Cast : Kim Jong Woon aka Yesung Super
Junior
Lee Soyoung (OC)
Jung Rae Ah (OC)
Supports: Kim Ryeowook
Lee Donghae
Kim Jongjin
Genre :
Romance, Sad, Friendship
Length : Series
Rated : 17 +
Author : RinPanda
Disclaimer : Sebelumnya aku berterima kasih buat semua yang udah bersedia membaca
tulisan berantakanku dari cerita ini di part 1 J ceritanya gaje ya?? Hahaha aku juga merasa
seperti itu, tapi aku harap di part ini ceritanya gak mengecewakan kalian. Ini
baru awal alur sebenarnya masih aku simpan untuk part selanjutnya. Tapi semoga
gak terkesan membosankan buat kalian. Okee,,, peringatan utama dari aku adalah
berhati-hatilah ranjau masih bertebaran di part ini heheheh XDDD
Background Song :
1.
Confession of A
Friend – 2AM
2.
For One Day - Yesung
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Dan haruman dan
haruman
(For one day, just for one day)
geudael jiuryeo
haebwado
(Thought I fight to erase you from my mind)
Seupgwancheoreom
babocheoreom
(But like a habit, and I’m like a fool)
dasi tto nunmuri
najyo
(Again, again my tears fall)
Seoul International
Hospital
Soyoung menyandarkan punggungnya
lelah di kursi ruang periksanya. Dia baru saja selesai melakukan pemeriksaan
ulang pada pasiennya, seorang anak kecil penderita kanker. Dia harus melakukan Pet CT Scan serta pemeriksaan
laboratorium ulang untuk mengetahui letak kanker itu berada dan sudah sejauh
mana penyebaran anak kanker pada tubuh pasiennya itu. Hal ini memang memakan
waktu yang tidak sebentar, terlebih lagi kondisi anak itu masih histeris karena
takut melihat peralatan kedokteran di depannya. Namun bukan itu yang menjadi ganjalan
dalam pikirannya saat ini, pesan masuk yang dikirimkan oleh ibunya lah yang
membuat Soyoung benar-benar kehilangan semangatnya.
Sayang, eomma tahu kau sangat sibuk di rumah
sakit, tapi eomma harap malam ini kau dapat meluangkan waktu untuk makan malam
bersama dengan keluarga Kim. Kami akan membahas mengenai persiapan pertunangan
Rae Ah. Donghae akan menjemputmu nanti sore.
Ini sudah dua minggu sejak
pengumuman pertunangan antara Kim Jongwoon dan Jung Rae Ah. Dan selama dua
minggu itu, Soyoung selalu menghindar dari pembicaraan mengenai persiapan
pertunangan. Hotel yang digunakan, jumlah tamu undangan dalam pesta pengikatan
tali asmara dua sejoli itu bahkan kapan tepatnya pertunangan itu diadakan dia
tak tahu sama sekali. Kalau boleh memilih Soyoung lebih ingin tetap berada di
rumah sakit, tidak menghadiri acara makan malam itu. Tentu saja dia menyadari
berada dalam acara itu hanya menaburkan garam di hatinya. Harus diakui Soyoung,
dia merindukan Jongwoon. Dia ingin sekali menatap wajah tampan namja itu lagi,
sejak kembali ke Korea baru sekali tempo hari lalu saja dia bertemu Jongwoon,
setelahnya dia menghindar dan beralasan sibuk dengan pasien-pasiennya.
Seandainya acara ini bukan
mengenai pertunangan itu, eomma, keluhnya sedih. Soyoung menghela napas panjang
mencoba meredakan nyeri di hatinya. Dia menyadari hatinya masih terikat pada
sosok tampan mempesona itu. Namja yang sejak awal merebut hatinya dan menjadi
cinta pertamanya. Sadarlah, Lee Soyoung, takdir sedari awal telah menentukan
Jongwoon bukan untukmu. Tak malukah dirimu mengharapkan cinta dari namja yang
sebentar lagi akan terikat dengan gadis yang telah berjasa dalam hidupmu?
Batinnya terus memperingatkannya. Soyoung kembali menghela napas, menatap
kosong dinding aquatic di depannya. Angannya melayang jauh di masa dia bertemu
Jongwoon ketika dia seorang remaja lugu yang masih terlalu polos untuk jatuh
cinta.
~Flashback On~
Seorang gadis bertubuh bulat masuk ke dalam ruang
latihan ballet yang sedang diadakan seleksi pemilihan ballerina untuk perayaan
kesenian yang selalu diadakan setiap tahun oleh sekolahnya. Gadis itu menoleh
ke kanan dan ke kiri mencari seseorang. Kemudian matanya menangkap sosok
seorang gadis seusianya yang dicarinya di seberang tempatnya berdiri saat ini.
“Rae-ya…” serunya keras tak menyadari dimana dia
sedang berada sekarang.
Tiba-tiba semua orang yang berada dalam ruangan
itu berhenti dari aktivitas mereka dan menatapnya aneh. Jung Rae Ah, gadis
cantik nan penuh pesona ini hanya mendengus kesal mendengar teriakan gadis
bulat itu. Kemudian dengan rasa malu yang luar biasa, Rae Ah menyeret gadis
gemuk itu keluar dari ruang ballet.
“Youngie, sudah berapa kali kukatakan kau jangan
pernah datang ke ruang ballet, hah? Aku sudah berkali-kali bilang bukan. Tiap
kali kau muncul di kelas ballet hanya membuatku malu. Atau kau memang ingin
mempermalukan aku di hadapan semua teman-temanku?” omel Rae Ah kasar pada
Soyoung, gadis bertubuh bulat itu. Wajah cantiknya memerah karena rasa marah
dan malu.
