Cast : Kim Hyun Joong
Heo
Young Saeng
Kim
Kyu Jong
Park
Jung Min
Kim
Hyung Jun
Hwang
Ra Young (OC)
Kim
Eun Ah
Others : Choi Jong Hyuk (OC)
Mr. Black (OC)
Jung Seung Jun
Genre : Action, Romance, Drama
Author : RinPanda
Author POV
Tok tok tok~~~
“Tuan Muda bolehkah saya masuk?” terdengar suara seseorang bertanya sembari
mengetuk dari balik pintu mewah.
“Masuk!!!” jawab seorang pria yang dipanggil Tuan Muda tegas dengan suara
berat khas baritonnya.
Seorang pria paruh baya berpakaian rapi dengan jas hitam dan sebuah map
ditangannya memasuki ruangan tersebut. Pria itu berjalan dengan langkah tak
bersuara mendekat ke sebuah meja kerja besar yang berada di tengah ruangan. Di balik
meja itu terdapat sebuah kursi yang ditempati seorang pria yang tadi
dipanggilnya ‘Tuan Muda’ tengah membaca sesuatu dengan sangat serius. Dia
membungkukkan badan memberi salam pada ‘Tuan Muda’nya itu dengan sopan dan
penuh penghormatan.
“Tuan Muda, saya datang menghadap Anda untuk memberikan map yang berisikan rencana
untuk memenangkan tender mega proyek perusahan A&D Group dari Jepang.” Kata
pria paruh baya itu pada pria muda yang merupakan majikannya.
“Hmmm,, rupanya rencana mega proyek dengan perusahaan A&D Group sudah
selesai disusun.” Sambut sang Tuan Muda itu senang sambil menerima map dari
pria paruh baya yang berdiri di sampingnya.
“Lalu menurutmu perusahaan mana yang sekiranya akan menjadi pesaing terkuat
bagi perusahaan kita untuk mendapatkan tender ini?” sambung sang Tuan Muda. Tangannya
gesit membuka lembar demi lembar kertas yang nilainya lebih mahal dibanding
berlian sekalipun.
“Menurut perkiraan saya, perusahaan Dream Kim Corporation akan tetap
menjadi pesaing bisnis nomor satu bagi perusahaan kita, Tuan.” Jawab Jong Hyuk.
“Karena menurut pengamatan saya selama ini, perusahaan tersebut memiliki ambisi
yang sangat besar mengenai mega proyek yang direncanakan oleh perusahaan
A&D Group. Selain itu Dream Kim Corporation memiliki banyak orang-orang
yang sangat berkompeten dalam persaingan bisnis seperti ini.
Pria muda itu bangkit dari kursi kerja mewah yang sedari tadi didudukinya.
Dia berjalan menuju jendela yang terdapat di belakang kursi kerjanya. Jendela
besar yang langsung menyuguhkan pemandangan perkotaan yang sibuk dan
gedung-gedung yang menjulang tinggi dari Seoul. Tuan Muda itu berdiri tegak
membelakangi pegawainya, matanya menatap lurus ke arah luar jendela. Menatap
hamparan gedung bertingkat yang tingginya hampir menyamai tinggi gedung
perusahaannya ini.
“Dream Kim Corporation?? Perusahaan itu lagi rupanya!!!” dengusnya jengkel.
“Mereka memang tak pernah bosan menjadi pesaing tunggal perusahaan kita.”
“Ta,, tapi Tuan Muda kemungkinan besar perusahaan kitalah yang akan
memenangkan tender mega proyek ini, Tuan.” Ujar Jong Hyuk terbata-bata
menyadari suasana hati Tuan Mudanya itu berubah mendengar nama Dream Kim
Corporation. Bagaimanapun Jong Hyuk mengetahui bahwa Tuan Mudanya itu sangat
membenci Dream Kim Corporation.
“Hmm,, apapun yang terjadi Royal Park Company harus memenangkan tender ini.
