haruskah mereka menunjukkan adegan mesra itu di depanku, di depan keluargaku? Hash apa hakku melarang mereka. “Kajja Oppa semua sudah menunggumu.” Rae Ah menarik tangan Jongwoon mendekat ke meja makan dan menarik kursi di depan Donghae oppa sedangkan Jongjin duduk di sisi kananku. “Cha~~ dengan begini semua lengkap. Jongwoon oppa makanlah yang banyak kau sangat sibuk akhir-akhir ini kan” Serunya senang. Entahlah aku merasa mereka memiliki hubungan yang spesial. Mungkin mereka sudah menjadi sepasang kekasih selama aku tiada di Korea.

Hmm.. aku belum memberi tahu kalian bukan. Namja ini adalah Kim Jongwoon, dia adalah putra pertama dari Kim Ahjusshi dan ahjumma. Dia namja tampan yang mempesona dengan mata sipit, hidung mancung, tubuh yang ramping dan semampai serta senyum yang begitu manis. Sungguh dia tidak berubah. Aku benar-benar senang bertemu dengannya. Dia yah dia salah satu orang yang sungguh sangat kurindukan selama di Amsterdam. Bahkan aku selalu menangis bila rasa rinduku ini sudah tak tertahan. Ingin sekali aku meneleponnya atau pulang ke Korea hanya sekedar melihatnya. Tapi aku tak sanggup melakukannya. Ini menyakitkan. Sangat menyakitkan.

***** 

Jongwoon POV
Aku berdiri di teras dan menatap Soyoung yang sedang duduk berdua dengan Jongjin di halaman samping rumahnya. Sejujurnya aku sangat terkejut tadi ketika melihat dia ada di hadapanku setelah enam tahun ini menghilang. Dia sudah kembali? Kapan? Saat dia pergi enam tahun lalu dia tak memberitahuku dan sekarang? Bahkan dia kembali ke Korea pun juga tak memberitahuku. Apa aku sama sekali tak dianggap olehmu, Soyoungie? dengusku kesal.

Lee Soyoung, gadis remaja yang aku kenal ketika aku masih mengajar musik di sekolahnya. Namun saat ini Soyoung yang kulihat sangatlah berbeda dengan Soyoung yang dulu. Dia sekarang sudah tumbuh menjadi sosok wanita yang cantik dan dewasa. Cara berpakaiannya pun berubah. Dulu aku ingat gadis itu selalu memakai celana jeans panjang dan kaos besar dengan sepatu cats. Dan sekarang? Dia muncul di depanku dengan gaun berwarna hijau muda selutut dengan syal kecil melilit lehernya dan high heels. Aku sungguh tak menyangka selama dia menghilang dia benar-benar telah menjelma menjadi bidadari.

“Youngie, kau jahat sekali kenapa selama enam tahun ini kau sama sekali tak menghubungiku?” kudengar suara Jongjin merajuk karena kesal pada gadis itu. Heyy,, bagaimana bisa dia bersikap kekanakan seperti itu padahal selama ini dia tidak pernah seperti itu. “Kau tahu kan sejak kepergianmu ke Amsterdam aku sangat kesepian. Tak ada lagi temanku yang polos dan ceroboh ini untuk kujahili lagi.” Hash aku benar-benar kesal dengan rajukan-rajukan Jongjin pada Soyoung. Yaak,, Jongjin-ah kau harus ingat kau sudah punya kekasih.

“Mianhae, Jongjin-ah! Bukan aku tak ingin menghubungimu. Hanya saja aku takut merindukanmu dan malah menangis di Amsterdam seorang diri. Aku tidak pernah melupakanmu meski tidak menghubungimu.”

“Arraseo! Tapi tetap saja kau harus kuberi hukuman karena tak meneleponku.”

“Mwoya?? Aishh kau tega menghukum orang yang baru saja pulang dari perjalanan jauh, Jongjin-ah?”

“Tentu saja! Kenapa tidak?”

Kulihat Jongjin mulai mengelitiki pinggang Soyoung dan membuat gadis itu tertawa geli. Jongjin pun ikut tertawa melihat ekspresi kegelian Soyoung. Aishh apa-apaan mereka? Aku benar-benar tidak suka melihat mereka seperti itu.