“Mianhae, Rae-ya! Aku datang untuk ikut kelas
ballet juga. Aku ingin belajar ballet bersamamu.” Soyoung menundukkan kepalanya
merasa menyesal membuat Rae Ah terganggua. Dia tahu kedatangannya pasti akan
memancing kemarahan Rae Ah. Dia sangat menyadari bahwa Rae Ah malu bila
berdekatan dengannya.
“MWORAGO‼‼” Rae Ah berteriak gusar dengan suara tinggi yang membuat semua orang yang
mendengarnya menutup telinga mereka. “Gadis bodoh‼ Kau benar-benar ingin mempermalukanku, hah? Kau datang ke kelas ballet
saja teman-temanku sudah mencelaku habis-habisan. Lalu apa yang akan aku terima
kalau kau juga bergabung di kelas ballet, hah? Bukan hanya mereka yang
mencelaku, tapi seluruh sekolah akan menghinaku, Lee Soyoung!!” teriaknya lagi
dengan suara yang melengking tinggi.
“Anni, bukan seperti itu, Rae-ya! Hanya saja aku
ingin menjadi ballerina sepertimu. Aku ingin membuat eommaku bangga. Selama ini
eomma sangat ingin aku belajar ballet, sekali saja untuk eommaku, kumohon.”
“Kau benar-benar tak tahu diri, Youngie! Kau
harusnya menyadari siapa dirimu. Kau pikir ada seseorang yang menjadi ballerina
memiliki tubuh bulat sepertimu, hah?” bentak Rae Ah berkacak pinggang. Matanya
mendelik marah memandang Soyoung. Kepalanya benar-benar hampir meledak
mendengar permintaan tak tahu diri dari gadis bodoh di hapadannya itu.
“Arraseo! Tapi…”
“Sudahlah kalau memang kau ingin bergabung di
kelas ballet bergabung saja. Tapi aku akan keluar dari kelas ballet selamanya.”
“Rae-ya jangan seperti itu. Kau adalah ballerina
terbaik. Jangan sia-siakan bakatmu.” Bujuk Soyoung pelan. “Arraseo! Aku
mengerti. Aku tidak akan meminta bergabung lagi dengan kelas ballet. Tapi aku
mohon jangan keluar dari kelas ballet.” Soyoung melangkah menjauh dari Rae Ah
dengan gontai. Kepalanya menunduk menyembunyikan airmata yang mulai membasahi
pipi gemuknya. Dia tahu sampai kapanpun dia takkan bisa bergabung di kelas
ballet. Bukan salah mereka. Tentu saja Rae Ah benar, dimana ada ballerina
bertubuh bulat bak badut seperti dirinya.
Soyoung terus berjalan hingga kakinya berhenti di
taman belakang sekolahnya yang sunyi. Hari ini jam pelajaran sudah selesai
sehingga sudah tidak ada orang lain lagi di taman itu. Sunyi. Suasana seperti
inilah yang selalu mampu membuatnya tenang dikala hatinya bersedih. Untuk gadis
remaja seusianya, Lee Soyoung memang seorang yang pendiam dan tertutup. Dia
tidak memiliki banyak teman, sehingga hanya menyendiri di taman inilah caranya
mengurangi kesedihannya. Namun kesedihannya kali ini sungguh yang paling
menyakitkan. Jung Rae Ah, sahabat yang sudah dia anggap saudaranya sendiri
menolaknya untuk bergabung di kelas ballet karena malu dengan kondisi badannya
yang bengkak. Menyakitkan memang, namun itulah kenyataan yang ada.
“Ige…” seseorang menyodorkan dua lembar tissue
pada Soyoung yang masih menangis. “Kau sangat jelek kalau menangis terus.”
Ujarnya lagi sambil memposisikan dirinya duduk di samping Soyoung. Dia menoleh
menatap Soyoung dengan alis berkerut dan kemudian menggelengkan kepala. Gadis
keras kepala! Pikirnya.
“Ryeowook-ah!” gumamnya lirih ketika dilihatnya
siapa yang memberikannya tissue. “Gomawo, Wookie.” Soyoung menerima tissue itu
dan menghapus airmata dipipinya. “Kau kenapa masih di sini? Bukankah pelajaran
sudah berakhir satu jam lalu?”
“Aku tadinya sudah akan pulang. Tapi saat keluar
dari kelas aku melihatmu bicara dengan Rae Ah.” jawab Ryeowook santai. Dia
menoleh pada Soyoung yang masih menatapnya dan tersenyum simpul. “Rae Ah
terlihat marah tadi. Pasti masalah ballet lagi, kan? Soyoungie, aku heran
mengapa kau sangat ingin bergabung dengan kelas ballet?”
Soyoung tidak menjawab pertanyaan Ryeowook, dia
hanya menunduk dan berusaha menyembunyikan air matanya. Kalau saja dia bisa
seperti Rae Ah mungkin dia tidak akan terlihat begitu menyedihkan seperti ini.
“Hey! Uljima jangan menangis.” Ryeowook mengusap
lembut pipi Soyoung, menghapus airmata yang kembali membasahi pipi bulat itu.
“Kau tahu, Youngie? Semua orang memiliki bakatnya sendiri-sendiri. Rae Ah memang
sangat berbakat ballet dan kau memang tidak bisa ballet. Tapi, kau memiliki
yang Rae Ah bahkan murid lain tidak miliki. Kau murid yang cerdas. Selalu
mendapatkan nilai terbaik dan prestasi bagus. Menurutku itu sangat luar biasa
daripada ballet.”
“Hanya menurutmu, Wookie. Tapi orang lain
melihatku sebagai orang yang tidak ada artinya.”
“Bukan hanya itu. Kau juga pandai bermain piano
dan bernyanyi. Tidak semua orang bisa bernyanyi merdu bukan?”