Tuan Choi, bukankah 2 minggu lalu aku telah memerintahkanmu tugas besar untuk
menjegal Dream Kim Corporation?” tanya Tuan Muda penuh selidik. “Jangan katakan
padaku bila kau gagal menjalankan tugas yang aku perintahkan padamu, Tuan
Choi?” Pria Muda itu menatap Jong Hyuk dengan tatapan penuh kecurigaan dan
ekspresi wajah yang begitu menyeramkan.
“Bukan,, bukan seperti itu, Tuan! Sa,, saya sudah menyelesaikan tugas dari
Anda dengan sukses dan saya sudah memastikan sendiri bahwa tidak akan ada
kesalahan maupun kegagalan saat saya melaksanakan tugas tersebut.” Jawab Jong
Hyuk dengan kata-kata meyakinkan. “Hanya saja menurut anak buah saya, Dream Kim
Corporation memiliki Putra Mahkota yang sangat cerdas dalam bisnis dan akan
mewarisi semua aset kekayaan perusahaan itu, Tuan sehingga kemungkinan
perusahaan itu akan runtuh kecil”
“Hmmm…. Putra Mahkota pewaris Dream Kim Corporation? Ini menjadi sangat
menarik.” Desis Tuan Muda tersenyum licik. “Baiklah Tuan Choi aku percaya
padamu. Aku yakin kau takkan mengecewakan aku. Namun bila sampai kau
mengecewakan aku, aku sendiri yang akan menghabisi nyawamu!!!” ancam Tuan Muda
itu yang dengan cepat menodongkan pistol ke kepala Choi Jong Hyuk.
Choi Jong Hyuk hanya dapat mundur ketakutan melihat Tuan Muda nya
mengacungkan pistol tepat ke arah kepalanya. “Su,, su,, sungguh Tuan Muda! Sa,,
sa,, saya tidak berbohong. Saya tidak akan pernah mengecewakan Anda, Tuan!”
ibanya ketakutan.
“It’s okkay I trust you!! Kau dapat meninggalkan ruanganku sekarang, Tuan
Choi! Aku akan memanggilmu lagi bila aku membutuhkanmu.” Balas pria muda itu
menurunkan pistolnya, kemudian melemparkan pistol itu ke arah Jong Hyuk. “Dan
satu lagi, simpan itu! Itu hanyalah pistol mainan tidak berguna sedikitpun.”
Tambahnya lagi tersenyum senang melihat pegawainya itu ketakutan menangkap
pistol yang dia lemparkan.
“Saya permisi, Tuan!” Jong Hyuk membungkuk memberi salam dan segera
melangkah keluar meninggalkan ruangan Tuan Mudanya itu.
Setelah kepergian pelayannya pria itu kembali duduk dan membaca dengan
teliti baris demi baris berkas sebelum sebuah suara menyadarkannya…
Drrrrttt!!
Drrrrttt!!
“Yeoboseo!”
“…….”
“Ohh kau sudah di sana?? Ahhh hampir aku lupa.”
“…….”
“Nde, nde chagiya aku akan ke sana satu jam lagi. Tunggu aku nde.”
****
BAAANG~~~~
BAAANG~~~~
BAAANG~~~~
Suara letupan peluru mengenai sasaran tembak terdengar nyaring memenuhi
sebuah halaman kecil di bagian belakang rumah yang terlihat mewah namun
menyeramkan. Di hadapan sasaran tembak itu seorang pria berwajah datar tanpa
ekspresi memegang senjata laras pendek di tangan kanannya. Matanya menatap
tajam sasaran tembak yang baru saja dia hujani timah panas dari senjata yang
dipegangnya itu. Tubuh atletisnya berdiri tegak memperlihatkan otot-otot
terlatih yang mengagumkan.
Prook,, prook,, prook!!!!!