“EHEEMMM…” aku sengaja berdehem dengan agak keras dan membuat mereka menghentikan tawa mereka dan menoleh padaku. “Bukankah seharusnya kita bercanda dan saling melepas rindu bersama? Bukan justru mengabaikan seseorang di sini.” Tanyaku sengaja. Aku ingin mereka menyadari kesalahan mereka mengabaikan aku. Mengabaikan pria tampan seperti diriku.

“Oh, Jongwoon hyung sejak kapan kau di sana?” Jongjin terkejut melihatku. Aishh anak ini ingin sekali aku menjitak kepalanya.

“Hmmm,, tadi aku ingin bergabung tapi kulihat kalian sedang asyik berdua. Apa mungkin kehadiranku mengganggu acara kalian?” Aku merajuk. Apa ini terlihat aneh? Aku tak peduli.

“Aniyo, Hyung! Kajja kemarilah. Soyoung pasti juga ingin mengobrol denganmu.” Jongjin menghampiriku dan menarik tanganku mendekat ke kursi tempat dia dan Soyoung mengobrol. Kulihat Soyoung hanya diam melihatku. Ada apa ini? Apa gadis ini tidak senang dengan kehadiranku?

“Annyeong, Soyoung-ssi!” ucapku formal. Apa ini? Untuk apa aku seformal ini pada seseorang yang sudah lama kukenal. Tapi aku merasa canggung untuk mulai bicara dengannya. Kenapa? Apa karena kami sudah lama tak bertemu?

“Annyeong Oppa! Lama tak bertemu.” Balasnya singkat.

Heyy ada apa dengannya? Suara dan cara bicaranya terlalu formal padaku. Hah! Aku tidak suka dengan situasi seperti ini. Sangat tidak nyaman! Aku pun duduk di kursi yang sama dengan Soyoung dan Jongjin. Diam. Itu yang kami bertiga lakukan setelah aku bergabung. Benar-benar! Rupanya aku hanya mengganggu mereka, buktinya mereka sama sekali tak bicara setelah aku bergabung.

“Ahh Hyung aku masuk dulu ne. Aku harus ke toilet. Kalian mengobrol lah dulu.” Jongjin berdiri dan berpamitan padaku dan Soyoung tersenyum aneh dan meninggalkan kami. Yaak kenapa kau justru meninggalkan aku hanya berdua dengan Soyoung, Jongjin-ah? Dasar menyebalkan!

*****

Author POV
Hening! Hanya itu yang kini terasa. Tak ada satupun dari kedua insan berlainan jenis ini yang mencoba membuka mulut. Mereka diam dan menatap kosong ke depan tanpa tahu harus berbuat apa.

“Lama tak bertemu, Soyoungie.” Jongwoon membuka mulutnya memulai pembicaraan mereka setelah beberapa menit membisu. “Aku terkejut melihat kau sudah kembali ke Korea.”

“Ne?? Oh.. Sudah sangat lama aku pergi. Aku sengaja tidak memberitahu semua tentang kepulanganku. Hanya appa, eomma dan Donghae oppa saja yang kuberi tahu.” Soyoung tidak berpaling sama sekali.

“Kurasa tidak seperti itu kelihatannya. Appa dan eommaku ada di sini. Itu berarti mereka tahu kau kembali hari ini.” Jongwoon menghembuskan napas berat dan mulai menyandarkan punggungnya, menoleh ke Soyoung yang duduk di sampingnya. Dia berusaha santai meski rasa canggung itu masih ada. “Aku merasa sepertinya hanya aku saja yang tidak tahu kau kembali hari ini.”

“Aku tidak terkejut.” Soyoung melirik sekilas Jongwoon kemudian memutar kembali matanya ke depan. “Kau memang tidak pernah tahu tentang diriku.” Ucapnya lagi.

“Itu kata-kata yang menyakitkan. Kau seperti menghakimi ketidak tahuanku tentang kepulanganmu.” Jongwoon masih tetap menatap tajam Soyoung meski gadis itu tak memandangnya. “Apa kau sengaja melakukannya?”

“Mwoya?”

“Yah apa kau sengaja kembali tanpa memberi tahuku? Sama seperti yang kau lakukan ketika pergi meninggalkanku ke Amsterdam enam tahun lalu. Bahkan kau tak menghubungiku setelahnya.”