“Suaraku tidak sebaik suaramu, Wookie-aa”
“Sudahlah! Kajja ikut aku sekarang!” dengan cepat
Ryeowook menarik tangan Soyoung untuk mengikutinya. “Kita bermain musik saja
daripada kau terus menangis. Aku punya seorang guru musik yang sangat luar
biasa. Dia akan banyak membagi ilmunya dengan kita.” Ujarnya lagi dengan
tersenyum menghiasi wajah polosnya. Yah seperti itulah Ryeowook, hanya dia yang
selalu menghibur Soyoung. Hanya dia satu-satunya teman yang paling memahami
Soyoung.
Kkwae o rae dwaesseo nae mami jogeum ssig byeon
hagi shijak hanji
(ini sudah cukup lama, semenjak hatiku secara perlahan mulai berubah)
honja seo goerowo hanji
(dan saat aku mulai merasa sendirian)
eonje buteon gani gabol ttaemada
(Dari titik tertentu setiap kali aku
melihatmu)
neoreul ulli neun namjaga neomu nami wosseo
(Aku benci pria yang telah membuatmu menangis)
Charari naega neoljiki neunge
(Terkadang aku ingin tahu apakah lebih
baik)
na eul jido moreun daneun saenggagi
(jika sebagai gantinya aku yang
melindungimu)
ije neun naega neol ana jugo
(Mulai sekarang, daripada membiarkanmu
pergi)
sarang hae jugosipdan saenggagi deureosseo
(aku ingin mulai mencintaimu)
“Itu lagu yang sangat indah,
Ryeowookie, kenapa kau baru menyanyikannya sekarang eoh?” Seseorang mengagetkan
Ryeowook dan Soyoung yang sedang bernyanyi dengan memainkan piano di sebuah penthouse
kecil di pinggiran kota Seoul. Entah kapan orang itu datang, tiba-tiba saja dia
sudah bersandar dengan santai di pintu utama penthaouse dengan melipat
tangannya di dada.
“Ah, Hyung kapan kau datang? Aku
tidak menyadarinya?” Ryeowook bertanya heran begitu melihat Jongwoon di
penthouse itu. Dia tahu Jongwoon itu makhluk aneh sering muncul dengan
tiba-tiba, tapi tetap saja tingkah laku Jongwoon selalu membuatnya terkejut. Kapan
Jongwoon hyung datang? Pikirnya bingung.
“Kau membuatku membuang waktuku
selama 2 jam, anak muda! Dan dengan tanpa bersalah sedikitpun kau masih
bertanya kapan aku datang?” Jongwoon memicingkan matanya. Dia merasa kesal pada
namja bertampang polos di depannya ini. Berani-beraninya namja muda ini membuatnya
menunggu hingga hampir mati bosan. Sungguh keterlaluan! “Jadi kau terlambat
untuk pacaran dulu? Hebat! Benar-benar hebat!” sindir Jongwoon, matanya melirik
sebentar Soyoung yang berdiri di samping Ryeowook. “Kalau kau ada jadwal untuk
menemui pacarmu hari ini, tidak perlu meneleponku untuk datang ke tempat ini.” Cecarnya
lagi.
“Ahh,, Hyung jeongmal mianhae.
Bukan begitu! Hanya saja tadi….” Ryeowook terdiam. Dia tidak tahu harus
menjelaskan bagaimana, dan Ryeowook cukup peka untuk mengetahui bahwa namja yang
dipanggilnya Hyung itu dalam mood yang buruk. Dia melirik Soyoung dan berdeham
pelan. “Hmm.. Hyung, kenalkan dia temanku. Kami satu kelas dan mulai hari ini
dia belajar musik bersamaku.” Ryeowook menarik Soyoung mendekati Jongwoon.
“Tidak apa-apa kan Hyung dia belajar bersamaku?”
“Siapa namamu?” Jongwoon bertanya
tanpa merubah ekspresi wajahnya sedikitpun. Dingin. Gersang dan acuh tak acuh.
Bahkan nada suaranya sama sekali datar tak bersahabat. Jongwoon kembali menatap
gadis di depannya ini. Dia belum pernah bertemu gadis ini, tapi sepintas wajah
gadis ini sudah sangat familiar untuknya hanya saja pipinya lebih bulat. Jongwoon
mengerutkan alisnya.
“Lee Soyoung… Lee Soyoung
imnida.. ”Soyoung menjawab dengan tergagap. Dia sedikit malu ketika matanya beradu
pandang dengan mata tajam Jongwoon sehingga dia hanya menundukkan kepalanya.
Tampan! Dia sangat tampan, pikir Soyoung jujur tapi sikapnya dingin sekali. Soyoung
merasa bersalah pada Ryeowook karena harus menghiburnya, namja ini terlambat
datang ke pelajaran musiknya. “Jeongmal mianhae… aku yang meminta Wookie
untuk….”
“Berlatih sungguh-sungguh!”
“Ne??”
“Berlatih
sungguh-sungguh! Kalau kalian belajar musik bersama hanya untuk pacaran lebih
baik kalian tinggalkan tempat ini. Tapi bila kalian ingin tetap di sini belajar
dan berlatih sungguh-sungguh, jangan terlambat lagi!” tanpa mendengarkan
Soyoung menyelesaikan perkataannya Jongwoon memberi perintah tegas tak
terbantahkan. Setelah itu dia meninggalkan penthouse itu tanpa menoleh pada dua
remaja yang mematung di belakangnya.