“Wooooooooouuuuuuuuwwwwww itu sangat luar biasa, Hyung!!! Kau keren sekali
my brother!!!” puji seorang lelaki yang terlihat dari wajahnya seperti seorang
anak kecil sambil heboh bertepuk tangan sendirian. Entah dari mana lelaki ini datang,
tiba-tiba saja dia sudah berdiri dan memandang kagum pria dingin itu menembak
sasaran tembaknya.
“Dari mana saja kau, Junie-ah semalaman tidak pulang??” balas lelaki itu
dingin sembari tangannya meletakkan pistolnya di atas sebuah meja yang berada
tak jauh dari tempatnya berdiri. “Kau pasti menghabiskan waktu untuk hal-hal
tak berguna lagi, kan?”
“Ahh.. ayolah Hyung aku ini anak muda jadi wajar bila aku berkeliaran
menggunakan masa-masa mudaku. Tidak seperti dirimu yang menggunakan waktumu
seperti mayat hidup” Jawab Hyung Jun tikus kecil yang entah dari mana datangnya
dengan santai.
“Benar-benar dongsaeng tidak punya sopan santun.” Kim Hyun Joong menjitak keras
kepala kepala adik lelakinya Kim Hyung Jun.
“Appoooooo!!!” jerit Hyung Jun kesakitan akibat jitakan keras kakaknya itu.
“Yaakk, Hyung kepalaku ini bernilai jutaan dolar seenaknya saja kau
menjitaknya.” Gerutunya jengkel.
“Sudah berapa kali kukatakan padamu jangan seenaknya berkeliaran di tengah
malam! Akan sangat berbahaya bila orang-orang tahu siapa dirimu.” Ujar Hyun
Joong jengah melihat kelakuan adiknya.
“Tenang my Bro aku tidak akan mengungkapkan identitasku.” Kata Hyung Jun
santai sambil menjentikkan jarinya dengan gaya hiphop berantakannya.
Drrrrrrttt!!
Drrrrrrttt!!
Terdengar suara ponsel berdering dari saku Kim Hyung Jun. Hyung Jun segera
menerima panggilan telepon dari ponselnya itu.
“Yeobosseo!! Kim Hyung Jun imnida” sambut Hyung Jun ramah memulai
pembicaraan telepon
“Dengan siapa saya berbicara?”
“Hyung Jun-ssi, berikan telepon ini pada kakakmu Hyun Joong sekarang!!”
balas seseorang bersuara serak di seberang telepon.
“Mwoya?” tanya Hyung Jun terkejut. “Nde arraseo, Mr!”
Hyung Jun segera memberikan ponselnya pada kakaknya Kim Hyun Joong. “Hyung,
ini ada telepon dari Boss! Sepertinya ada tugas baru untukmu Hyung.”
“Yeobosseo!!” sapa Hyun Joong datar.
“Hyun Joong-ssi ini kau?” tanya seseorang yang dipanggil ‘Boss’ itu.
“Nde, ige mwoya??”
“Aku punya tugas khusus untukmu, Hyun Joong-ssi. Besok malam kau harus
sudah melaksanakan tugas ini dan kau harus melakukannya dengan rapi tanpa
meninggalkan jejak sedikitpun.”
“Kau tidak perlu khawatir. Saya selalu berhasil dalam melaksanakan tugas
dan tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.”
“Hahaha~~ Aku tahu kau dapat kuandalkan.” Ujar pria itu dengan tertawa.
“Sekarang dengar targetmu adalah seorang pebisnis muda dari perusahaan besar.
Dia adalah pebisnis yang akan menggunakan berbagai cara untuk menjegal pesaing
bisnisnya. Aku dengar sebuah perusahaan besar dari Jepang tengah mengadakan tender
yang keuntungannya akan sangat mempengaruhi penjualan saham bagi perusahaan
yang memenangkan tender tersebut. Dan juga…”
“Langsung ke intinya saja!! Aku tidak berminat mengetahui tentang tender
itu!” potong Hyun Joong ketus. “Kau sebutkan siapa namanya dan kapan aku harus
membunuhnya.”