“Apa itu berarti bagimu, Jongwoon oppa?” kini dengan tegas Soyoung membalas tatapan tajam Jongwoon. Dia tersenyum samar. “Kupikir tak akan berpengaruh apapun aku ada ataupun tidak ada di dekatmu.”

“Apa mak….”

“Jongwoon-ah, Youngie kajja cepat kemari!” kata-kata Jongwoon terpotong oleh intrupsi ibu Soyoung dari arah teras. Jongwoon dan Soyoung segera menoleh ke belakang dan melihat wanita paruh baya itu melambaikan tangan menyuruh mereka masuk. “Palliwa,, semua sudah berkumpul untuk mendengarkan pengumuman penting ini.”

“Pengumuman penting?” gumam Soyoung heran. Dia mengerutkan alisnya. Sungguh dia tidak tahu akan ada acara memberi pengumuman ketika keluarga dan sahabat dari orang tuanya berkumpul. Hanya bila akan ada yang benar-benar penting baru mereka akan mengumumkannya pada semua anggota keluarga.

Jongwoon berjalan terlebih dahulu tanpa menoleh lagi pada Soyoung. Gadis itu masih terpaku dan bertanya-tanya akan pengumuman itu. Namun beberapa detik berikutnya gadis itu tersadar dan berdiri serta melangkahkan kakinya mengekor Jongwoon. Soyoung mendudukan dirinya di samping Jongjin dan semakin bingung melihat ayahnya dan Kim ahjusshi saling berbisik bahagia.

“Yeobo, semua telah berkumpul sekarang saatnya kita mengumumkan berita bahagia ini ke semua orang. Ayolah aku sudah tidak sabar memberitahu kabar bahagia ini.” Nyonya Lee, ibu Soyoung mengingatkan suaminya yang masih asyik berbisik ria dengan Kim Ahjusshi.

“Ahh, baiklah semua sudah berkumpul rupanya.” Sang kepala keluarga Tuan Lee tersenyum lebar. Entahlah wajah pria lima puluh tahun lebih ini terlihat lebih muda bila sedang bahagia seperti ini. “Dengarkan baik-baik kabar ini, karena kabar ini merupakan kabar paling membahagiakan di keluarga ini.”

“Appa cepatlah apa yang ingin kau beri tahukan pada kami, humm?” Donghae menyela ayahnya. “Soyoung belum beristirahat sejak tadi dia pasti lelah.”

“Ahh baiklah baiklah. Aku dan Kim ahjusshi sudah membuat keputusan mengenai masa depan keluarga ini.” Tn. Lee kembali tersenyum dan melirik Kim ahjusshi yang berdiri di sampingnya menganggukkan kepala. “Jongwoon-ah, selamat nak pertunanganmu dengan Rae Ah akan kami selenggarakan 2 bulan dari sekarang.” Dengan mantap Tn. Lee mengumumkan kabar yang tadi ditunggu semua anggota keluarganya.

“Mwo? Pertunangan?” Serempak Donghae dan Jongjin bertanya dengan nada tinggi kemudian melirik ke arah Soyoung yang mendadak menahan nafasnya tegang. “Maksud appa dengan pertunangan Jongwoon hyung dengan Rae Ah itu apa?” kembali Donghae meminta penjelasan dari sang ayah.

“Ne,, Donghae-ya, appa sudah memutuskan mempercepat pertunangan Jongwoon dan Rae Ah menjadi 2 bulan lagi.” Tn. Lee kembali menganggukkan kepalanya. “Hal ini tentu karena putri kesayangan appa, Soyoung kembali lebih cepat dari rencana awal. Jadi tak perlu berlama-lama lagi menunda pertunangan Jongwoon dan Rae Ah.”

“Eomma sangat bahagia.” Ujar Ny. Lee menyambung perkataan suaminya. “Kemarilah Rae-ya, Jongwoon-ah!” wanita itu merentangkan tangannya menyambut pelukan Rae Ah yang terlihat begitu bahagia karena kabar pertunangannya. “Imo sudah tak sabar dengan pertunangan kalian. Jongwoon-ah kau pasti juga sangat bergembira bukan?” Ny. Lee menepuk pelan bahu Jongwoon yang berdiri di hadapannya dengan senyum gembira.