“Dia
galak sekali!” gumam Soyoung mengernyitkan hidungnya. Matanya masih saja betah
memandangi kepergian Jongwoon yang semakin menjauh dari penthouse. Wajahnya
tampan tapi kata-katanya ketus sekali! “Apa dia selalu mengajar musik dengan
ekspresi datar dan dingin seperti itu, Wookie-ah?” Soyoung berpaling kembali
pada piano yang mereka tinggalkan tadi. “Aku tidak mau belajar musik kalau
gurunya galak seperti itu. Apakah namja tampan selalu galak seperti dia?”
“Jangan
menyerah begitu, Youngie! Sebenarnya Jongwoon hyung itu sangat baik, dia penuh
perhatian dan ramah. Dia sepertinya benar-benar kesal karena menunggu di tempat
ini sendirian. Jongwoon hyung benci kesendirian, dia akan merasa bosan bila
hanya seorang diri di suatu tempat.” Ryeowook membujuk Soyoung. Ah ini hari
pertama Soyoung belajar musik dan dia sudah memberi label pada Jongwoon sebagai
‘Guru Galak’. Ckckckc… “Eh tunggu! Tadi kau mengatakan apa? Namja tampan selalu
galak? Yaaak,, Lee Soyoung apa itu sebuah pujian untuk Jongwoon hyung? Ah kau
mau aku mengadu padanya kalau kau mengatakan dia tampan tapi galak?” goda
Ryeowook geli menyadari pujian tampan yang diberikan Soyoung pada Jongwoon.
“Yaak,
Kim Ryeowook! Aish!” Soyoung berseru kesal, kemudian menundukkan kepalanya, wajahnya
merona merah menyadari kebodohannya memuji Jongwoon tampan. “Siapa tadi namanya?”
Soyoung menoleh pada Ryeowook lagi yang masih terkekeh geli dengan tingkah
temannya ini.
“Namanya
Kim Jongwoon, dia mahasiswa Kyonggi University, dia mengambil dua fakultas
sekaligus. Commerce Faculty dan Digital Music Faculty di universitas tersebut. Kau tahu dia meski
terlihat dingin tapi sebenarnya dia sangat baik dan lembut, dia juga sangat
cerdas, suaranya juga sangat bagus. Semua orang langsung terkesima bila
mendengar dia bernyanyi.” Ryeowook menjelaskan segala hal tentang Kim Jongwoon
dengan penuh kebanggaan. Seolah yang dia jelaskan itu naskah kerjasama bernilai
jutaan won.
Namja
yang sempurna! Kembali Soyoung menekuni hobi barunya melamun mengenai Jongwoon.
Tanpa dia sadari senyuman manis kembali terukir dibibirnya. Dia tampan! Cerdas!
Dan berbakat dalam musik! Entah mengapa berpikir mengenai Kim Jongwoon menjadi
hal wajib mulai hari ini untuknya. Ryeowook yang sedari tadi memperhatikan
Soyoung hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
*****
Soyoung
tiba di penthouse itu, tempat yang sudah lebih dari seminggu ini dia kunjungi
setiap pulang sekolah. Sejak hari itu dia memutuskan untuk tetap belajar musik
bersama Ryeowook dengan bimbingan dari Jongwoon. Bahkan hari ini meskipun tidak
ada jadwal latihan Soyoung tetap datang ke penthouse itu. Dari cerita Ryeowook,
dia tahu bahwa mengajar musik merupakan pekerjaan sampingan Jongwoon
disela-sela kesibukan kuliah dan mengurus perusahaan keluarganya. Tentu saja
Jongwoon mengajar bukan untuk mendapat tambahan uang saku, dia mengajar untuk
menyalurkan kecintaannya terhadap musik.
Soyoung
menyibakkan tirai putih yang menutupi sebuah pintu kaca yang mengarah ke
balkon. Kembali dia menarik bibirnya membentuk sebuah senyum manis menatap
pemandangan laut yang tenang di sore hari. Soyoung membuka pintu dan melangkah
mendekati tepi balkon. Tiupan angin berhembus membelai rambutnya dan suasana
yang indah dan menyejukkan hatinya. Kim Jongwoon sunbae! Dia tampan, manis,
berbakat dalam musik dan cerdas. Sangat sempurna, pikir Soyoung dengan senyum
yang masih terukir. Di tengah lamunannya, tanpa dia sadari seseorang telah
mengamatinya beberapa lama. Kim Jongwoon. Namja itu mengamati Soyoung yang
tengah hanyut dalam lamunannya.
“Apa
yang kau lakukan di sini, Soyoungie? Hari ini bukankah tidak ada jadwal
latihan?” Jongwoon mulai membuka pembicaraannya dengan Soyoung. Gadis itu
tersentak dari lamunannya dan menoleh terkejut pada namja yang kini sedang
duduk manis di kursi malas yang ada di sisi lain balkon. “Apa Ryeowook tidak
memberitahumu hari ini tidak ada pelajaran musik?” tanyanya santai.
Wajah
Soyoung merona, semburat merah terlihat dipipi chubby-nya. Entah mengapa jantungnya beberapa hari ini berdetak
dengan abnormal setiap dia mendengar suara Jongwoon di dekatnya. Ahh, bahkan
hanya suaranya saja mampu membuat jantungku berdegub cepat, keluh Soyoung salah
tingkah. Satu minggu belajar musik dalam bimbingan Jongwoon membuat Soyoung
mulai menyadari bahwa Jongwoon memiliki mood yang cepat berubah. Dia akan ramah
dan bersahabat saat dalam mood yang baik, tapi bila moodnya memburuk jangan
tanyakan lagi. Bahkan menyapamu saja dia takkan melakukannya. Sepertinya dia
dalam mood yang baik, pikirnya lagi.