“Hahahahha,, sudah kuduga kau memang tidak sabaran Hyun Joong-ssi! Baiklah
Pria itu bernama Park Jung Min. Dia merupakan pewaris tunggal perusahaan Royal
Park Company. Tugasmu bunuh dia dalam dua hari ini dan pastikan kau melakukannya
tanpa kesalahan, Arra??”
“Baiklah!! Dalam waktu kurang dari 2 x 24 jam kau akan melihat mayatnya di
halaman pertama surat kabar.” Hyun Joong menutup telepon dan segera beranjak
meninggalkan tempatnya yang sekarang.
“Kau akan membunuh lagi, Hyung??” Hyung Jun yang sedari tadi hanya diam
tiba-tiba bersuara.
“Aku tidak setuju kau membunuh lagi. Tolong hentikanlah
pekerjaanmu itu.” Mata Hyung Jun yang mengiba menatap lurus lelaki yang
berjalan membelakanginya itu.
Mendengar kata-kata sang adik, Hyun Joong berhenti melangkah namun tidak
berpaling. Dia hanya mematung dan membisu.
“Kau tahu bukan aku tidak pernah setuju kau menjadi pembunuh bayaran.
Pekerjaanmu itu sangat berbahaya bukan hanya untuk orang lain namun untuk
dirimu sendiri.”
“Diamlah, Hyung Jun-ah!!” bantah Hyun Joong tegas. “Kau tak perlu ikut
campur dengan kehidupanku.”
“Bagaimana aku tidak ikut campur?? Kau kakakku satu-satunya tentu saja aku
akan ikut campur dengan kehidupanmu. Tolong hentikan sekarang juga, Hyung.”
“KUBILANG DIAM!!!” bentak Hyun Joong lagi.
“ANDWEE!! Kau tahu di luar sana mungkin banyak orang yang mengincar
nyawamu, Hyung. Bagaimana aku bisa diam kalau hidupmu dalam pengejaran orang
lain.”
“Sudah cukup rengekanmu itu?? Kalau sudah lebih baik kembali ke kamarmu dan
jangan berdebat lagi denganku.” Hyun Joong membalikkan badannya menatap Hyung
Jun tajam.
Kedua kakak-beradik ini meskipun ber-DNA sama namun mereka memiliki sifat
yang berbeda. Kim Hyun Joong sang kakak memiliki sikap dingin dan tak bisa
dibantah bahkan terkadang dia terasa sangat menyeramkan. Sedangkan Kim Hyung
Jun sang adik memiliki sikap ceria, manja meski terkadang bersikap sok dewasa. Namun
meski terlalu banyak perbedaan di antara mereka sebenarnya mereka saling menyayangi.
****
Sebuah limousin berwarna hitam mewah memasuki sebuah halaman luas yang
tertata apik dengan bunga-bunga dan pohon pinus menghiasinya. Limousin itu
melaju pelan dan berhenti dengan sempurna di depan sebuah rumah, tidak lebih
tepatnya sebuah puri megah dengan desain bergaya eropa yang sangat artistik.
Bagian depan puri megah itu terdapat pintu utama dengan ukiran mewah yang
memberi kesan mahal. Tidak lama keluar banyak pelayan dengan seragam berbaris
rapi dipimpin seorang kepala pelayan yang usia berkisar 50 tahunan.
Supir limousin segera turun dan mengitari setengah badan limousin dengan
cepat dan membuka pintu bagian belakang dengan sopan. Dari pintu itu turunlah
seorang pria muda berwajah tampan dan berbadan tegap. Ditilik dari pakaian yang
dia kenakan berupa kemeja yang dipadukan dengan tuksedo hitam dan sepatu
mengkilatnya menunjukkan sisi kebangsawanannya.
“Selamat datang, Tuan Muda!” sambut kepala pelayan dan membungkuk memberi
hormat pada sang pria muda itu. “Saya sangat senang dapat menyambut kepulangan
Anda ke Korea, Tuan.”