Semua yang berada di ruangan tersebut begitu gembira mendengar bahwa pertunangan Kim Jongwoon dan Shim Rae Ah akan dipercepat dari rencana awal. Bahkan Tn. Lee dan Tn. Kim saling berpelukan sebagai wujud kebahagiaan mereka. Namun di tengah kegembiraan itu ada tiga orang yang tak tersenyum sama sekali. Lee Soyoung. Gadis ini hanya dapat membisu menatap kosong Shim Rae Ah dan Kim Jongwoon yang ada di depannya. Sementara Donghae dan Jongjin hanya saling menatap dan menggelengkan kepala tak percaya.

“Baiklah, apa.. apa masih ada yang akan appa sampaikan lagi?” tanya Soyoung dengan suara yang agak bergetar. Entahlah raut wajah gadis ini berubah murung tak seperti tadi. “Bila tidak ada aku,, aku mohon diri untuk beristirahat di kamarku, Appa.”

“Astaga, aku lupa. Aishh jinja! Kau pasti sangat lelah sayang. Ya sudah pergilah ke kamarmu dan beristirahatlah.” Tn. Lee mengelus puncak kepala Soyoung dan tersenyum bijak.

Soyoung membalas senyuman ayahnya, kemudian bangkit dan memberi salam pada semua orang di ruangan itu. Dia melangkah meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh ke belakang lagi. Sakit. Hatinya terasa sakit. Akan lebih sakit bila dia menoleh. Sakit ketika menerima kenyataan yang beberapa detik lalu dia dengar.
*****


Soyoung POV
Aku merebahkan tubuhku ke ranjang yang sudah lama tak kutiduri lagi. Nyaman dan tenang. Yah beginilah suasana kamarku. Tidak pernah berubah meski telah lama kutinggalkan. Namun semua rasa nyaman ini tetap saja tak mampu mengurangi rasa sakit dihatiku. Ternyata benar, selama enam tahun ini hubungan Jongwoon oppa dan Rae Ah telah mengalami peningkatan. Pertunangan? Tak kusangka hubungan mereka sudah begitu serius hingga memutuskan untuk bertunangan.

Tak terasa air mataku mengalir ke pipiku. Mataku terasa panas. Pabboya, Sooyeon-aa! Bagaimana kau masih berharap cinta Jongwoon? Dari dulu pun kau tahu Jongwoon tak mencintaimu. Seharusnya kau tahu kau hanya batu penghalang antara Jongwoon dengan Yoonhee. Kumaki diriku sendiri yang masih belum mampu melupakan Jongwoon. Ternyata enam tahun waktu yang kulalui dalam pelarianku untuk melupakannya sia-sia. Kim Jongwoon. Bahkan nama itu masih melekat sempurna dihatiku.

Mungkin kalian heran denganku. Yah aku hanya gadis bodoh yang berharap mendapatkan cinta seorang pangeran sempurna seperti Kim Jongwoon. Kupikir aku mampu melupakannya ternyata ini lebih sulit. Tapi pertunangan itu? Sudah saatnya aku melupakan Jongwoon. Sebentar lagi dia akan terikat dengan seorang gadis. Tak pantas aku masih mengharapkannya seperti ini. Terutama gadis itu sudah seperti saudara kandungku sendiri.

Ceklek~~

“Youngie, gwenchanayo?” kudengar suara cemas Donghae oppa dari setelah pintu kamarku terbuka. Aku bangkit dan menatap sendu sosoknya. “Hey, kau menangis. Gwenchanayo?” sambungnya sembari duduk di tepi ranjangku. Tangannya mengusap lembut pipiku. Menghapus airmata yang belum sempat kuhapus. Aku dapat melihat kecemasan dari ekspresinya. Dia mengkhawatirkanku.

“Gwenchana, Oppa! Aku baik-baik saja.” Aku menghela napas panjang. Berusaha mengisi paru-paruku yang sesak setelah mendengar kabar pertunangan Jongwoon oppa dan Rae Ah. Namun entahlah, aku tetap merasa belum lega. “Oppa jangan menatapku seperti itu. Aku baik-baik saja. Jangan mengkhawatirkan aku seperti itu, Oppa.”

Greppp

Dengan cepat Donghae oppa memelukku erat. “Jangan berbohong, Youngie! Oppa tahu ini sangat menyakitkan bagimu. Matamu memancarkan semua perasaanmu, adikku.” Kudengar nada bergetar dari kata-kata Donghae oppa. Sungguh bila seperti ini aku tak sanggup lagi menahan airmataku.