”Hey…
Lee Soyoung, kau mendengarku?” Jongwoon menatap heran gadis di hadapannya yang
tiba-tiba mematung tanpa sebab. Jongwoon berdiri dari kursi malasnya dan
menghampiri Soyoung yang masih terlena dengan kehadirannya. “Lee Soyoung.. Hey
Soyoungie! Gwenchanayo?” Jongwoon menggoyangkan bahu Soyoung untuk menyadarkan
gadis itu. “Gwenchanayo, eoh?”
Soyoung
tersentak merasakan jari-jari Jongwoon meremas bahunya. “Ne? Ah mi.. mianhae
Jongwoon sunbae… aku baik-baik saja. Sun.. sunbae, aku baik.” Ujarnya dengan
tergagap. Dia gugup. Soyoung menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya
yang semakin merona. Ada apa ini? Jantungku semakin berdetak tidak normal hanya
karena dia memegang bahuku? Aishh neo baboya, Soyoungie! Rutuknya.
“Kau
sakit, eoh? Wajahmu merah.” Ujar Jongwoon kembali. Dengan lembut Jongwoon
meletakkan punggung tangannya ke kening Soyoung. Otomatis tindakannya semakin
membuat semburat merah di wajah gadis itu. “Tidak panas? Kurasa kau baik-baik
saja. Tapi kau jangan suka melamun, kau tahu gadis yang senang melamun akan
sulit jodoh.” Kelakarnya geli. Senyuman manis terukir indah dibibir Jongwoon,
dan untuk kesekian kalinya bahkan hanya dengan sebuah senyuman saja namja ini
mampu mengalihkan dunia seorang gadis polos seperti Soyoung.
“Astaga
kau melamun lagi? Ckckck…”
“Ah
ani… hanya saja… ahh apa yang Sunbae lakukan di sini? Bukankah hari ini kita
tidak ada jadwal latihan?”
“Itu
tadi bukan kah pertanyaanku padamu. Mengapa jadi kau tanyakan padaku juga?”
Jongwoon mengerucutkan bibirnya. Astaga bahkan dengan ekspresi kekanakan
seperti itu dia terlihat tampan. Dan Soyoung harus mengutuk dirinya lagi yang
harus terpesona dengan makhluk di depannya ini.
“Tenang!”
Jongwoon menolehkan wajahnya ke hamparan laut biru yang menjadi pemandangan
utama dari penthouse itu. “Tempat ini adalah tempat favoritku. Tenang, damai
dan nyaman. Apalagi aroma angin laut yang berhembus selalu mampu membuat hatiku
damai. Aku merasa mendengarkan angin mengalunkan musik indah dari seberang
lautan.” Jongwoon bergumam menjawab pertanyaan Soyoung tadi. Senyumnya masih
terukir dan matanya berbinar memandang hamparan air laut.
“Jadi
itu mengapa Sunbae memilih tempat ini untuk memberi les musik pada
murid-muridmu? Ryeowook pernah berkata padaku kau lulusan dari sekolah kami
tiga tahun lalu dan kau mengajar ekstrakulikuler musik.” Soyoung menanggapi
gumaman Jongwoon tanpa mengalihkan matanya dari namja yang tengah asyik menatapi
lautan. “Agak aneh karena Sunbae mengajar musik di luar sekolah apalagi di
tempat sunyi seperti ini. Ryeowook pernah berkata padaku kalau kau benci
sendirian dan tempat sunyi karena itu bisa membuatmu bosan, tapi tempat ini
memang sangat indah aku jadi mengerti mengapa kau memilih tempat ini untuk
mengajar musik, Ryeowook selalu bersemangat setiap jadwal belajar musiknya
tiba. Tapi kata Ryeowook, Sunbae memang orang yang aneh.”
“Pacarmu
itu terlalu banyak bergosip tentang diriku rupanya? Apalagi yang dia laporkan
padamu?” dengus Jongwoon kesal. Aneh? Apa dia kelihatan aneh? Seenaknya saja
Ryeowook mengatakan dia aneh! “Katakan pada pacarmu itu berhenti bergosip
tentangku atau akan kupastikan hukuman menyanyi seribu kali padanya.” Jongwoon
melangkah masuk meninggalkan Soyoung yang masih di balkon. Dia mendekati piano
dan menekan beberapa tuts hingga menghasilkan alunan irama yang indah.
“Ryeowook
bukan pacarku, Sunbae! Kami hanya berteman saja.” Protes Soyoung mengekori
Jongwoon. Dia mengembungkan pipinya dan mengedarkan pandangannya ke
dinding-dinding penthouse lalu menoleh lagi pada Jongwoon yang menatapnya. “Eung..
Sepertinya hari semakin senja, ahh lebih baik aku pulang saja, Sunbae. Mianhae
aku mengganggumu.” Ujarnya sambil mengusap tengkuknya canggung. Kembali beradu
pandang membuat Soyoung menjadi canggung.
“Ya,
tanpa kita sadari senja sudah datang. Kau pulang sendirian? Ada yang akan
menjemputmu nanti?”
“Eoh?
Ani.. aku pulang sendiri, aku lupa mengatakan pada oppaku kalau aku mampir ke
sini setelah pulang sekolah.”
“Jamkaman!
Lebih baik kau pulang denganku. Tempat ini terletak jauh di pinggiran Seoul,
kau akan tiba malam hari kalau menunggu bus di sini.” Jongwoon segera meraih ransel
kecilnya yang dia letakkan di atas piano ketika dia datang tadi dan langsung
menggandeng tangan Soyoung tanpa menunggu penolakan gadis itu. “Di mana
rumahmu? Aku antar sampai rumahmu.”
“Apa
itu tidak merepotkanmu, Sunbae?” Soyoung ragu menerima tawaran Jongwoon. Lagi pula
dia bisa menelepon oppanya, jantungnya pun berdetak semakin tidak normal
merasakan genggaman jari Jongwoon meremas tangannya.