“Kau rupanya masih bertahan di sini, Ahjusshi.” Ucap lembut sang Tuan Muda
yang bernama Kim Kyu Jong. “Aku senang kau masih setia pada keluarga ini.” Pria
itu menepuk pelan bahu kepala pelayannya kemudian dengan mantap mulai
melangkahkan kakinya. Semua pelayan yang berbaris membungkuk memberi hormat
pada majikan mereka yang memasuki puri itu diikuti kepala pelayan di
belakangnya.
“Di mana adikku, Ahjusshi??” Kyu Jong melemparkan pandangannya ke seluruh
penjuru ruang tamu yang begitu mewah. “Mengapa dia tak menyambut kedatangan
kakaknya?? Apa kau tak memberi tahu bahwa hari ini aku akan pulang?”
“Maafkan saya, Tuan Muda, Agasshi sudah saya beri tahu sejak beberapa hari
lalu, namun Dia tetap tidak ingin keluar dari kamarnya.” Jawab Jung Seung Jun
kepala pelayan itu.
“Hmmm,, apakah dia masih seperti itu sejak dua minggu lalu??” Kyu Jong
menatap penasaran Seung Jun.
“Iya, Tuan Muda!” balas yang ditatap mantap. “Agasshi tetap bersikeras
tidak mau keluar, bahkan untuk 2 minggu ini pun Agasshi tidak masuk kuliah dan
tidak mau makan. Sejak kemarin malam hingga siang ini pun, Agasshi belum juga
menyentuh makanan yang dibawa ke kamarnya. Hal ini menyebabkan berat badan
Agasshi turun drastis dan kondisi kesehatannya memburuk karena Dia terus
bersedih dan menangis, Tuan.” Tambahnya panjang lebar.
Kyu Jong menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak mendengar semua
penjelasan kepala pelayannya itu. Dia sangat menyadari kesedihan yang dirasakan
adik semata wayangnya sejak peristiwa itu terjadi. Sebenarnya kesedihan itu
bukan hanya dirasakan adiknya, dia pun merasakan kesedihan yang sama, namun
hatinya merasa lebih sakit melihat kondisi adik kesayangannya yang semakin
memprihatinkan.
“Aku akan menemuinya sekarang, tolong kau siapkan makan siang untuk
Agasshi, Ahjusshi! Aku sendiri yang akan membujuknya makan.” Perintah Kyu Jong
setelah beberapa menit berpikir.
“Baik, Tuan.” Seung Jun segera memberi hormat dan melangkah mundur lalu
beranjak memberi perintah pada pelayan untuk menyiapkan makan siang atas
perintah Tuan Mudanya. Sementara Kyu Jong mengambil sebuah boneka teddy bear
berwarna coklat dari dalam tas yang dibawa pelayan lain dan melangkah menuju
kamar adiknya.
Tok,, tok,, tok,,
“Selamat siang, Agasshi! Apakah Anda ada di dalam?” seorang pelayan
perempuan mengetuk pintu sebuah kamar. Di belakang pelayan itu berdiri Kim Kyu
Jong yang dengan raut wajah murung menatap daun pintu yang tak kunjung dibuka.
“Agasshi, apakah Anda ada di dalam??” ulang si pelayan namun tetap tak terdengar
suara membalas dari dalam kamar.
Kyu Jong semakin cemas dan tak sabar sehingga dia sendiri yang mengetuk
pintunya. “Eun Ah-ah!!! Kim Eun Ah, kau ada di dalam??” serunya dengan suara
bergetar. Tangannya memegang dan segera memutar kenop pintu yang tak kunjung
dibuka. Begitu pintu terbuka Kyu Jong langsung masuk tanpa meminta izin pada
sang pemilik kamar.