“Mianhae, Oppa!” ucapku lirih. “Mianhae, aku belum bisa menghilangkan perasaan ini. Aku sudah berusaha,, hanya saja aku,, hiks,,” airmataku benar-benar mengalir deras kali ini. Aku tak mampu lagi mengontrol perasaanku sendiri. Enam tahun berusaha melupakan Jongwoon oppa dan meninggalkan Korea. Namun tetap saja rasa sakit itu masih ada menyadari aku takkan dapat memiliki cintanya.

“Kau tidak salah, Youngie. Ini bukan salahmu. Cinta itu seperti anak panah yang dilesatkan. Dia dapat datang dihati siapa saja. Begitu pula cintamu pada Jongwoon hyung.”

“Tapi aku bisa apa, Oppa? Kenyataannya adalah cintaku ini tidak terbalaskan. Cinta ini hanya sebuah cinta sepihak.” Kulepaskan pelukan Donghae oppa. Menatapnya dengan mata penuh airmata. “Bertahun-tahun kupendam cinta ini. Berusaha menerima bahwa aku takkan pernah bisa memilikinya. Berusaha hidup tanpa nama dan keberadaan Jongwoon oppa, berusaha berdiri tanpa bayangannya. Namun tetap saja aku lemah. Hatiku belum mampu melupakannya. Aku harus bagaimana, Oppa?”

Donghae oppa tak menjawabku. Dia kembali memelukku dan membiarkan aku menangis dipelukannya. Aku bersyukur memiliki oppa yang begitu lembut seperti Donghae oppa. Hanya dia tempatku bersandar dari semua kekecewaanku akan kenyataan kisah cintaku. Cinta yang bersembunyi dibalik ikatan persahabatan dan berusaha tersenyum menahan semua luka.

“Youngie! Jangan bersedih lagi. Oppa tahu ini takkan membantumu tapi oppa percaya kau sanggup menghadapinya. Kau adikku yang kuat. Seperti yang dulu pernah kukatakan, kita bisa berusaha memperjuangkan cinta kita, namun bila kita belum mendapatkan seseorang yang kita cintai setidaknya kita pernah memperjuangkannya. Jadi jangan menyesal, Sayang.” Donghae oppa kembali tersenyum lembut. Memberiku kekuatan untuk bertahan melewati semua ini. Oppa benar. Setidaknya aku sudah memperjuangkan cintaku pada Jongwoon oppa, bukan salahnya yang tidak membalas perasaanku.

“Ara, Oppa. Aku tidak pernah menyesal mencintai Jongwoon oppa. Oppa jangan khawatir. Ini bukan yang pertama. Bahkan aku sudah melewati semua ini sejak 10 tahun lalu. Aku pasti kuat, Oppa. Setelah ini mungkin akan mudah bagiku melupakannya. Setelah aku melihat dia terikat dengan Rae Ah.” Mungkinkah? Mungkinkah seorang Soyoung mampu melupakan Jongwoon? Kau bercanda, Nona Lee?? Sindirku pada diriku sendiri.

“Apa Oppa sudah mengetahui dari awal mengenai pertunangan Jongwoon dengan Rae Ah? Apa itu sebabnya Oppa memintaku menunda kepulanganku hingga tahun depan? Jawab aku, Donghae oppa.”

“Maafkan Oppa, Youngie! Oppa hanya tidak ingin kau semakin terluka. Appa merencanakan pertunangan itu awal musim dingin tapi Oppa tidak menyangka kepulanganmu justru membuat Appa mempercepat rencana pertunangan sialan itu.”

Aku memalingkan wajahku, memandang pintu balkon kamarku yang terbuka. Apa aku begitu menyedihkan? Atau memang takdir ingin memperlihatkan padaku bahwa Jongwoon oppa bukan untukku. Kau sangat menyedihkan Lee Soyoung. Sangat menyedihkan.

“Gwenchana, Oppa. Aku tidak menyesal kembali ke Korea. Seperti tujuanku, aku kembali untuk appa, eomma dan untukmu. Aku bukan Soyoung yang dulu. Aku akan tetap menjalani kehidupanku dengan ataupun tanpa Jongwoon oppa. Aku sudah berjanji bukan?”