“Gwenchana,
kajja! Anggap saja aku menolongmu, jadi kau esok harus membalas jasaku ini.”
Ujar Jongwoon tersenyum geli. Dia menaiki dan menyalakan mesin motor sportnya.
“Pakai ini!” Jongwoon menyodorkan helm cadangan pada Soyoung dan memakai sebuah
helm dikepalanya sendiri.
“Aissh,,
ternyata ada imbalan untuk bantuanmu, eoh?” Soyoung memberengut sebal tapi
tetap menerima dan memakai helm pemberian Jongwoon. Dia segera melangkahkan
kakinya dan duduk manis di belakang Jongwoon. “Sunbae, rumahku cukup jauh.”
Ujarnya kemudian.
“Arraso…”
Tanpa
berkata apapun lagi Jongwoon segera melajukan motor sport kesayangannya. Motor
itu melaju cepat menyusuri jalan di pinggiran kota. Laut biru dengan semburat
jingga dari bias-bias matahari di tepi barat menjadi pemandangan indah membuat
siapapun yang melewati jalan ini sulit menolak keindahan alam ini. Soyoung
tersenyum cerah rasa canggungnya berboncengan motor dengan guru musiknya
sedikit mereda dengan suasana ini. Dimulai hari ini hubungan mereka semakin
akrab tidak hanya sebagai guru dan murid, tapi juga sebagai teman.
*****
“Hahahaha….
Kau benar-benar lucu, Youngie…” Jongwoon terkekeh geli melihat pipi Soyoung
yang baru saja dia tambahi gambar kura-kura abstrak menggunakan lipstick merah. Mereka tengah bermain
kartu dan siapa yang kalah harus rela wajahnya dicoreti menggunakan lipstick itu. Ini sudah ketiga kalinya
Soyoung kalah bermain dan dia harus rela wajahnya digambari kura-kura oleh
namja yang tengah berguling-guling di lantai saking senangnya mentertawai
dirinya. “Hahaha.. kau tahu kau seperti boneka Jepang, ahh apa ya namanya??
Tapi itu sangat lucu hahahah…” lagi-lagi Jongwoon tertawa terbahak-bahak.
Soyoung
mendengus kesal, “Puas kau mewarnai wajahku dengan lipstick awas saja kau, kepala helm!” Gerutunya melotot ngeri pada
Jongwoon. Sedangkan Jongwoon tidak peduli sedikitpun pada tatapan Soyoung yang
menurutnya tidak menakutkan itu, padahal Soyoung sudah ekstra melebarkan
matanya. “Oppa.., aishh berhenti mentertawaiku!” serunya jengkel. Soyoung
menghampiri Jongwoon dan mencubit perutnya dengan kesal.
“Aaakkhhh….”
Jongwoon memekik kesakitan ditengah tawanya merasakan cubitan Soyoung
diperutnya. RASAKAN! Dasar kepala helm! Ejek Soyoung puas melihat Jongwoon
mengusap perutnya sendiri namun tetap tidak berhenti untuk mencubit Jongwoon.
“Hey nona, berhenti menyiksaku!” Jongwoon mengerucutkan bibirnya. “Kau gadis
yang mengerikan suka sekali menyiksa namja tampan seperti diriku. Ahh aku lupa.
Kau bukan gadis kau bantal! Hahaha….” Sekali lagi dengan tidak sopan Jongwoon
menjulurkan lidahnya dan beranjak menjauh dari Soyoung yang siap mencubitnya
lagi.
“Jongwoon
oppa…” teriak Soyoung kesal setengah mati dengan namja yang terus mentertawai
dirinya dengan senangnya.
“Hahahaha…..”
Akhirnya
Jongwoon dan Soyoung saling berkejar-kejaran di ruang keluarga yang cukup luas
di rumah Soyoung. Mereka benar-benar terlihat seperti anak taman kanak-kanak
dengan tingkah mereka. Saat mereka tengah asyik saling melempar satu sama lain
dengan boneka-boneka milik Soyoung, boneka yang dilempar Jongwoon membuat
seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu terpeleset.
“Aaakkhh..”
Rae Ah berteriak kesakitan ketika dirinya terjatuh di tangga yang menghubungkan
kamarnya dengan ruang tengah. “Appoyo… Yakk Lee Soyoung!!!” jeritnya kesal
ketika matanya melihat boneka berserakan di ruangan itu.
“Rae-ya..
Ah mianhae..” Soyoung menghampiri Rae Ah dan mencoba membantu sepupunya itu
berdiri. Namun dengan keras Rae Ah menepis tangan Soyoung.
“Paboya…
kau menyakiti aku…” lagi-lagi Rae Ah berteriak marah mendorong Soyoung yang
berjongkok hendak menolongnya. “Jangan sentuh aku! Kau benar-benar tak tahu
diri Lee Soyoung! Harus berapa kali aku katakan supaya kau berperilaku seperti
gadis berusia 18 tahun? Kau bukan anak kecil yang hanya bisa melempar boneka.”
Dengus Rae Ah geram. Dia berusaha berdiri dengan kaki yang cedera karena jatuh
dari tangga.
“Jeongmal
mianhae..” Yesung mendekat pada Rae Ah dan membantu gadis itu berdiri. Dia
merangkulkan tangan Rae Ah ke bahunya dan memapah Rae Ah yang sepertinya
benar-benar cedera ke sofa di ruangan itu. “Mianhae,, ini semua kesalahanku,
bukan kesalahan Soyoung. Aku yang melempar boneka itu ke arah tangga dan tidak
menyadari bila ada seseorang yang akan menuruni tangga.” Jongwoon merasa
menyesal karena kesalahannya sudah menyebabkan satu korban dan juga membuat
Soyoung dimarahi oleh sepupunya ini. “Biar aku yang mengobati, aku bisa sedikit
memijatnya agak rasa sakitnya berkurang.” Jongwoon menaikkan kaki kanan Rae Ah
yang cedera ke pahanya dan mulai memijit pelan pergelangan kaki itu.