Kyu Jong mengedarkan seluruh pandangannya menatap kamar yang bagaikan kamar
seorang putri raja. Dinding berwarna peach lembut, sebuah ranjang berukuran
King size dengan berbagai boneka di atasnya di sampingnya terdapat meja kecil
yang di atasnya terdapat kotak pemutar piringan hitam klasik yang masih
terawat, sebuah meja rias dengan cermin besar dan berbagai make-up tersusun
rapi di tempatnya. Serta sebuah sofa lengkap dengan mejanya yang dapat
digunakan untuk bersantai. Di sisi lain kamar itu, terdapat sebuah balkon yang
langsung mengarah ke taman menyuguhkan pemandangan alam yang indah. Tirai putih
lembut penutup balkon melambai-lambai mengikuti arah angin.
Dari balkon itu terlihat sesosok gadis cantik dengan rambut panjangnya yang
terurai melambai tertiup angin tengah duduk di sebuah ayunan di tengah balkon.
Wajah gadis itu terlihat pucat dan sendu, matanya bengkak dan menatap kosong
langit berawan. Kyu Jong tersenyum pahit melihat gadis muda di hadapannya itu.
Ya,, gadis muda yang dia panggil Kim Eun
Ah adalah adik kandung semata wayangnya. Dia berjalan pelan menghampiri Eun Ah
yang melamun dan berkata lembut,
“Annyeong Eun Ah-ah!” sapanya dengan suara bergetar berusaha tegar melihat
kondisi adiknya.
“Apa kabarmu uri dongsaeng??” Kyu Jong berjongkok di hadapan
Eun Ah, bibirnya menyunggingkan senyum manis meski matanya berkaca-kaca.
Dielusnya lembut rambut gadis di hadapannya itu.
“Kau tak rindu pada Oppa, Eun Ah-ah?? Oppa sudah pulang. Oppa ada di sini
menemanimu.”
Bola mata Eun Ah beralih menatap Kyu Jong yang tersenyum padanya. Tiba-tiba
air mata mengalir dari mata sayu gadis itu.
“Kyu Jong oppa!!!” Eun Ah berkata pelan dengan suara isakannya.
Kyu Jong bangkit dan segera memeluk adiknya. Dia menyesal telah
meninggalkan Eun Ah selama ini dan baru kembali saat adiknya berada dalam
kondisi yang mengenaskan.
“Mianhae,, jeongmal mianhae, Eun Ah-ah!!” Air mata Kyu Jong mengalir, dia
tak mampu lagi membendung kesedihannya. Segala rasa bersalah, luka dan
penyesalan yang selama ini menumpuk meluap bagaikan ombak laut yang mengamuk
menghancurkan rumah-rumah di tepi pantai.
“Jangan tinggalkan aku lagi, Oppa! Jangan tinggalkan aku sendiri. Ayah
sudah pergi, aku tidak ingin Oppa meninggalkan aku lagi.”
“Anniyo,, Oppa tidak akan meninggalkanmu lagi. Oppa akan selalu menemanimu
setiap hari. Mianhae Eun Ah-ah.”
Tanpa terasa dua manusia yang telah lama tak bertemu ini saling berpelukan
melepaskan semua perasaan mereka, hingga seseorang menyadarkan mereka dari
suasana mengharukan itu.
“Permisi, Tuan Muda! Permisi, Agasshi! Saya datang membawakan makan siang
untuk Eun Ah agasshi.” Ucap Seung Jun sopan sembari membungkukkan badan.
“Ahh, Ahjusshi gamshamnida.” Kyu Jong tersenyum simpul kemudian berdiri
menerima kereta dorong yang di bawa pelayan. Kyu Jong mendorong kereta dorong
berisikan berbagai macam hidangan yang menggugah selera ke hadapan adiknya lalu
duduk di samping Eun Ah.
“Eun Ah-ah, Oppa dengar dari Ahjusshi kau belum makan dari kemarin malam,
sekarang kau harus makan! Oppa akan menyuapimu.” Ujarnya lembut mengambil
piring berisi hidangan dan mengulurkan sesendok nasi ke hadapan Eun Ah. “Ayo
buka mulutmu! Makanan ini sangat enak.”