Baiklah pertunangan itu sudah menyadarkanku. Aku tidak bisa selamanya bersembunyi dan mengingkari kenyataannya. Sekarang. Mulai dari sekarang aku harus berusaha melupakan Jongwoon Oppa. Ini akan menyakitkan tapi bagaimanapun aku harus tetap berbahagia. Tidak apa-apa bukan. Jongwoon akan bahagia menjalani kehidupannya dengan gadis pujaannya. Bukan kah itu arti cinta yang sebenarnya? Tidak apa-apa meski kau terluka selama orang yang kau cintai dapat hidup dengan bahagia.
*****

Author POV
Han River’s Park
Soyoung kembali tersenyum ketika melihat beberapa anak kecil berlarian mengejar bola mainan mereka. Ini hari kelima dia setelah kembali dari Amsterdam dan setelah merasa cukup tenang karena rencana pertunangan Jongwoon dan Rae Ah, Soyoung memilih menikmati sorenya di tepi sungai Han. Dia meletakkan novel yang dibacanya dan menghampiri seorang gadis kecil yang tiba-tiba terjatuh saat berlari di hadapannya. “Samchon…. Hueeeee.….” Gadis itu menangis dan masih dengan keadaan tengkurap karena jatuh.

“Gwenchana adik manis?” tanyanya lembut dengan senyum ramah yang masih terpatri di bibirnya. Soyoung menggendong gadis kecil yang menangis dengan hati-hati. “Lututmu terluka, biar kuobati ya, uljima.” Dengan cepat Soyoung kembali ke kursi taman yang sempat dia tinggalkan tadi dan mendudukan gadis kecil itu di kursi. Soyoung membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak obat kecil dari dalamnya. Tentu saja, sebagai seorang dokter dia selalu harus siap dengan kotak obat bila keadaan seperti saat ini terjadi. Soyoung membersihkan luka itu dengan alkohol dan menutup lukanya dengan kain kasa steril.

“Cha,, lukamu sudah bersih dan tertutup tidak akan infeksi.” Ujarnya lagi. “Uljima…”

“Telima kasih, Eonni!” gadis kecil itu menghentikan tangisnya dan melihat lututnya yang sudah diobati. “Samchon…” gadis kecil itu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang dipanggilnya Samchon.

“Samchon? Apa kau ke sini bersama Samchonmu? Di mana Samchon-mu?” Soyoung ikut menoleh mencari seseorang yang kiranya datang bersama gadis kecil ini. Tidak ada. Taman ini ramai dikunjungi orang-orang di sore hari dan Soyoung tidak dapat menebak siapa satu dari sekian banyak orang yang datang bersama gadis kecil ini.

“Samchon… Hikss”

Soyoung menoleh lagi pada gadis kecil itu. “Uljima, kita cari Samchonmu bersama-sama, oke” Soyoung beranjak dari posisinya. Menuntun tangan gadis kecil itu dengan lembut mencari Samchonnya. Dia sedikit heran namja seperti apa yang bisa dengan kecerobohan tingkat tinggi lupa kalau dia membawa seorang anak kecil.

“Kim Jiyoungie… “ seruan Seorang namja bertubuh mungil tiba-tiba muncul di belakang Soyoung. Dia terkejut melihat gadis kecil itu turun dari kursi dan berlari menghampiri namja tadi.

“Ryeowook Samchon…”

Namja mungil bernama Ryeowook itu melebarkan matanya melihat seorang gadis kecil berlari ke arahnya dan seorang gadis mengejarnya dari belakang. “Jiyoung..? Astaga..” Ryeowook menekuk lutut dan merentangkan tangannya menyambut Kim Jiyoung, gadis kecil yang berlari ke arahnya.

Grepp~~

Ryeowook langsung mengangkat Jiyoung dalam gendongannya dengan perasaan lega. Rasa cemas yang menderanya ketika mencari Jiyoung lenyap seketika. “Astaga Jiyoungie kau kemana saja tadi?? Samchon sudah katakan kan jangan pergi kemana-mana sebelum Samchon datang membawa es krim.” tanyanya tak sabar sesaat dia lupa dengan gadis yang mengejar Jiyoung.

“Ryeowook? Kau… Kim Ryeowook??” Soyoung dengan napas tersengal-sengal bertanya heran dengan namja yang menggendong anak kecil yang ditolongnya tadi.