“Appo??”
“Aniyo..”
Rae Ah tersenyum sendiri sedikit terpesona dengan namja tampan yang temgah
fokus memijat kakinya.
“Ahh
kurasa ini 3 atau 4 hari kakimu akan sembuh.” Ujar Jongwoon masih fokus memijit
pergelangan kaki Rae Ah. Sedangkan Rae Ah tersenyum penuh arti menatap lekat
wajah tampan yang ada di hadapannya ini. Dia tampan! Boleh juga dijadikan
kekasih, batinnya senang. Bagaimana bisa sepupunya yang bulat dan gendut itu
memiliki teman namja setampan ini? Bahkan dia yang merupakan gadis populer di
sekolahnya karena kecantikannya saja tidak pernah berpacaran dengan namja
tampan seperti yang saat ini ada di hadapannya.
“Rae-ya,
gwenchana? Aku menyesal maaf kau harus terluka karena tersandung bonekaku.”
Lagi-lagi
Soyoung hadir disaat yang kurang tepat menurut Rae Ah. Gadis itu bersungut
kesal karena merasa kehadiran Soyoung yang mengganggu saat dirinya menikmati
pemandangan wajah tampan namja yang memijat kakinya. Rae Ah menggeram “Kau
tidak lihat kakiku cedera karena boneka bodohmu itu? Kau pikir maafmu itu bisa
menyembuhkan kakiku dengan cepat? Sudahlah simpan maafmu baik-baik, aku tidak
butuh!” gadis itu melirik sebentar ke arah Soyoung yang berdiri di sampingnya
kemudian berkata lagi “Wajahmu itu sudah jelek tidak perlu kau gambari, kau
semakin terlihat buruk rupa dengan gambar-gambar itu.” ejeknya sinis melihat
wajah Soyoung yang masih penuh gambar kura-kura Jongwoon.
Jongwoon
menurunkan kaki Rae Ah yang telah dia pijit dan menghampiri Soyoung yang segera
menghapus gambar kura-kura di wajahnya setelah mendengar ejekan Rae Ah.
“Mianhae, Youngie aku sudah menggambari wajahmu.” Jongwoon tersenyum tulus pada
Soyoung dan mengusap pipi gadis itu lembut. “Aku harus pulang, besok aku datang
lagi. Kau jangan terlambat, arra?” Jongwoon
mengedipkan matanya dan berpamitan pada Soyoung dan Rae Ah kemudian
meninggalkan mereka berdua.
“Kau
sudah lama mengenalnya?” selidik Rae Ah penasaran. Dia benar-benar kesal
mengapa Soyoung bisa mengenal namja tampan seperti Jongwoon dan terlihat akrab.
Rae Ah iri ketika Jongwoon tersenyum, mengusap pipi Soyoung dan lebih parahnya
mengedipkan mata. Apa bagusnya gadis bulat seperti Soyoung? Dia tidak punya
kelebihan apapun selain berat badannya yang selalu naik setiap bulannya.
“Nee?”
Soyoung tersentak. “Uhm,, sudah beberapa bulan ini, Ryeowook yang mengenalkan
aku pada Jongwoon oppa.” Soyoung tersenyum ketika mengingat sekilas awal
pertama dia mengenal Jongwoon. “Guru galak” itu kesan pertama Soyoung pada
Jongwoon, tapi setelah beberapa bulan belajar musik dari namja itu, Soyoung
mulai tahu banyak tentang Jongwoon. Dia namja yang menyenangkan, tingkahnya
aneh, konyol dan suka seenak hatinya sendiri. Tapi tetap saja bila urusannya
dengan musik Jongwoon tetap galak!
“Berhenti
tersenyum!” Rae Ah mendengus. “Kau ingat janjimu padaku saat itu, kan??” Rae Ah
kembali menginterupsi. Dia mendekati Soyoung dan berbisik, “Sudah saatnya kau
membayar hutangmu padaku, Youngie! Aku menagih pembayaran itu!” Rae Ah
tersenyum penuh kemenangan dan melenggang pergi begitu saja. Sedangkan Soyoung?
Gadis ini masih terkejut dengan kata-kata terakhir Rae Ah. Akhirnya hari yang
itu akan datang, lambat namun pasti hari itu pasti datang.
~Flashback
off~
Drrrrttttt!!
Drrrrttttt!!
Soyoung
tersentak dari lamunannya ketika ponselnya bergetar. Dia meraih ponsel yang
diletakkannya di meja kerjanya. Dia mengerutkan keningnya melihat nomor baru
masuk mengiriminya pesan. “satu jam lagi
aku akan menjemputmu. Berkemaslah. Kau tak mau terlambat pada acara penting
malam ini bukan? Cepatlah berkemas!”
Soyoung
semakin mengerutkan alis bingung, siapa yang mengiriminya pesan? Nomor siapa
ini? Ini bukan nomor Donghae, juga bukan nomor ibunya. Lagi pula untuk apa dia
mengirimi Soyoung pesan, Donghae biasanya akan langsung masuk ke ruang kerjanya
tanpa harus menghubunginya. Apa Rae Ah yang mengirim pesan? Pikir Soyoung
heran. Untuk apa? Apa dia masih ingin menunjukkan bahwa dia akan memiliki
Jongwoon sebentar lagi? Hah! Mungkin bukan Rae Ah, mungkin saja Donghae yang
mengiriminya pesan untuk menjahilinya. Tak berapa lama ponsel itu bergetar lagi
dan nomor yang sama kembali tertera dari pesan yang masuk ke ponselnya.
“sudah selesai berkemas??
Cepatlah! Aku bosan menunggumu!”
Soyoung
merasa kesal. Ponselnya kembali bergetar dan memuat sebuah pesan yang sukses
membuat Soyoung mengalah mengikuti keinginan orang yang mengirimi pesan paksaan
padanya ini.
“keluar sekarang juga! Atau
aku akan menyeretmu dari ruang kerjamu!”
Tuhan,
aku pasti akan membunuh orang ini saat aku tahu siapa dia. Soyoung bersumpah
kesal. Dia segera membereskan semua rekam medis pasiennya, melepaskan jas putih
kedokteran dan meraih tasnya.
“Kau
sudah akan pulang, Dokter Lee? Tidak biasanya?” seseorang menginterupsi ketika
dia baru tiga langkah meninggalkan ruangannya. “Kau biasanya akan di rumah
sakit hingga larut malam, dan ini baru jam 5 sore? Kau mau kemana?” seorang
wanita cantik yang juga menggunakan jas kedokteran seperti Soyoung beranjak
mendekati gadis itu. “Jadi apakah, Dokter Lee terhormat ini ada jadwal
berkencan hingga meninggalkan kebiasaan lemburnya?” goda wanita cantik itu.
“Yaakk,,,
Im Jina-ya…” Soyoung berbalik dan menggeram kesal. Astaga sahabatnya ini
benar-benar senang menggodanya. “Aku harus pulang sekarang, ibuku memintaku
untuk menghadiri acara makan malam. Aku pulang bukan untuk berkencan!” bantahnya.
“Kenapa kau selalu membahas kencan denganku?” keluh Soyoung kemudian beranjak
pergi dengan Jina yang mengekorinya.
“Hahaha,,
Young-aa menggodamu adalah hal yang sangat menyenangkan untukku setelah semua
kegiatan memeriksa pasien selesai. Lagi pula ini hal yang menarik untukku, kau
selama 2 minggu ini selalu lembur dan hari ini memilih pulang lebih awal?
Bukankah itu hal yang langka?” seloroh Jina asal yang masih tersenyum geli
melihat raut wajah Soyoung. Tentu saja, Im Jina, sahabatnya sekaligus
sejawatnya di Bagian Anak ini sangat tahu kebiasaan Soyoung yang selalu lembur,
bahkan Soyoung seperti menunda waktu pulang kerjanya dengan berbagai alasan
memeriksa pasiennya. Jina tentu saja merasa heran, seorang Lee Soyoung yang
biasanya bekerja hingga larut malam, meninggalkan ruang kerja di sore hari. “Apa
ibumu sudah lelah menghadapi dirimu yang gila kerja dan mengadakan acara makan
malam untuk menjodohkanmu dengan seorang presdir tam….”
“Jina-ya.…”
potong Soyoung memberikan picingan berbahaya dari sudut matanya. “Astaga kalau
bukan karena ibuku yang meminta tidak mungkin aku datang, hanya saja malam ini
semua keluargaku mengharapkan kedatanganku.” Soyoung menghela napas berat dan
pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun mengenai acara makan malam keluarga
pada rekannya itu. Yah, untuk apa dia harus menjelaskan, toh acara makan malam
itu hanya untuk membicarakan rencana pertunangan Rae Ah bukan tentang dirinya.
“Kenapa jalanmu lambat sekali,
eoh? Cepatlah aku hampir mati kebosanan menunggumu!”
Sekali
lagi Soyoung mendengus kesal membaca pesan masuk dari layar ponselnya. Gadis
ini sedang menuruni tangga dan ponselnya terus saja bergetar membawa pesan
memerintahkan dia segera turun. Apa orang itu tidak tahu menuruni tangga dari
lantai 10 itu melelahkan? “Baiklah.. awas saja kau Donghae oppa, aku akan
benar-benar membunuhmu saat ini juga!” Soyoung mengomel sendiri sembari terus
menatapi layar ponselnya yang tak kunjung berhenti bergetar karena pesan masuk
dari nomor baru itu.
“Mobil silver! Tempat parkir
nomor 8 dekat gerbang.”
Soyoung mengedarkan matanya mencari mobil yang dimaksud dalam pesan yang masuk
ke ponselnya. Astaga apakah ini tidak bisa dipermudah? Untuk apa Donghae harus
memberi petunjuk-petunjuk tak berguna itu? Bukankah dia cukup menunggu di lobi
rumah sakit dan Soyoung dapat dengan mudah menghajar Oppanya itu.
“Aishh..
apa ini tidak bisa lebih mudah. Kau benar-benar ingin bermain-main denganku
Donghae oppa..” Soyoung beranjak mendekati sebuah mobil Audi R3 warna yang tepat terparkir di dekat gerbang. Dari
luar sudah dapat diperkirakan bahwa pemilik mobil itu memiliki selera yang
tinggi terhadap barang-barang berkelas. Soyoung mengetuk kaca hitam mobil
begitu dia sampai di sisi kiri mobil. Sungguh dia ingin tahu siapa manusia
pemaksa yang dengan tidak sabaran mengirimi belasan pesan ke ponselnya.
“Oppa…..”
seru gadis itu kesal. Tidak ada respon apapun dari dalam mobil. Bahkan keca
hitam itu tidak diturunkan sama sekali. Soyoung merasa jengah, “Buka atau aku
pulang naik bus saja!” kembali dia mengetuk kaca mobil itu. “Baiklah aku
pergi!” Soyoung memutar tubuhnya dan terkejut melihat seorang namja sudah
berdiri tegak di depannya. “KAU???”
~~~TBC~~~