“Shireo, Oppa!” Eun Ah menggelengkan kepalanya pelan dan menutup
rapat-rapat bibir mungilnya.
“Kau harus makan! Kalau kau tak mau makan kau bisa sakit, Eun Ah-ah.”
“Shireo! Aku tidak lapar.”
“Eun Ah-ah,, ayolah sedikit saja.” Bujuk Kyu Jong lembut tetap bersabar
menghadapi adiknya. “Oppa tidak mau kau sakit.”
“Shireo!!”
“Baiklah, kalau kau tetap tidak mau makan, Oppa juga tidak akan makan!” Kyu
Jong meletakkan kembali piring ke atas kereta dorong.
“Oppa!”
“Mwoya??”
“Jangan seperti itu.”
“Lalu harus bagaimana?? Mana mungkin Oppa bisa enak-enak makan sedang kau
sendiri tidak makan. Jadi Oppa juga tidak akan sampai kau mau makan.”
“Yaa,, Oppa!! Baiklah aku akan makan. Tapi Oppa juga harus makan.”
“Nah itu baru adikku.” Kyu Jong tersenyum senang dan kembali menyendokkan
nasi pada Eun Ah. “Enak??”Eun Ah mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan kakaknya.
“Kau sudah pulang rupanya, Kyu.” Tiba-tiba sebuah suara lembut muncul dari
balik pintu. Seorang pria berparas cantik berdiri di ambang pintu dan tersenyum
manis melihat Kyu Jong.
“Ahh Young Saeng hyung!!” seru Kyu Jong senang. Dia bangkit dan segera
memberi pelukan pada Young Saeng. Mereka saling merangkul dan tertawa kecil
melepas rindu. Heo Young Saeng merupakan kakak sepupu dari Kim Kyu Jong. Selama
ini dia tinggal di puri keluarga Kim sementara kedua orang tuanya berada di
Paris, Perancis.
“Ottokhae jineseyo??”
“I’m fine, Hyung. Thank you.”
“Hmm.. apa aku mengganggu perjumpaan kalian?” tanya Young Saeng kemudian
sambil melirik Eun Ah yang entah sejak kapan menghentikan makannya.
“Anniyo! Aku hanya sedang membujuk Eun Ah makan. Aku khawatir karena Ahjusshi
bilang dia tidak mau makan. Ige mwoya, Hyung?”
“Ini sesuatu yang penting.” Ujar Young Saeng merendahkan suaranya. “Kita
tidak bisa membicarakannya di sini. Akan sangat berdampak negatif bila Eun Ah
mengetahui hal ini.” Young Saeng menatap Eun Ah yang kini berjalan gontai
mendekat ke tepi balkon.
“Temui aku di perpustakaan nanti akan kujelaskan semuanya.” Tambahnya lagi
kemudian membalikkan badan dan meninggalkan kamar Eun Ah.
*****
“Apa yang ingin kau bicarakan padaku, Hyung?” Kyu Jong memulai pembicaraan
pribadi seusai makan malam. Dia telah memastikan tidak ada orang lain yang
mendengar pembicaraan mereka bertiga termasuk Kim Eun Ah. Bertiga?? Ya Heo
Young Saeng, Kim Kyu Jong dan kepala pelayan keluarga Kim, Jung Seung Jun ada
di ruangan itu pula.
“Aku ingin membicarakan tentang kematian Kim Ahjusshi, Kyu.”
“Kematian Ayah??” Kyu Jong melebarkan matanya menatap Young Saeng terkejut.
“Ada apa?? Katakan padaku, Hyung apa yang telah menyebabkan kematian ayahku??”
“Tenanglah dulu aku belum selesai bicara.” Young Saeng mengangguk pada
Seung Jun dan pria paruh baya itu menyodorkan sebungkus bubuk yang entah bubuk
apa itu. Kyu Jong menoleh pada Young Saeng dengan penuh tanda tanya. Seakan mengerti
arti tatapan Kyu Jong, Young Saeng mulai berbicara.