“Iya aku….” Ucapan Ryeowook menggantung begitu dia membalikkan badan dan melihat siapa yang bertanya padanya. Dia melongo terkejut tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. “Kau?? Ini benar-benar kau?? Lee Soyoung?? Aaaaa.. kau Lee Soyoung??” Ryeowook berseru tak percaya.

“Hahaha Wookie.. iya aku.. Aku Lee Soyoung.” Soyoung tersenyum senang melihat keterkejutan laki-laki di hadapannya ini. “Lama tak bertemu, Ryeowookie..” Soyoung terdiam “Kau tak mau menyambutku??” sambungnya kemudian.

Grepp

“Soyoungie…” tanpa aba-aba Ryeowook memeluk Soyoung dengan erat. Dia tetap tidak percaya melihat gadis itu muncul di depannya dengan tiba-tiba. “Kapan kau pulang?? Kenapa tak mengabari aku sebelumnya??” Tangan Ryeowook membelai lembut rambut coklat Soyoung berusaha meyakinkan bahwa gadis itu nyata.

“Aku merindukanmu, Wookie.” Bisik Soyoung lirih. Tanganya terulur membalas pelukan erat Ryeowook. “Aku menginjakkan kakiku 5 hari lalu, karena aku pulang tiba-tiba jadi aku tidak sempat memberikan kabar apapun.”

“Huh.. kau benar-benar jahat, Youngie!” Ryeowook merajuk. Masih dengan memeluk Soyoung erat. Sejenak mereka lupa di mana mereka berada saat ini. Dan berpelukan untuk beberapa lama tentu akan menarik perhatian banyak orang. Terlebih mereka berpelukan erat di hadapan seorang anak kecil tak berdosa.

Tanpa mereka sadari, jauh dari tepi jalan seorang namja tengah memperhatikan mereka dari dalam Lamboghini merahnya. Mata sipitnya menatap tajam Soyoung dan Ryeowook yang masih berpelukan. “Ckck.. Kupikir dia kembali ke Amsterdam, menghilang dengan tiba-tiba dan membuat semua orang panik mencarinya. Rupanya dia tengah bermesraan melepas rindu dengan kekasih lama.” Dengus namja itu tanpa sadar. Dia menaikkan kaca mobil, menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya sedetik sebelum Soyoung dan Ryeowook melepaskan pelukan mereka.

”Ayo ceritakan padaku apa saja yang kau lakukan selama 6 tahun di Belanda! Kau kan janji hanya akan pergi selama 4 tahun mengapa jadi 6 tahun baru pulang ke Korea. Ish kau harus dihukum karena meninggalkanku selama itu!” ujar Ryeowook kemudian menggendong Jiyoung dan menggandeng Soyoung ke sebuah toko es krim di taman itu.

“Hahaha.. baiklah baiklah Wookie. Tapi kau harus mentraktir kami berdua semangkuk besar es krim bagaimana??” Soyoung membalas dan tertawa mendengar perkataan Ryeowook, “Bagaimana, gadis manis kau mau es krim??” pertanyaan Soyoung disambut semangat dari Jiyoung dan dengan gesit Jiyoung melompat ke dalam gendongan Soyoung dan berseru girang

“Samchon halus tlaktil Jiyoung dan Eonni cantik es klim coklat satu mangkuk besaaaalllll”

Ryeowook dan Soyoung tertawa gembira menanggapi celotehan bocah 4 tahun itu, dengan gemas Ryeowook mencubit pipi gembul Jiyoung dan berkata “Baiklah,, baiklah sepertinya Samchon harus membuang banyak uang untuk mentraktir dua orang penggila es krim ini, eoh??”

“Nee.. halus Samchon… es klim dengan mangkuk besaaalllll”

Dan sore itu Soyoung merubah tujuannya untuk sekedar mencari udara segar di luar rumah. Setelah bertemu Ryeowook, gadis ini memutuskan untuk menikmati matahari terbenam bersama Ryeowook dan Jiyoung di toko es krim. Keceriaan terpancar dari mereka bertiga terlebih tingkah menggemaskan Jiyoung selalu mengundang tawa Ryeowook dan Soyoung. Dia benar-benar melupakan sedikit luka hatinya di sore yang indah itu bersama Ryeowook dan Jiyoung.

~~~TBC~~~