“Itu bubuk Sianida! Atau lebih tepatnya racun sianida.”
“Ra,, racun??”
“Yah!! Racun sianida ditemukan di hidangan makan siang Ahjusshi 2 minggu
lalu. Aku telah melakukan uji laboratorium pada makan siang Ahjusshi di rumah
sakit, dan jenis racun sianida terdeteksi di dalam hidangan makan siangnya. Kau
tahu kan! Sianida merupakan racun yang sangat mematikan, bila masuk ke dalam
tubuh seseorang tak sampai 2 jam orang itu akan tewas.”
Kyu Jong menatap ngeri kakak sepupunya. Badannya bergetar hebat, dia tak
menyangka kematian ayahnya akan sangat mengenaskan. “Bagaimana bisa ada racun
dalam makanan ayah? Sedangkan semua makanan yang akan dimakan oleh anggota
keluarga ini akan terlebih dulu dicicipi pengawal.”
“Memang semua makanan yang dihidangkan sudah dicicipi pengawal namun tidak
pada makan siang Ahjusshi 2 minggu lalu. Ahjusshi 2 minggu lalu makan di sebuah
restoran dan hanya berdua bersama Eun Ah. Sepertinya ada seseorang yang memasukan
racun itu sebelum makanan disajikan pada Ahjusshi dan Eun Ah. Dan aku sudah
menyurun beberapa orang menyelidiki siapa orang terakhir yang menyajikan
makanan itu pada Ahjusshi.”
“Dan apa kau sudah mengetahui orang tersebut?”
Young Saeng mengangguk pelan. Seung Jun kemudian memberikan sebuah map
berwarna coklat pada Kyu Jong. “Apa ini??” Kyu Jong menerima map itu dengan
bingung.
“Buka saja. Di dalam map itu berisi identitas orang yang menyajikan makanan
dan memasukkan racun ke dalam makanan Ahjusshi.”
Kyu Jong membuka map dengan cepat dan matanya terbelalak membaca sebuah
nama “Choi Jong Hyuk?? Siapa Chai Jong Hyuk??”
“Choi Jong Hyuk. Dia adalah tangan kanan Presdir Royal Park Company.”
“Royal Park Company?? Hyung, maksudmu Royal Park Company adalah penyebab
utama kematian ayahku??”
“Cerdas!!” puji Young Saeng tersenyum simpul. Dia tahu adik sepupunya itu
jenius dan dapat dengan mudah menyimpulkan semua analisis yang ada.
“Apa ini masih bersangkutan dengan tender yang akan dibuka oleh A&D
Group dari Jepang itu?”
“Kau benar. Yang kudengar pewaris Royal Park Company sangatlah licik. Dia
akan menempuh berbagai cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.”
“Sial!!!” Kyu Jong melempar map itu dengan kasar. Wajahnya merah menahan
emosi dan sakit hati atas kenyataan yang terjadi.
“Takkan kubiarkan!! Takkan kubiarkan orang yang membunuh ayahku hidup
dengan nyaman. Aku akan membalaskan kematian ayahku. Aku akan membunuh orang
itu dengan tanganku sendiri.” Kyu Jong mengepalkan tangannya menahan emosi yang
meluap di otaknya. Semua rasa sakit, luka dan kesedihan atas kematian ayahnya
membuat emosinya berkobar, dan semua rasa itu berubah menjadi dendam yang
menuntut adanya pembalasan.
*****
TBC
Bagaimana kelanjutan kisah ini?? Apa yang akan terjadi kemudian?? Author
rasa ini akan menjadi misteri untuk part selanjutnya ;) so tetap sabar yah
menanti part selanjutnya J dan jangan lupa tinggalkan jejak, kritik dan saran untuk
kemajuan FF ini J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar